Presentation Summary: Doni Maulistya + Michael Eko

Ditulis oleh Saila M. Rezcan

Setelah hiatus yang cukup panjang, Cephas Photo Forum (CPF) akhirnya menggelar presentasi kembali pada 29 Januari 2013 lalu, dengan menghadirkan dua projek sekaligus. Projek-projek tersebut adalah milik Doni Maulistya dan Michael Eko, dua dari pendiri CPF sendiri. Forum perdana tahun 2013 ini bertempat di Rumah Kelas Pagi Yogyakarta.

Presentasi foto Doni Maulistya dan Michael Eko di KPY, Januari 2013. Foto: Budi N.D. Dharmawan untuk Cephas Photo Forum

Presentasi foto Doni Maulistya dan Michael Eko di KPY, Januari 2013. Foto: Budi N.D. Dharmawan untuk Cephas Photo Forum

Souvenir of Happiness
Projek pertama berjudul We Are Happy Here, merupakan oleh-oleh Doni Maulistya (Aul) yang mengikuti sebuah program residensi seniman di Objectifs Centre for Photography and Filmmaking di Singapura pada pertengahan 2012 lalu. Dalam program tersebut, Aul berproses selama satu bulan kemudian membuat sebuah pameran sebagai penutup.

Doni Maulistya. Foto: Budi N.D. Dharmawan untuk Cephas Photo Forum

Doni Maulistya. Foto: Budi N.D. Dharmawan untuk Cephas Photo Forum

Ketika menjalani residensi, Aul mendapati sebuah hal menarik tentang konsep kebahagiaan pada masa lalu. Konon, masyarakat Tionghoa Singapura pada tahun 1950-an memiliki tradisi untuk membagikan kebahagiaannya pada orang lain melalui foto. Pada momen-momen membahagiakan seperti kelulusan, pernikahan dan ulang tahun anak, mereka akan membuat sebuah potret yang menunjukkan momen tersebut, kemudian mencetaknya dalam jumlah banyak. Setelah itu, mereka menuliskan pesan di baliknya mengenai momen bahagia itu, dan ingin membagikan kebahagiaan tersebut kepada si penerima foto. Foto bertuliskan pesan tersebut dikenal sebagai souvenir of happiness. Memang, pada saat itu masyarakat Tionghoa Singapura memiliki pantangan untuk menunjukkan kesedihan pada orang lain.

Berkat temuannya itulah Aul lantas memiliki ide untuk mereproduksi souvenir of happiness yang ia dapat dari sebuah toko barang bekas. Mulanya, Aul memang telah merencanakan sebuah projek (dalam proposal yang ia buat) yang berhubungan dengan konsep tersebut, yakni foto sebagai suvenir. Ia mencari beberapa tenaga kerja yang berasal dari luar Singapura yang bersedia memberikan fotonya atau bersedia dipotret. Kemudian mereka diminta untuk menuliskan semacam surat untuk keluarganya di rumah di balik foto tersebut, seolah-olah foto-foto itu hendak dikirim ke kampung halamannya.

© Doni Maulistya

© Doni Maulistya

© Doni Maulistya

© Doni Maulistya

© Doni Maulistya

© Doni Maulistya

Rencana ini sudah berjalan ketika Aul menemukan fakta mengenai souvenir of happiness tadi. Akhirnya ia mengerjakan keduanya. Pada foto-foto lama yang ia temukan di toko barang bekas, Aul menambahkan tulisan “We’re Happy Here”, yang sekaligus sebagai judul dari projek tersebut. Tulisan ini, katanya, ia maksudkan sebagai “pengganti” tulisan asli di balik foto-foto tersebut yang ditulis menggunakan huruf China lama. Tujuannya semata-mata untuk memudahkan pembacaan atas maksud projek tersebut, karena pada dasarnya, tulisan-tulisan tersebut bernada sama, yaitu mengabarkan kebahagiaan dan hendak membaginya.

