Category Archives: Summary

Presentation Summary: Doni Maulistya + Michael Eko

Ditulis oleh Saila M. Rezcan

Setelah hiatus yang cukup panjang, Cephas Photo Forum (CPF) akhirnya menggelar presentasi kembali pada 29 Januari 2013 lalu, dengan menghadirkan dua projek sekaligus. Projek-projek tersebut adalah milik Doni Maulistya dan Michael Eko, dua dari pendiri CPF sendiri. Forum perdana tahun 2013 ini bertempat di Rumah Kelas Pagi Yogyakarta.

Presentasi foto Doni Maulistya dan Michael Eko di KPY, Januari 2013. Foto: Budi N.D. Dharmawan untuk Cephas Photo Forum

Presentasi foto Doni Maulistya dan Michael Eko di KPY, Januari 2013. Foto: Budi N.D. Dharmawan untuk Cephas Photo Forum

Souvenir of Happiness
Projek pertama berjudul We Are Happy Here, merupakan oleh-oleh Doni Maulistya (Aul) yang mengikuti sebuah program residensi seniman di Objectifs Centre for Photography and Filmmaking di Singapura pada pertengahan 2012 lalu. Dalam program tersebut, Aul berproses selama satu bulan kemudian membuat sebuah pameran sebagai penutup.

Doni Maulistya. Foto: Budi N.D. Dharmawan untuk Cephas Photo Forum

Doni Maulistya. Foto: Budi N.D. Dharmawan untuk Cephas Photo Forum

Ketika menjalani residensi, Aul mendapati sebuah hal menarik tentang konsep kebahagiaan pada masa lalu. Konon, masyarakat Tionghoa Singapura pada tahun 1950-an memiliki tradisi untuk membagikan kebahagiaannya pada orang lain melalui foto. Pada momen-momen membahagiakan seperti kelulusan, pernikahan dan ulang tahun anak, mereka akan membuat sebuah potret yang menunjukkan momen tersebut, kemudian mencetaknya dalam jumlah banyak. Setelah itu, mereka menuliskan pesan di baliknya mengenai momen bahagia itu, dan ingin membagikan kebahagiaan tersebut kepada si penerima foto. Foto bertuliskan pesan tersebut dikenal sebagai souvenir of happiness. Memang, pada saat itu masyarakat Tionghoa Singapura memiliki pantangan untuk menunjukkan kesedihan pada orang lain.

Berkat temuannya itulah Aul lantas memiliki ide untuk mereproduksi souvenir of happiness yang ia dapat dari sebuah toko barang bekas. Mulanya, Aul memang telah merencanakan sebuah projek (dalam proposal yang ia buat) yang berhubungan dengan konsep tersebut, yakni foto sebagai suvenir. Ia mencari beberapa tenaga kerja yang berasal dari luar Singapura yang bersedia memberikan fotonya atau bersedia dipotret. Kemudian mereka diminta untuk menuliskan semacam surat untuk keluarganya di rumah di balik foto tersebut, seolah-olah foto-foto itu hendak dikirim ke kampung halamannya.

© Doni Maulistya

© Doni Maulistya

© Doni Maulistya

© Doni Maulistya

© Doni Maulistya

© Doni Maulistya

Rencana ini sudah berjalan ketika Aul menemukan fakta mengenai souvenir of happiness tadi. Akhirnya ia mengerjakan keduanya. Pada foto-foto lama yang ia temukan di toko barang bekas, Aul menambahkan tulisan “We’re Happy Here”, yang sekaligus sebagai judul dari projek tersebut. Tulisan ini, katanya, ia maksudkan sebagai “pengganti” tulisan asli di balik foto-foto tersebut yang ditulis menggunakan huruf China lama. Tujuannya semata-mata untuk memudahkan pembacaan atas maksud projek tersebut, karena pada dasarnya, tulisan-tulisan tersebut bernada sama, yaitu mengabarkan kebahagiaan dan hendak membaginya.

