Tag Archives: summary

Presentation Summary: Bioskop Permata by Didi Mugitriman & Ardi Wilda Irawan

Oleh Saila Muti Rezcan
Ada yang berbeda dari presentasi foto dan diskusi rutin yang digelar oleh CEPHAS Photo Forum pada tanggal 27 Oktober 2010 kali ini. Jika pada forum-forum sebelumnya CEPHAS selalu menghadirkan satu orang dengan satu proyek fotonya, atau dua orang dengan masing-masing satu proyek fotonya, kali ini satu proyek foto dipresentasikan oleh dua orang. Bertempat di Angkringan Yayasan Umar Kayam, Sawitsari, Ardi Wilda dan Didi Mugitriman menghadirkan cerita tentang sebuah bioskop tua di Yogyakarta yang telah mati, Bioskop Permata.

 

Bioskop Permata

©Didi Mugitriman

Proyek foto ini berawal dari proyek tulisan tentang bioskop-bioskop tua di Yogyakarta garapan Ardi Wilda atau yang akrab disapa Awe untuk situs Jakartabeat.net. Selanjutnya, Awe mengajak Didi untuk ikut serta sebagai fotografer. Jadi, foto-foto yang ada di sini memang berangkat dari tulisan terlebih dahulu, ibaratnya, foto-foto Didi adalah dokumentasi visual dari tulisan Awe. Forum malam ini juga terasa lebih menarik karena turut hadir pula salah satu pegawai Bioskop Permata, Intan Winarni.

Forum dibuka dengan penjelasan singkat oleh Awe mengenai latar belakang pengerjaan proyek ini serta penyebab tutupnya Bioskop Permata per 1 Agustus lalu. Melalui proyek ini, Awe hanya ingin bercerita mengenai Bioskop Permata, sesuatu yang memiliki kedekatan dengan dirinya secara personal. Ia kemudian menjelaskan bahwa faktor penyebab tutupnya Bioskop Permata adalah kerugian yang terus-menerus serta sistem distribusi film yang ilegal.

Kemudian foto-foto Didi pun dipresentasikan. Melihat tiga puluh foto yang disajikan oleh Didi, mau tak mau kita diajak berpikir bahwa momen-momen yang terekam itu mungkin tak dapat lagi kita lihat secara langsung setelah bioskop ini tutup. Semua hanya akan menjadi kenangan dalam foto serta ingatan pada masing-masing orang yang mungkin memiliki kedekatan tersendiri dengan Bioskop Permata.

©Didi Mugitriman

Di antara tiga puluh foto yang dipresentasikan, satu foto yang paling menarik bagi saya adalah sebuah foto bagian dalam bioskop dari sisi samping. Tampak kursi-kursi untuk penonton yang terlihat sangat rapuh dan tua, serta layar bioskop yang putih dan tidak lagi menampilkan proyeksi dari roll-roll film di ruang pemutaran. Semua benda itu terasa sepi dan bisu, seperti seseorang yang telah pensiun dari pekerjaannya, lalu tak tahu akan berbuat apa. Sedih dan memilukan? Ya.

©Didi Mugitriman

Masalah bioskop tua bukanlah masalah yang sederhana. Kepemilikan lahan, manajemen perusahaan dan akuntabilitas yang kurang baik, serta biaya operasional yang jauh lebih besar dibandingkan keuntungan merupakan serangkaian faktor tutupnya bioskop-bioskop tua di Yogyakarta. Tentu saja, jika dibandingkan dengan bioskop-bioskop baru, kualitas manajemen Bioskop Permata sangat tertinggal jauh.

Namun mengingat sebagian besar masyarakat Indonesia berasal dari golongan menengah ke bawah, apakah nantinya mereka harus kehilangan akses hiburan yang terjangkau oleh daya ekonomi mereka jika pada akhirnya semua bioskop kelas dua di Indonesia ini tutup?

©Didi Mugitriman

Fenomena ini tak hanya terjadi di Yogyakarta, bahkan tak hanya di Indonesia. Kota-kota berubah semakin cepat. Di Manila, Filipina, banyak bioskop yang beralih fungsi menjadi gereja, café, bahkan tempat protitusi. Pun di Singapura, bioskop-bioskop tua banyak yang beralih fungsi menjadi galeri foto, café, dan public space lainnya. Semua dengan tetap mempertahankan bentuk gedung yang asli.

Mungkin jika memang masyarakat tidak lagi membutuhkan ruang bernama bioskop kelas dua, tempat-tempat tersebut dapat dialihfungsikan tanpa harus mengubah bentuk aslinya. Oleh siapa? Siapa saja yang peduli, agar tempat-tempat tersebut tidak hilang begitu saja menjadi lost space yang menimbulkan penderitaan nostalgik bagi orang-orang yang dekat dengannya.