Dalam forum diskusi tersebut, banyak yang berkomentar bahwa temuan Aul justru jauh lebih menarik dari projeknya sendiri. Selain itu, projek tersebut pun dinilai masih memiliki banyak kemungkinan eksplorasi. Bagi Aul sendiri, pengalamannya mengikuti residensi dari Objectifs tersebut tidak semata-mata mengerjakan sebuah projek dan mendapatkan kesempatan jalan-jalan ke luar negeri gratis. Namun ia menemukan hal lain, bahwa di negara se-membosankan Singapura pun ia dapat menemukan orang-orang yang menarik dan “gila”. Jadi, siapa yang akan berangkat ke Singapura selanjutnya?

Presentasi foto Doni Maulistya dan Michael Eko di KPY, Januari 2013. Foto: Budi N.D. Dharmawan untuk Cephas Photo Forum

Seto Hari Wibowo mengisahkan pengalamannya ketika bekerja untuk LSM lingkungan di Kalimantan beberapa tahun sebelumnya. Presentasi foto Doni Maulistya dan Michael Eko di KPY, Januari 2013. Foto: Budi N.D. Dharmawan untuk Cephas Photo Forum

Presentasi foto Doni Maulistya dan Michael Eko di KPY, Januari 2013. Foto: Budi N.D. Dharmawan untuk Cephas Photo Forum

Presentasi foto Doni Maulistya dan Michael Eko di KPY, Januari 2013. Foto: Budi N.D. Dharmawan untuk Cephas Photo Forum

Everyday Borneo
Projek kedua yang dipresentasikan pada diskusi ini masih merupakan semacam raw material tentang Borneo. Michael Eko (Mike) sendiri mengakui bahwa ia memang belum menentukan topik yang spesifik mengenai projek ini. Selama beberapa tahun ini, ia hanya memotret apa yang baginya menarik untuk dipotret. Karena itulah, foto-fotonya pun sangat beragam dan malah terkesan tidak dalam.

Michael Eko. Foto: Budi N.D. Dharmawan untuk Cephas Photo Forum

Michael Eko. Foto: Budi N.D. Dharmawan untuk Cephas Photo Forum

Sebenarnya Mike telah melakukan seleksi kecil untuk mengelompokkan foto-fotonya ke dalam beberapa topik yang lebih kecil, misalnya mengenai migrant workers, tiga level kawasan (pabrik, dekat pabrik, dan jauh dari pabrik), penebangan hutan, serta kehidupan suku Dayak. Namun demikian, pembagian tersebut kesannya jadi sia-sia, ketika ia ingin membicarakan semuanya dalam satu projek sekaligus.


© Michael Eko Hardianto

Mungkin hal ini terjadi karena sejak awal Mike memang tidak membuat perencanaan yang ketat untuk projeknya. Alasannya, ia tidak ingin terjebak dalam cara pandang media pada umumnya ketika melihat Kalimantan. Ia ingin memotret Kalimantan secara apa adanya, tanpa framing yang terkesan menghakimi. Bisa jadi, hal itulah yang justru membuat ia terlena dengan cara kerja “foto dulu, susun belakangan.” Akibatnya, foto-fotonya jadi tak terarah dan tidak membentuk satu kesatuan yang dapat dinikmati dengan nyaman.

Dalam diskusi tersebut, banyak muncul masukan yang bermanfaat untuk Mike, salah satunya adalah mengubah cara pandang yang “mengharuskan” untuk memiliki stand point di dalam membuat projek, menjadi tidak sama sekali. Sebagai referensi, ada hadirin yang menyampaikan soal projek Peter DiCampo dan Austin Merrill berjudul Everyday Africa. Di dalam projek tersebut, semangat yang diusung DiCampo dan Merrill sangat mirip dengan apa yang dipikirkan Mike, yakni ingin menampilkan sebuah tempat dengan cara yang berbeda. Afrika (juga Kalimantan) kerap ditampilkan sisi ekstremnya oleh media berita, namun apa yang sesungguhnya terjadi sehari-hari jarang kita lihat. Sisi ini yang coba untuk ditampilkan; tidak menghakimi, tidak melihatnya sebagai sesuatu yang eksotis.

