Tag Archives: Erik Prasetya

Presentation Summary: Estetika Banal by Erik Prasetya

Ditulis oleh Saila Rezcan

Pembicaraan mengenai estetika dan etika dalam fotografi mungkin sudah sering kita dengar. Tak dapat dipungkiri bahwa prinsip-prinsip estetika dalam fotografi pada awalnya memang berkiblat pada pendahulunya: seni lukis. Namun demikian, pada zaman sekarang ini, di mana segala sesuatunya telah melebur, kemudian berbagai pakem yang ada tak dapat lagi dilihat secara kaku, masihkah batas-batas estetika seni lukis tersebut “mengungkung” fotografi?

Tema besar tersebut mengisi diskusi Cephas Photo Forum pada tanggal 27 November 2011 lalu, di Kelas Pagi Yogyakarta bersama dengan Erik Prasetya, fotografer senior yang telah menerbitkan buku fotonya: Jakarta Estetika Banal. Pada diskusi tersebut Erik memaparkan tentang “fungsi” fotografi yang bersifat menyingkap, sehingga sebuah foto menjadi tidak etis ketika ia mendahulukan estetika di atas penyingkapannya. Maka dari itu, sudah tidak zamannya lagi seorang fotografer mengejar nilai-nilai estetis semata dalam fotonya, apalagi saat ini sudah sangat banyak perangkat lunak yang mampu membantu menyelesaikan masalah-masalah estetis pada sebuah foto. Dengan kata lain, Erik mengajak para fotografer untuk “mendobrak” batasan nilai estetis dalam fotografi yang saat ini cenderung terpaku pada pakem-pakem dalam seni lukis. Walaupun tidak dapat lepas begitu saja dari akarnya, sudah saatnya fotografi berani membuat nilai estetikanya sendiri.

Satu contoh menarik adalah sebuah foto pemenang World Press Photo yang menampilkan seorang korban gempa bumi yang diangkut menggunakan sebuah tandu oleh beberapa personil militer. Mulai dari angle, komposisi hingga pencahayaan yang dipilih oleh fotografer tersebut demikian indah, seperti lukisan. Hal inilah yang kemudian dianggap Erik sebagai sebuah ketidaketisan, di mana sebuah peristiwa bencana sekalipun seolah tetap harus disampaikan dengan “indah”. Seolah-olah estetika justru didahulukan di atas penyingkapan. Pertanyaan selanjutnya adalah, apakah “indah” harus selalu yang seperti itu?

Contoh lain yang tak kalah menarik adalah sebuah foto karya Rony Zakaria yang sempat ditampilkan pada diskusi tersebut. Foto tersebut memiliki subjek dan komposisi yang menurut Erik tidak akan memenuhi syarat estetika pada lukisan, yang berarti juga, tidak akan ada pelukis yang akan membuat lukisan seperti itu, karena dinilai tidak indah dan tidak penting. Namun Erik secara pribadi sangat menyukai foto itu, foto yang menampilkan anak-anak bermain bola, ada beberapa bola yang melayang di udara, kemudian tampak kepala anak-anak tersebut yang juga bulat. Sepakat dengan hal tersebut, Kurniadi Widodo mengungkapakan sebuah kalimat yang kira-kira dapat menjawab kegelisahan tersebut: “You know it when you see it”. Sehingga pada akhirnya memang tidak ada jawaban yang umum, melainkan harus melihat kasus per kasus, foto per foto. Kita bisa merasakan dan menjelaskan mengapa sebuah foto kita anggap “bekerja” namun jawaban tersebut tidak dapat digunakan untuk foto yang lain. Hal ini menyiratkan bahwa estetika memang bukan sesuatu yang seharusnya di-pakem-kan, melainkan sesuatu yang demikian subjektif dan kontekstual.

Diskusi menjadi semakin menarik ketika Layung Buworo mempertanyakan bagaimana caranya fotografi dapat “menggeser” pakem estetika tersebut menjadi lebih bebas? Jika dalam kasus lukisan, perubahan dari realis ke abstrak banyak ditentukan oleh kritikus, lalu bagaimana dengan fotografi? Siapa dan apa yang akan mementukan perubahannya?