©Didi Mugitriman

Presentation Summary: Trans Islam

Oleh: Saila Muti Rezcan

Saat ini transseksual masih merupakan hal yang tabu untuk dibicarakan secara gamblang. Disorientasi seksual masih merupakan “dosa” bagi sebagian besar masyarakat Indonesia. Mereka masih mendapatkan diskriminasi yang nyata pada sendi-sendi kehidupan bermasyarakat, misalnya saja hak untuk mendapatkan pekerjaan yang layak. Seolah-olah kesempatan untuk bekerja layaknya orang  normal langsung tertutup tepat saat mereka menyatakan bahwa mereka adalah transseksual. Stigma masyarakat yang mengatakan mereka imoral, membuat mereka terisolasi dari dunia dan dipaksa membangun dunianya sendiri. Mereka lantas membentuk sebuah kelompok, sebuah komunitas, yang menjalani hidup dengan caranya sendiri.

Rabu, 13 Oktober 2010 bertempat di Angkringan Yayasan Umar Kayam Sawitsari, CEPHAS Photo Forum mengajak teman-teman semua untuk menghadiri presentasi foto serta diskusi rutin bertajuk “Trans Islam” oleh Karolus Naga. Kali ini Naga menghadirkan cerita tentang Pondok Pesantren khusus transseksual bernama “Pesantren Senen-Kamis” yang berada di Notoyudan, Yogyakarta. Ia ingin bercerita bahwa bagaimanapun juga, transseksual tetaplah manusia, sama seperti kita.

 

© Budi N.D. Dharmawan

 

Maryani (48), paham betul bahwa pilihannya untuk menjadi transseksual bertentangan dengan ajaran Agama Islam. Namun saat ini ia menjalani keduanya: transseksual dan Islam. Ia mendirikan Pondok Pesantren “Senen-Kamis” karena ia menyadari, terlepas dari dosa-tidaknya pilihan tersebut, seorang transseksual pun tetap membutuhkan sesuatu untuk penyelamatan: agama. Untuk itu ia mencoba melakukan apa yang bisa ia lakukan untuk dirinya sendiri dan teman-temannya sesama transseksual, ia mencoba menyediakan media bagi mereka untuk belajar agama.

Foto-foto yang dihadirkan Naga memang tak banyak menunjukkan bagaimana mereka berkegiatan di Pondok Pesantren tersebut. Ia menghadirkan foto kehidupan mereka secara utuh: apa yang mereka lakukan sehari-hari, bagaimana mereka bekerja keras mencari uang, serta hubungan mereka dengan sesame manusia, baik yang transseksual maupun tidak.

Ada satu foto yang sangat menarik perhatian saya, yaitu foto di sebuah salon kecantikan milik salah satu anggota Pondok Pesantren yang menunjukkan bahwa seorang pelanggan salon tidak merasa risih sedikitpun saat harus dipotong rambutnya oleh kapster salon yang transseksual. Di belakangnya, malah terdapat beberapa anak muda tetangga yang asik membaca majalah di salon itu, tanpa ada ekspresi risih maupun takut. Mereka dapat menerima transseksual sebagai sesuatu yang biasa.

Melihat foto-foto Naga, kita seolah diajak untuk sudi melihat fenomena transseksual menggunakan kacamata penakar yang normal. Tidak buru-buru minus. Mereka hidup, beribadah, bekerja, berkegiatan sosial dan bahkan berkeluarga. Terkadang apa yang dilakukan oleh mereka justru jauh lebih manusiawi dibanding kelakuan manusia-manusia yang menyebut dirinya normal. Bayangkan saja, saat ini Maryani memiliki dua orang anak angkat, satu laki-laki dan satu perempuan. Yang perempuan ia adopsi sejak berusia satu jam setelah kelahiran, saat itu Ibu kandungnya ingin membuangnya. Lantas, mana yang lebih baik? Siapa yang imoral?

Mengutip sebuah hadits dari Abu Hurairah r.a, Rasulullah SAW bersabda, “Telah diampuni seorang wanita pezina yang lewat di depan anjing yang menjulurkan lidahnya pada sebuah sumur. Dia berkata, “Anjing ini hampir mati kehausan”. Lalu dilepasnya sepatunya lalu diikatnya dengan kerudungnya lalu diberinya minum. Maka diampuni wanita itu karena memberi minum.” (HR Bukhari)

Bukan berarti menjadi seorang pezina itu baik menurut Islam, namun yang perlu kita resapi bersama adalah, baik-buruknya sesuatu di mata Tuhan itu belum tentu sama dengan baik-buruknya sesuatu di mata manusia. Jadi, bukankah lebih baik kita semua masing-masing berkaca sebelum menilai sesuatu? Wallahu a’lam.

Presentation Summary: My Baby is Sleeping in the Miracle of Waves

Mulai saat ini, Cephas akan secara rutin menuliskan ringkasan tiap event presentasi yang kami adakan, disertai beberapa foto dari presentasi tersebut. Ringkasan ini dimungkinkan atas bantuan rekan Saila Muti Rezcan. Trims Saila! Semoga berguna bagi teman-teman yang berhalangan hadir karena waktu dan jarak. Selamat menikmati.