Akiq A.W. menyampaikan komentar di tengah presentasi foto Doni Maulistya dan Michael Eko di KPY, Januari 2013. Foto: Budi N.D. Dharmawan untuk Cephas Photo Forum

Akiq A.W. menyampaikan komentar di tengah presentasi foto Doni Maulistya dan Michael Eko di KPY, Januari 2013. Foto: Budi N.D. Dharmawan untuk Cephas Photo Forum

Presentasi foto Doni Maulistya dan Michael Eko di KPY, Januari 2013. Foto: Budi N.D. Dharmawan untuk Cephas Photo Forum

Presentasi foto Doni Maulistya dan Michael Eko di KPY, Januari 2013. Foto: Budi N.D. Dharmawan untuk Cephas Photo Forum

Dengan gagasan demikian, tentu konsekuensi yang harus dilakukan Mike, sebagaimana ditekankan oleh hadirin lain, adalah tinggal dalam kurun waktu yang cukup lama di Kalimantan, karena hanya dengan cara tersebut ia dapat melihat Kalimantan yang “biasa”, bukan kalimantan yang terlihat dari mata seorang turis. Good luck untuk Mike!

Cephas Photo Forum Presentation: Doni Maulistya + Michael Eko

god please gimme the wind blow

CEPHAS PHOTO FORUM kembali menggelar presentasi dan diskusi fotografi. Kali ini, kami menampilkan dua presenter, Doni Maulistya dan Michael Eko, dua dari delapan pendiri Cephas Photo Forum sendiri.

***

DONI MAULISTYA lahir di Yogyakarta pada 1987, pernah menjadi mahasiswa Jurusan Fotografi di ISI, namun memutuskan berhenti pada 2008. Aul mengikuti Angkor Photo Workshop pada 2009 di Kamboja dan Foundry Photojournalism Workshop pada 2010 di Turki. Aul kemudian lebih memilih menjadi seorang seniman.

Pada pertengahan 2012, Aul mengikuti sebuah program residensi seniman di Objectifs Centre for Photography and Filmmaking di Singapura. Setelah sebulan berproses, Aul menutup residensinya dengan sebuah pameran. Karya-karya residensinya kini sedang dipamerkan kembali di Yogyakarta. Di dalam presentasi ini, Aul akan berbagi pengalaman selama residensi di Singapura.

***

MICHAEL EKO kali pertama mendarat di Pulau Kalimantan pada 2007. Saat itu, penduduk lokal berkata, bahwa ketika seorang pendatang meminum air Sungai Kapuas, ia akan kembali lagi. Awalnya, ia kurang percaya, namun kehidupan berkata lain. Pada tahun-tahun berikutnya, ia banyak melakukan perjalan ke pulau ini: memotret dan jatuh cinta dengan alam serta kebudayaan masyarakatnya yang kaya. Hingga saat ini ia masih memotret Pulau Kalimantan sebagai projek personal jangka panjangnya.

Borneo adalah pulau terbesar ketiga di dunia, setelah Greenland dan Papua. Kalimantan dikarunia kekayaan yang melimpah, dari keanekaragaman hayati hingga sumber daya alam yang tersimpan di perut bumi. Ironisnya, saat ini Kalimantan berhadapan dengan banyak ancaman dan tantangan. Pada presentasi ini, Mike akan memperlihatkan gambar-gambar hasil perjumpaannya dengan kehidupan di pulau ini selama beberapa tahun. Projek fotografi ini masih berlangsung dan masih terbuka dengan kemungkinan-kemungkinan yang akan terjadi.