Dalam forum diskusi tersebut, banyak yang berkomentar bahwa temuan Aul justru jauh lebih menarik dari projeknya sendiri. Selain itu, projek tersebut pun dinilai masih memiliki banyak kemungkinan eksplorasi. Bagi Aul sendiri, pengalamannya mengikuti residensi dari Objectifs tersebut tidak semata-mata mengerjakan sebuah projek dan mendapatkan kesempatan jalan-jalan ke luar negeri gratis. Namun ia menemukan hal lain, bahwa di negara se-membosankan Singapura pun ia dapat menemukan orang-orang yang menarik dan “gila”. Jadi, siapa yang akan berangkat ke Singapura selanjutnya?

Presentasi foto Doni Maulistya dan Michael Eko di KPY, Januari 2013. Foto: Budi N.D. Dharmawan untuk Cephas Photo Forum

Seto Hari Wibowo mengisahkan pengalamannya ketika bekerja untuk LSM lingkungan di Kalimantan beberapa tahun sebelumnya. Presentasi foto Doni Maulistya dan Michael Eko di KPY, Januari 2013. Foto: Budi N.D. Dharmawan untuk Cephas Photo Forum

Presentasi foto Doni Maulistya dan Michael Eko di KPY, Januari 2013. Foto: Budi N.D. Dharmawan untuk Cephas Photo Forum

Presentasi foto Doni Maulistya dan Michael Eko di KPY, Januari 2013. Foto: Budi N.D. Dharmawan untuk Cephas Photo Forum

Everyday Borneo
Projek kedua yang dipresentasikan pada diskusi ini masih merupakan semacam raw material tentang Borneo. Michael Eko (Mike) sendiri mengakui bahwa ia memang belum menentukan topik yang spesifik mengenai projek ini. Selama beberapa tahun ini, ia hanya memotret apa yang baginya menarik untuk dipotret. Karena itulah, foto-fotonya pun sangat beragam dan malah terkesan tidak dalam.

Michael Eko. Foto: Budi N.D. Dharmawan untuk Cephas Photo Forum

Michael Eko. Foto: Budi N.D. Dharmawan untuk Cephas Photo Forum

Sebenarnya Mike telah melakukan seleksi kecil untuk mengelompokkan foto-fotonya ke dalam beberapa topik yang lebih kecil, misalnya mengenai migrant workers, tiga level kawasan (pabrik, dekat pabrik, dan jauh dari pabrik), penebangan hutan, serta kehidupan suku Dayak. Namun demikian, pembagian tersebut kesannya jadi sia-sia, ketika ia ingin membicarakan semuanya dalam satu projek sekaligus.


© Michael Eko Hardianto

Mungkin hal ini terjadi karena sejak awal Mike memang tidak membuat perencanaan yang ketat untuk projeknya. Alasannya, ia tidak ingin terjebak dalam cara pandang media pada umumnya ketika melihat Kalimantan. Ia ingin memotret Kalimantan secara apa adanya, tanpa framing yang terkesan menghakimi. Bisa jadi, hal itulah yang justru membuat ia terlena dengan cara kerja “foto dulu, susun belakangan.” Akibatnya, foto-fotonya jadi tak terarah dan tidak membentuk satu kesatuan yang dapat dinikmati dengan nyaman.

Dalam diskusi tersebut, banyak muncul masukan yang bermanfaat untuk Mike, salah satunya adalah mengubah cara pandang yang “mengharuskan” untuk memiliki stand point di dalam membuat projek, menjadi tidak sama sekali. Sebagai referensi, ada hadirin yang menyampaikan soal projek Peter DiCampo dan Austin Merrill berjudul Everyday Africa. Di dalam projek tersebut, semangat yang diusung DiCampo dan Merrill sangat mirip dengan apa yang dipikirkan Mike, yakni ingin menampilkan sebuah tempat dengan cara yang berbeda. Afrika (juga Kalimantan) kerap ditampilkan sisi ekstremnya oleh media berita, namun apa yang sesungguhnya terjadi sehari-hari jarang kita lihat. Sisi ini yang coba untuk ditampilkan; tidak menghakimi, tidak melihatnya sebagai sesuatu yang eksotis.