————–

Rabu, 1 September 2010 CEPHAS Photo Forum kembali menggelar sebuah presentasi foto dan diskusi. Bertempat di Angkringan Yayasan Umar Kayam Sawitsari, presentasi foto yang bertajuk “My Baby Is Sleeping in the Miracle of Waves” ini akan menyajikan dua presentasi foto masing-masing oleh Caroline Estrada Steiger dan suaminya, Erik Estrada.

©Erik Estrada

Presentasi diawali oleh karya street photography ber-setting Austria milik Erik. Dalam presentasi ini Erik menampilkan sejumlah foto yang didominasi oleh warna-warna soft atau bahkan hitam putih. Objek yang ia tampilkan sangat apa adanya, apa saja yang ia temui di jalan: pohon, taman, gereja, tangga, bahkan papan pengumuman. Foto-foto Erik terasa sangat personal dengan ciri khas: memiliki banyak ruang kosong atau negative space. Kesan yang menonjol ialah sepi, lengang dan asing namun terasa bebas dan jujur. Penonton seolah diajak untuk membuyarkan bayangan muluk-muluk tentang Austria, dan sebaliknya, Erik menyajikan Austria yang “lain”, yang mungkin tak pernah kita bayangkan sebelumnya. Jika diibaratkan sebuah film, mungkin foto-foto Erik yang terasa sepi adalah film tanpa dialog yang tetap mampu menyampaikan maksudnya dengan baik pada penonton. Inilah Austria dari sudut pandang Erik, foto-foto dengan cerita yang ia bangun sendiri.

©Erik Estrada

©Erik Estrada

©Erik Estrada

©Erik Estrada

Acara dilanjutkan dengan presentasi kedua oleh Caro. Di awal presentasi Caro sedikit menjelaskan bahwa foto-foto yang akan ia presentasikan merupakan foto tentang kehidupan Suku Bajau Laut di Kalimantan Utara (Malaysia), serta merupakan bagian dari proyek bukunya yang masih dalam tahap pengerjaan. Berbeda dari presentasi pertama, dalam presentasi Caro banyak ditampilkan foto yang terkesan ramai dan penuh kehidupan. Foto-foto Caro menceritakan banyak momen penting dalam hidup orang Suku Bajau seperti saat-saat mencari ikan untuk kebutuhan pangan, saat membuat alat-alat untuk menyelam dan menangkap ikan serta saat para perempuan berdandan menggunakan semacam bedak yang berasal dari beras tumbuk. Ada juga foto yang bercerita tentang ritual pernikahan orang Suku Bajau.

©Caroline Estrada-Steiger

©Caroline Estrada-Steiger

©Caroline Estrada-Steiger

Perbedaan yang menonjol dari foto Erik ialah, foto Caro tidak membuat ceritanya sendiri, cerita itu telah ada terlebih dahulu, lalu Caro membingkainya dalam foto. Jika foto Erik lebih banyak menampilkan objek non-manusia, maka foto Caro adalah sebaliknya. Dalam presentasinya Caro banyak memberikan informasi tambahan seperti bagaimana Suku Bajau laut ini hidup secara berpindah-pindah mengikuti perpindahan ikan-ikan di laut.

Sesi ke tiga merupakan sesi diskusi dan tanya jawab. Kembali pada foto-foto Erik, ia mengaku saat memotret sama sekali tidak memikirkan tentang konsep ruang kosong yang memberikan kesan sepi dan terasing. Ia hanya memotret begitu saja, kesan yang melekat pada foto mungkin akibat bawah sadarnya yang merasakan kesendirian saat berjalan di sebuah tempat yang asing tanpa teman.

Caro bercerita bahwa ia membutuhkan empat kali kunjungan dalam beberapa bulan untuk mengambil foto-foto itu, dan semua foto diambil menggunakan kamera analog, menghabiskan 300 roll film. Proyek buku yang sedang ia selesaikan ini merupakan media untuk berbagi pengalaman pribadinya selama berinteraksi dengan orang-orang Bajau Laut, ia tidak memiliki tujuan tertentu seperti penelitian atau semacamnya, ia murni hanya ingin berbagi apa yang ia lihat dan alami. “My Baby Is Sleeping in the Miracle of Waves” merupakan judul lagu tanpa syair yang sering dinyanyikan orang Bajau Laut.

©Caroline Estrada-Steiger

©Caroline Estrada-Steiger

Melihat dua presentasi oleh sepasang suami istri berbeda budaya yang baru saja menikah ini, kita diajak merasakan indahnya perbedaan. Foto Erik yang sepi dan milik Caro yang begitu hidup bukan menjadi masalah untuk dibandingkan mana yang lebih baik, namun justru saling melengkapi. Seperti halnya mereka berdua yang meski berlatar belakang budaya berbeda namun mampu bersatu dalam ikatan pernikahan. Selamat menempuh hidup baru!