***

Selasa, 29 Januari 2013, 18.00
Rumah Kelas Pagi Yogyakarta
Jalan Brigjen Katamso, GM II/1226
Yogyakarta

Presentasi ini terbuka untuk umum dan tidak dipungut biaya.

Jejak gula di bekas Kerajaan Belanda: Melihat kembali kolonialisme dan membayangkan globalisasi melalui fotografi

Sebuah catatan oleh Budi N.D. Dharmawan

01

Awalnya, saya kira pameran The Sweet and Sour Story of Sugar hanya akan memajang foto-foto karya Tomasz Tomaszewski (Polandia), Ed Kashi (A.S.), James Whitlow Delano (A.S./Jepang), Alejandro Chaskielberg (Argentina), Carl De Keyzer (Belgia), dan Fransesco Zizola (Italia). Mereka berenam ditugasi lembaga fotografi Noorderlicht, yang berbasis di Gröningen, untuk memfoto industri gula di negara-negara bekas jajahan Belanda. Misinya, untuk menyelidiki peristiwa globalisasi melalui gula, komoditas pertama yang diperdagangkan lintas benua.

Pada 2011, keenam jurufoto itu berangkat ke Indonesia, Suriname, Brasil, dan Belanda. Masing-masing jurufoto mengunjungi dua negara: Tomaszewski ke Indonesia dan Belanda; Kashi dan Zizola ke Brasil dan Belanda; Delano dan Chaskielberg ke Suriname dan Belanda; serta De Keyzer ke Indonesia dan Belgia. Pada akhir penugasan, setiap jurufoto diminta mengumpulkan sejumlah foto hasil bidikannya dari masing-masing negara kepada Noorderlicht.

Yang baru kemudian saya ketahui, selain memamerkan foto-foto tersebut, Noorderlicht juga menyediakan foto-foto lama tentang industri gula pada masa kolonisasi Belanda, bertarikh akhir abad ke-19 hingga awal abad ke-20. Di dalam pameran yang diadakan di Langgeng Art Foundation, Yogyakarta, foto-foto kolonial yang dipinjam dari sejumlah museum tersebut dipajang di galeri bawah, sementara foto-foto baru dipajang di galeri atas.

Foto-foto baru karya Tomaszewski, Kashi, De Keyzer, Delano, Chaskielberg, dan Zizola dipamerkan di galeri atas. Foto: Budi N.D. Dharmawan

Foto-foto baru karya Tomaszewski, Kashi, De Keyzer, Delano, Chaskielberg, dan Zizola dipamerkan di galeri atas. Foto: Budi N.D. Dharmawan

Foto-foto arsip yang dipinjam oleh Noorderlicht dari sejumlah lembaga dan museum dipamerkan di galeri bawah. Foto: Budi N.D. Dharmawan

Foto-foto arsip yang dipinjam oleh Noorderlicht dari sejumlah lembaga dan museum dipamerkan di galeri bawah. Foto: Budi N.D. Dharmawan

Yang juga baru saya ketahui ketika pameran berlangsung, Noorderlicht bertindak sebagai pengumpul materi saja, sementara presentasi karya diserahkan kepada kurator lokal, yang di Yogyakarta dipasrahkan kepada Akiq A.W. dan MES 56, sebuah kelompok seniman berbasis medium fotografi. Kurator lokal diberi kebebasan untuk mengubah, mengurangi, atau menambahkan materi yang disediakan, serta meletakkannya pada konteks lokal sesuai pemahaman mereka. Dengan demikian, presentasi karya pada setiap pameran bisa berbeda. Pameran serupa di Jakarta, yang ditangani oleh kelompok seniman Ruang Rupa, misalnya, sangat berbeda dari pameran di Yogyakarta.