Mungkin memang sudah saatnya para fotografer membuat ukuran lain selain media atau lomba-lomba seperti World Press Photo, karena pada dasarnya mereka adalah orang-orang yang hendak “menjual” sesuatu, sehingga tak dapat lepas dari pasar. Paling tidak kita berusaha untuk memperkaya nilai-nilai estetika tersebut dengan sesuatu yang segar, tidak semata mengekor pada seni lukis. Beberapa hal yang dapat dilakukan adalah membuat buku projek personal, pameran serta diskusi-diskusi. Sudah saatnya fotografer tidak membatasi dirinya sendiri dengan ukuran-ukuran lama mengenai keindahan, karena bukankah (sekali lagi) keindahan itu subjektif? Dan secara naluriah, manusia memang selalu mencari dan menyukai keindahan, tentunya dengan ukurannya masing-masing.

Cephas Photo Forum Presentation: Estetika Banal by Erik Prasetya

Minggu, 27 November 2011 – 16.30 WIB
Rumah Kelas Pagi Yogyakarta
Prawirodirjan GM II / 1226
Jl. Brigjen Katamso, Yogyakarta

Erik Prasetya (lahir di Padang, 1958) adalah seorang juru foto yang sudah lama berkecimpung di dunia fotografi Indonesia, dengan karya-karya yang sudah dipublikasikan di banyak media cetak, baik nasional maupun internasional, juga berbagai pameran-pameran foto.

Karirnya bisa diruntut sejak ia masih menjadi mahasiswa Jurusan Tambang ITB, 1977, dan aktif di kegiatan panjat tebing sembari mengembangkan hobi fotografinya, yang membuatnya menjadi kontributor khusus petualangan di majalah Mutiara. Latar belakang ini membawanya bertemu banyak orang termasuk juru foto senior Ed Zoelverdi, hingga di tahun 1990-an Erik mulai menekuni esai foto untuk rubrik “Kamera” di majalah berita Tempo. Pada tahun 1997 ia juga sempet bekerja sebagai fixer untuk fotografer legendaris Sebastião Salgado yang pada saat itu tengah mengerjakan project fotonya di Indonesia. Saat ini Erik adalah pekerja lepas, pengajar di Institut Kesenian Jakarta, sambil tetap aktif berkarya termasuk untuk kepentingan ekspresi pribadi.

Di awal tahun ini Erik telah menerbitkan buku foto Jakarta: Estetika Banal yang berisi pandangan pribadinya terhadap kota Jakarta yang dituangkan lewat foto-foto yang ia buat di sana selama hampir 20 tahun terakhir.

Pada forum kali ini Erik akan menyampaikan dan mendiskusikan idenya mengenai estetika dalam fotografi yang mendasari pendekatan foto-fotonya dalam buku ini.

Resensi buku Jakarta: Estetika Banal bisa dibaca di sini.

——

Acara terbuka untuk umum dan gratis.

Review: Jakarta: Estetika Banal oleh Erik Prasetya

Artikel ini diterjemahkan dari tulisan asli di blog pribadi saya.

Akhirnya buku yang telah lama saya tunggu-tunggu ini saya dapatkan juga. Begitu saya membaca tweet Rony Zakaria yang baru saja membeli buku ini, pada hari berikutnya saya langsung menuju ke toko buku favorit saya untuk mengecek apakah buku tersebut sudah tersedia. Dan benar saja, ada tiga buah di sana. Dengan cepat saya ambil satu dan segera menuju kasir karena toh memang saya tidak punya uang lebih untuk membeli buku lain. Ketika akhirnya saya membuka-buka halaman buku ini, saya benar-benar terpukau. Seringkali, ketika harapan kita terlalu tinggi, pada akhirnya kita akan kecewa karena hal yang kita harapkan itu ternyata tidak sebaik yang kita kira. Tapi untungnya tidak demikian kasusnya dengan buku ini.

Estetika Banal pertama kali dipublikasikan dan diluncurkan pada bulan Desember lalu, membarengi sebuah pameran foto-foto dari buku ini di rangkaian acara Jakarta International Photo Summit 2010 (INTAKEs juga sempat memposting rangkuman diskusi dengan Erik Prasetya di acara “Through the Horizon of Seeing”). Namun ternyata pada saat itu buku riilnya sendiri belum terwujud, yang ada pada acara peluncuran tersebut hanya sebuah buku dummy. Barulah pada bulan Januari kemarin buku ini mulai masuk percetakan dan akhirnya dirilis.