02

Dari ratusan foto yang disediakan, Akiq A.W. memilih 177 foto baru dan 143 foto arsip untuk dipamerkan. Foto-foto arsip (paling lama 1878 dan paling baru 1940) diurutkan berdasarkan negara tempat foto diambil, sementara foto-foto baru disusun berdasarkan topik yang terbaca oleh kurator—tidak berdasarkan negara ataupun jurufoto penciptanya. Di dalam pengantar kuratorialnya, Akiq memaparkan keputusannya membagi pameran ini menjadi empat subtema: (1) warisan industri gula era kolonial, (2) industri gula dan hubungan kuasa, (3) teknologi pengolahan gula, dan (4) produk-produk turunan gula.

Di dalam mengurasi pameran ini, Akiq mencoba melakukan pembacaan kritis tentang hubungan Subjek dan Objek, khususnya terkait dengan kolonialisme. Menurut Akiq, negara-negara bekas jajahan Belanda yang difoto masih “dijajah” lagi karena Noorderlicht tidak menyertakan satu pun jurufoto lokal untuk memfoto negaranya sendiri. Negara-negara ini masih harus dicitrakan menurut mata asing yang melihatnya, dan bukan mata anak negerinya sendiri.

Pun menyoal kolonialisme di dalam konteks penjajahan Belanda seabad yang lalu, foto-foto arsip yang dipamerkan memberi kita kesempatan untuk melihat kembali soal-soal seputar penjajahan: Soal hubungan sosial kompeni dengan pribumi, soal gestur tubuh yang menyiratkan hubungan kuasa, soal pembangunan dan penguasaan teknologi, juga soal Politik Etis, yang diwujudkan dengan pendidikan bagi pribumi, di samping irigasi dan transmigrasi, dan sebagainya.

Di dalam menata letak foto-foto baru, Akiq juga menekankan pembacaannya soal Barat dan Timur: Betapa di Barat industri gula demikian maju secara teknis dan pembahasan gula dilakukan di dalam rapat parlemen, sementara di Timur kita masih memakai mesin yang sama dengan seabad yang lalu dan kita menyembelih sapi dan kerbau sebelum mulai masa giling tebu. Hubungan Barat dan Timur ini pun terbaca di dalam foto-foto arsip, di mana bangsa Barat (Eropa atau penjajah) tergambarkan berposisi lebih tinggi atau lebih terhormat terhadap bangsa Timur (terjajah).

Yang juga menarik dari foto-foto baru karya enam jurufoto kenamaan itu adalah bahwa seolah-olah masing-masing jurufoto saling melengkapi di dalam membangun narasi soal gula ini. Chaskielberg, misalnya, memanfaatkan cahaya bulan untuk mencapai visualisasi warna-warni yang dramatis dari puing dan sisa bangunan pabrik gula yang tidak beroperasi lagi di Suriname. Delano, dengan foto hitam-putihnya, menggunakan teknik cetak yang membuat fotonya tidak kalah dramatis dengan foto Chaskielberg. Hanya saja pendekatan Delano lebih antropologis, dengan mengikuti orang-orang yang dahulu bekerja di pabrik gula di Suriname dan Belanda.

Potret-potret karya Francesco Zizola. Foto: Budi N.D. Dharmawan

Potret-potret karya Francesco Zizola. Foto: Budi N.D. Dharmawan

Zizola membuat sejumlah potret pekerja pabrik gula, yang kemudian memberi wajah kepada kisah tentang gula ini secara keseluruhan. De Keyzer dan Kashi menggambarkan penggunaan gula masa kini: roti, kue, dan gula-gula. Kashi dan Zizola memfoto industri gula di Brasil dan Belanda yang telah mengalami modernisasi: Pekerja kebun berseragam, pemupukan dilakukan menggunakan alat tanpa peraga, mesin giling dikendalikan dengan komputer, serta pabrik yang terang dan bersih. Di Indonesia, Tomaszewski mendokumentasikan upacara selamatan yang menandakan dimulainya masa giling tebu dan mengabadikan mesin-mesin tua yang masih digunakan untuk menggiling tebu.

03

Kisah gula di Indonesia sesungguhnya sudah dimulai sejak jauh sebelum Belanda datang ke wilayah Nusantara. Tebu masuk ke Nusantara dibawa oleh pendatang dari Cina pada abad ke-15. Pendatang dari Cina ini pula yang lantas mulai membuat pabrik gula di Jawa. Bahkan pada masa penjajahan Belanda, banyak pabrik gula sesungguhnya dimiliki orang Cina, dan bukan Eropa. Selama abad ke-18, industri gula di Jawa mengalami penurunan. Pada 1710, ada 130 pabrik gula beroperasi di Jawa. Jumlahnya menurun menjadi 55 saja pada 1776.

Upacara selamatan sebelum memulai masa giling tebu di sejumlah pabrik gula di Jawa, karya Tomasz Tomaszewski. Foto: Budi N.D. Dharmawan

Upacara selamatan sebelum memulai masa giling tebu di sejumlah pabrik gula di Jawa, karya Tomasz Tomaszewski. Foto: Budi N.D. Dharmawan

Industri gula baru menjadi salah satu mata projek kolonial pada masa Tanam Paksa (Cultuurstelsel). Sistem ini diberlakukan pada 1830 untuk menutup kerugian Kerajaan Belanda akibat besarnya biaya yang dihabiskan untuk perang, salah satunya Perang Jawa yang dikobarkan Pangeran Dipanagara pada 1825–1830. Gubernur Jenderal Van den Bosch kala itu mengharuskan petani menyisakan 20% tanahnya untuk ditanami komoditas yang laku di pasar: kopi, nila, dan tebu. Namun demikian, akibat terus menurunnya jumlah pabrik gula di Hindia Belanda (tercatat tinggal empat yang beroperasi pada 1870), waktu itu tebu dikirim ke Belanda untuk diolah.

Kebijakan Tanam Paksa, yang dijalankan selama 40 tahun ini terbukti menyelamatkan keuangan Belanda. Pada 1860, tercatat 72% pendapatan Belanda diperoleh dari Jawa saja. Lepas masa Tanam Paksa pada 1870, diterbitkanlah Undang-undang Agraria dan Undang-undang Gula. Kebijakan ini mendukung liberalisasi ekonomi dan mendorong pembangunan pabrik-pabrik gula swasta di Jawa. Pada 1914, jumlah pabrik gula operasional di Jawa meningkat hingga menjadi 190. Yang menarik, seolah mengikuti pola yang sama, di kota-kota tempat berdirinya pabrik gula ini, berkembang pula studio-studio fotografi komersial.

Fotografi sendiri sudah masuk ke Hindia Belanda pada 1841, hanya dua tahun saja sejak penemuannya diumumkan di Prancis oleh Louis-Jacques-Mandé Daguerre pada 1839. Sejak 1840-an hingga seabad kemudian, tercatat lebih dari 500 jurufoto (studio) beroperasi di Hindia Belanda. Dari antara 500-an itu, ada empat jurufoto pribumi: A. Mohammad di Batavia (kini Jakarta), Sarto di Semarang, Najoan di Ambon, dan Kassian Cephas di Yogyakarta.

Ada satu foto Cephas yang disertakan di dalam pameran foto arsip, menggambarkan seorang lelaki Belanda berdiri tegap di tepi sungai, dengan dua orang Jawa bertelanjang dada jongkok di hadapannya, dan pada latar belakang tampak sebuah jembatan yang melintasi sungai tersebut. Foto ini secara khusus cukup mengejutkan, karena (a) foto ini tidak berasal dari koleksi lembaga K.I.T.L.V. di Leiden, Belanda, yang menyimpan sebagian besar karya Cephas, (b) foto ini tidak seperti foto-foto lain Cephas yang biasanya bersifat dokumentasi, selain karya-karya komersialnya, dan (c) foto ini kental dengan cara pandang kolonial, sehingga agak mengherankan bahwa foto semacam ini dibuat oleh seorang pribumi.