Sebelum saya memulai resensi ini, ijinkan saya untuk menjelaskan kenapa saya sangat mengantisipasi kehadiran buku ini. Walaupun Erik Prasetya adalah fotografer kawakan yang dikenal luas, hingga saat ini Estetika Banal adalah satu-satunya buku foto darinya. Terakhir kali karya-karyanya bisa dilihat dalam bentuk buku adalah di tahun 2005 pada buku Yang Tercinta, yang merupakan hasil kolaborasi 8 orang fotografer. Setelah itu, saya baru melihat foto Erik lagi di katalog pameran Jakarta International Photo Summit 2007. Foto-fotonya di katalog inilah yang membuat saya semakin tertarik. Saya masih ingat ketika itu saya berpikir, “Inikah pionir street photography di Indonesia yang selama ini kita cari-cari?”

Ketika ketertarikan akan street photography di negeri ini mulai meningkat, kebanyakan praktisi-praktisi mudanya (termasuk saya) tahu dan belajar tentangnya melalui internet, terinspirasi oleh fotografer-fotografer legendaris dari luar negeri. Tentunya kita juga pernah bertanya-tanya apakah ada fotografer-fotografer lokal semacam ini, mereka yang mendokumentasikan kehidupan sehari-hari di kota-kota di Indonesia. Sayangnya keterbatasan informasi membuat kita sulit menemukan mereka. Terkadang kita menemukan beberapa foto lama yang menarik yang bisa kita lihat sebagai street photography, tetapi tidak ada informasi apapun tentang foto tersebut; apakah ia bagian dari project yang lebih besar dan lain sebagainya. Kurangnya informasi ini membuat kita akhirnya kembali menengok sumber-sumber luar negeri. Namun kemudian yang saya rasakan, mempelajari foto-foto hebat dari luar negeri itu ada kelemahannya juga: Hal-hal yang kita temui sehari-hari di sini sama sekali tidak sama dengan adegan-adegan yang ada di foto-foto favorit kita dari luar negeri. Segalanya berbeda. Terkadang sehabis pulang memotret, saya melihat foto-foto yang saya buat dan berpikir, “Apakah ini adegan yang cukup menarik? Apakah ini solusi paling efektif dari problem visual yang saya hadapi tadi? Bagaimana saya bisa tahu? Bagaimana ya seorang street photographer berpengalaman dari Indonesia akan memecahkan masalah visual seperti ini?” Sulit untuk menjawabnya ketika kita tidak memiliki preseden. Namun sekarang dengan terbitnya Estetika Banal, saya merasa bahwa kita akhirnya memiliki satu dasar pijakan yang kuat untuk berdiskusi, membandingkan, dan yang terpenting mengembangkan street photography dengan ‘rasa’ Indonesia.

Sekarang mari kita mulai membedah buku ini. Estetika Banal adalah narasi pribadi Erik akan Jakarta, kota yang telah ditinggalinya selama lebih dari 20 tahun—foto terlama di buku ini dibuat tahun 1990 sementara yang terbaru baru saja dibuat Oktober 2010 kemarin. Di tulisan pembuka untuk buku ini, pemerhati fotografi Firman Ichsan menulis bahwa melalui karya-karyanya, Erik “mengkritik pendekatan estetik klasik, bahkan menyatakan adanya estetika kelas menengah pada kebanyakan jurufoto yang cenderung voyeur atau romantik, kalau tidak eksotik—hal yang harus diatasi para jurufoto saat merekam satu situasi untuk mendapatkan keadaan yang sebenarnya.” Sejujurnya, untuk ukuran tahun 2011 topik ini terdengar agak ketinggalan jaman, karena pada saat ini justru sudah banyak sekali fotografer yang mengangkat topik-topik dari domain pribadi di karya-karya mereka ketimbang berusaha menunjukkan/menjelaskan sesuatu yang eksotik. Mungkinkah topik ini tetap diangkat karena di bidang dokumenter dan fotojurnalistik Indonesia isu ini dianggap masih cukup lazim ditemui? Namun demikian, harus dimengerti juga bahwa Erik telah memulai menggarap project buku ini selama satu dekade lebih, sehingga buku ini tetap bisa dilihat sebagai sebuah opini yang relevan di jamannya, yang sayangnya keluar agak terlambat.