Pada perkembangannya, industri gula di Hindia Belanda mengalami pasang-surut. Pada awal 1880-an, produksi gula dunia melebihi tingkat konsumsinya, sehingga perlu dibatasi. Sementara itu, daya saing gula dari Jawa cukup rendah karena kualitasnya di bawah standar. Untuk meningkatkan mutu gula, didirikan sejumlah lembaga penelitian gula, yaitu (1) Proefstation Het Midden Java di Semarang pada 1885, (2) Proefstation Suikkeret in West-Java di Tegal pada 1886, dan (3) Proefstation Oost-Java di Pasuruan pada 1887.

Lembaga penelitian gula di Pasuruan kini dikenal denan nama Pusat Penelitian Perkebunan Gula Indonsia. Pada 1921, setelah melalui berbagai ujicoba kawin silang varietas tebu, penelitian di Pasuruan menemukan varietas unggul yang diberi nama P.O.J. 2878. Tebu jenis ini tahan hama dan produktivitasnya tinggi, sehingga ditanam besar-besaran tidak hanya di Jawa, namun juga di Karibia, Louisiana, dan Kolumbia.

Pabrik Gula Madukismo di Bantul, Yogyakarta bisa terus menggiling tebu tanpa henti selama enam bulan pada 1980-an. Kini, masa giling hanya berlangsung selama sekitar 100 hari. Tahun ini, Indonesia diperkirakan akan mengimpor 300 ribu ton gula, karena produksi gula nasional hanya mencapai sekitar 600 ribu ton dari perkiraan kebutuhan nasional 900 ribu ton. Padahal, seabad yang lalu, Jawa adalah produsen gula terbesar di dunia.

04

Adalah karena gula, orang Jawa dibawa ke Suriname pada masa penjajahan Belanda. Di dalam temu wicara sehari setelah pembukaan pameran di Yogyakarta, pakar perkebunan Dr. Agus Pakpahan menyampaikan, bahwa orang Belanda kala itu memandang perlu mendatangkan orang Jawa untuk mengurus perkebunan tebu di Suriname. Orang Jawa lebih memahami tebu; tahu masalah dan jalan keluar seputar tanaman tebu, serta tahu kapan mesti menanam dan kapan mesti memanen.

Sisa-sisa industri gula di Suriname karya James Whitlow Delano. Foto: Budi N.D. Dharmawan

Sisa-sisa industri gula di Suriname karya James Whitlow Delano. Foto: Budi N.D. Dharmawan

Di dalam pameran foto arsip mengenai Suriname dapat kita lihat sejumlah wajah Jawa. Bahkan, ada foto yang mendokumentasikan pendaratan kapal yang membawa mereka ke Suriname. Di dalam pameran foto baru, jejak orang Jawa di Suriname adalah salah satu hal yang ditelusuri oleh jurufoto Amerika Serikat James Whitlow Delano, di samping jejak orang Jawa dan Suriname di Belanda.

Bisa jadi adalah karena gula pula, fotografi berkembang di Hindia Belanda, khususnya Jawa. Studio foto di Jawa berkembang mengikuti pola perkembangan industri gula—di mana ada pabrik gula, di kota itu bermunculan studio foto. Barangkali agak keterlaluan karena kesimpulan ini diambil tanpa menelaah lebih jauh, tetapi pola ini bukan kebetulan. Fotografi pada masa itu cukup mahal, sehingga biaya pembuatan sebuah foto hanya dapat ditebus oleh mereka yang beruang, yakni pegawai administrasi pabrik gula.

Di sisi lain, perkembangan industri gula, khususnya pada masa tumbuhnya pabrik gula swasta, memunculkan golongan ekonomi baru yang kemudian memiliki kebutuhan baru, ketika bersinggungan zaman dengan masa awal perkembangan fotografi: kebutuhan menampilkan diri. Pada masa sebelumnya golongan ningrat dan juragan menampilkan dirinya melalui potret yang dilukis sebagai simbol status; pada masa ini golongan menengah menampilkan dirinya di dalam sebuah foto. Selain potret diri, foto yang umum dijumpai saat itu adalah potret bersama (keluarga beserta pembantu dan anjing peliharaan, atau kelompok lain), foto bangunan (rumah dan pabrik), dan foto pembangunan (jembatan, rel kereta api, kabel listrik).

Souvenier aan den Resident van Sumatra Oostkust, S. Locker de Bruijne van H.C. van Akkere, Bengkalis, 1877

Souvenier aan den Resident van Sumatra Oostkust, S. Locker de Bruijne van H.C. van Akkere, Bengkalis, 1877

Cara menampilkan foto pada masa itu juga lazimnya berwujud album, yang kerap diberi judul Souvenir. Album-album ini biasanya dibuat oleh orang Belanda yang bekerja di tanah jajahan untuk dikirimkan kembali kepada keluarganya di Belanda—sebab itu judulnya Souvenir; oleh-oleh. Di dalam menjawab kebutuhan konsumen, studio foto biasanya juga sudah menyiapkan sejumlah foto stok yang menggambarkan pemandangan alam tanah jajahan. Foto stok ini bisa dibeli secara lepas untuk dimasukkan ke dalam album, bersama dengan foto potret si pemesan album. Oleh karenanya, cukup wajar jika sebuah gambar muncul di dalam beberapa album.

Dari koleksi-koleksi pribadi inilah sejarah dibangun, selain juga dari koleksi museum yang sejak awal dibuat untuk tujuan penelitian dan dokumentasi, seperti foto-foto Kassian Cephas untuk K.I.T.L.V. Salah satu tujuan projek The Sweet and Sour Story of Sugar yang diinisiasi oleh Noorderlicht ini adalah melihat kembali catatan sejarah dan membandingkannya dengan catatan baru, melalui medium fotografi. Melalui pameran di Langgeng Art Foundation ini, kita pun dapat melihat, banyak hal yang berubah setelah pergantian zaman selama seabad, namun ada juga yang tidak berubah.

Bagi saya sendiri, pengalaman melihat pameran ini sungguh luar biasa. Selain karena kesempatan langka melihat foto-foto arsip museum dan foto-foto baru karya jurufoto klas dunia, juga karena ada banyak hal yang bisa dipelajari dari pameran ini. Moga-moga, demikian juga untuk rekan-rekan sekalian. ∎

Budi N.D. Dharmawan adalah seorang jurufoto independen yang ikut mendirikan Cephas Photo Forum pada 2010. Pada awal November 2012, Budi diundang mengikuti lokakarya Fotografi Kolonial, sebagai bagian dari rangkaian acara pameran The Sweet and Sour Story of Sugar di Yogyakarta (lihat catatan Budi selama lokakarya di sini dan di sini). Selama pameran berlangsung sejak November 2012 hingga Januari 2013, diadakan empat kali kunjungan terpandu dengan Budi sebagai salah satu pemandu, bersama Antariksa dari Kunci Cultural Studies Center dan Akiq A.W. dari MES 56. Tulisan ini adalah catatan pribadi Budi mengenai pameran tersebut. Terimakasih kepada Antariksa untuk tambahan informasi kesejarahan dan kepada Akiq A.W. untuk tambahan informasi kuratorial.

____________________________________________
Pameran foto The Sweet and Sour Story of Sugar
Tomasz Tomaszewski, James Whitlow Delano, Carl de Keyzer, Francesco Zizola, Alejandro Chaskielberg, dan Ed Kashi untuk Noorderlicht
Langgeng Art Foundation (Galeri 1 dan 2), Jl. Suryodiningratan 37, Yogyakarta
9 November 2012 – 22 Januari 2013
Kurator: Akiq A.W. dan MES 56