Poin lain yang menarik adalah, menurut saya bagaimanapun kita masih akan tetap bisa dituduh melakukan voyeurisme selama kita masih memotret orang lain. Namun Erik berargumen, bahwa ia tidak memotret Yang Lain, karena subyek-subyek yang ia potret berasal dari latar belakang/kelas sosial yang sama dengannya. Apakah hal ini memecahkan masalah, itu terserah anda untuk menilainya. Yang jelas, cara ia memotret Jakarta terlihat alami dan tidak dipaksakan. Saya sendiri sempat tinggal di Jakarta meski tidak cukup lama (1996-2000), dan menurut saya Erik berhasil menangkap atmosfer kota ini di foto-fotonya. Dia memang tidak menyentuh aspek-aspek ekstrim tertinggi dan terendah dari kota ini, tapi hal-hal yang dia pilih untuk diangkat, cukup bisa menyampaikan cerita dan pendapatnya.

Buku ini terdiri dari delapan bab, dimana setiap bab tidak berjudul, namun ditandai oleh sepotong puisi yang memulai sebuah bab baru. Perkawinan antara foto dan kata-kata buat saya adalah sesuatu yang sangat sulit dilakukan, karena seringkali salah satunya akan membebani yang lain. Tapi hal itu tidak terjadi di sini. Potongan-potongan puisi yang dipilih, walaupun pendek, dengan cantik menciptakan sebuah nuansa yang spesifik untuk foto-foto yang mengikutinya. Mereka menggelitik keingintahuan, tanpa benar-benar menggambarkan foto-fotonya sehingga pengalaman yang kita dapat dalam menikmati buku ini tidak rusak. Puisi-puisi ini bisa dinikmati dalam keseluruhannya di akhir buku.

Foto-foto dalam buku ini sendiri pun memang sudah sangat kuat. Dan yang paling menarik perhatian saya, tidak hanya foto-foto ini kuat berdiri sendiri, mereka juga tetap kohesif ketika dilihat secara keseluruhan. Jelas sekali banyak pertimbangan yang telah dilalui dalam proses penyuntingannya. Walaupun sebenarnya tidak ada ‘cerita’ di sini, tapi pengurutan foto-fotonya memberi sugesti adanya narasi di sini, yang dimulai dari semata-mata deskripsi akan kota Jakarta di bab-bab awal, hingga pelan-pelan menjadi pernyataan yang subyektif dari sang penulis akan kota itu dan perkembangannya yang bisa dilihat dari wajah-wajah penduduknya di bab-bab akhir. Tiap foto memiliki caption, dan walau sebagian besar dari caption foto tersebut hanya menunjukkan lokasi dan tahun di mana fotonya dibuat, ada juga caption yang memberi tambahan informasi menarik yang tidak hanya secara obyektif menjelaskan situasi yang ada di foto namun juga hal-hal menarik lain di sekeliling pembuatan foto tersebut, memberikan makna tambahan yang lebih luas padanya.

Dalam skala yang lebih kecil, banyak juga pasangan foto di dua halaman yang berhadapan yang menarik, sebagian karena adanya kesamaan elemen visual ataupun hubungan jukstaposisi di antara mereka, sebagian lagi karena timbulnya cerita mini akibat foto-foto komplementer yang berdampingan. Sebagian sampel dari foto-fotonya saya tampilkan di sini. Ini buku yang bisa tetap dinikmati walau dilihat berulang-ulang.

Berdasarkan semua hal yang saya sebutkan di atas, buat saya ini adalah buku yang harus dimiliki oleh peminat street photography di tanah air, atau penggemar buku foto apapun. Saya bukan orang yang berpengetahuan luas di bidang buku foto, namun saya merasa buku ini nantinya akan bisa dilihat sebagai suatu tonggak sejarah dalam perkembangan fotografi di negeri ini. Setidaknya, sebagai fotografer yang juga tengah berusaha untuk mendokumentasikan sebuah kota yang sudah saya anggap kampung halaman, saya merasa belajar banyak dari buku ini.

 

Jakarta: Estetika Banal
Kepustakaan Populer Gramedia, bekerjasama dengan Dewan Kesenian Jakarta
Hardcover 192 halaman; 30cm x 24cm
Rp 175.000