Akiq A.W. menyampaikan komentar di tengah presentasi foto Doni Maulistya dan Michael Eko di KPY, Januari 2013. Foto: Budi N.D. Dharmawan untuk Cephas Photo Forum

Akiq A.W. menyampaikan komentar di tengah presentasi foto Doni Maulistya dan Michael Eko di KPY, Januari 2013. Foto: Budi N.D. Dharmawan untuk Cephas Photo Forum

Presentasi foto Doni Maulistya dan Michael Eko di KPY, Januari 2013. Foto: Budi N.D. Dharmawan untuk Cephas Photo Forum

Presentasi foto Doni Maulistya dan Michael Eko di KPY, Januari 2013. Foto: Budi N.D. Dharmawan untuk Cephas Photo Forum

Dengan gagasan demikian, tentu konsekuensi yang harus dilakukan Mike, sebagaimana ditekankan oleh hadirin lain, adalah tinggal dalam kurun waktu yang cukup lama di Kalimantan, karena hanya dengan cara tersebut ia dapat melihat Kalimantan yang “biasa”, bukan kalimantan yang terlihat dari mata seorang turis. Good luck untuk Mike!

Presentation Summary: Goddess of Pantura by Arum Tresnaningtyas Dayuputri

Ditulis oleh Saila M. Rezcan

Apa yang terlintas di pikiran anda ketika mendengar kata “Dangdut Pantura”? Apakah sebuah musik yang kerap menemani perjalanan bus-bus antarkota di Pulau Jawa? Ataukah musik dengan nada-nada khas tarling (gitar-seruling) yang aduhai? Atau mungkin sesosok biduan perempuan dengan tubuh indah dan balutan pakaian seksi yang sedang menyanyi di atas panggung? Dalam sebuah ongoing project berjudul “Goddess Of ‘Pantura’”, Arum Tresnaningtyas Dayuputri mencoba mendokumentasikan seluk-beluk Dangdut Pantura. Hari Kamis, 31 Mei 2012 bertempat di Kelas Pagi Yogyakarta, Cephas Photo Forum menggelar diskusi terbuka mengenai projek tersebut.

Projek foto dokumenter ini berawal dari tugas akhir yang harus Arum kerjakan demi menyelesaikan kuliah fotografinya di Ateneo de Manila University. Namun ternyata setelah melakukan riset dan eksekusi awal, ia merasa  ia harus menggarapnya secara lebih serius, sebagai sebuah projek personal. Saat itu Arum berpikir, dangdut—musik yang disukainya—belum banyak menjadi perhatian orang Indonesia sendiri. Referensi yang ada kebanyakan justru ditulis oleh orang asing, karena itu ia merasa tergerak untuk menggarap projek ini dengan total dan sekalian menjadikannya sebuah buku.

Jika melihat foto-foto hasil eksekusi awal projek ini, akan sangat terlihat bahwa Arum masih kurang melakukan riset dan eksplorasi. Ia sendiri mengakui bahwa ia ke lapangan tanpa terlebih dahulu melakukan riset dan menulis rancangan projeknya. Ia memang ingin melakukan riset visual dan pendekatan terlebih dahulu. Tentu saja tidak banyak yang bisa kita harapkan dari eksekusi semacam ini, mengingat langkah awal dari sebuah penggarapan foto dokumenter adalah riset yang matang. Arum pun mengakui, dari eksekusi awal tersebut ia merasa foto-fotonya tidak terarah sehingga cukup menyulitkan dalam proses kurasi.

 

©Arum Tresnaningtyas Dayuputri

 

Adalah Diana Sastra—seorang penyanyi dangdut terkenal di kalangan pecinta Dangdut Pantura—beserta grup musiknya, yang dijadikan fokus cerita oleh Arum. Dari apa yang dipaparkan Arum, Diana memiliki cerita hidup yang sangat menarik untuk divisualkan. Mulai dari perjalanan karirnya di kancah dangdut hingga kehidupannya yang “sangat dangdut” karena beberapa kali kawin-cerai. Namun secara visual, foto-foto yang dihasilkan Arum justru belum bercerita banyak. Boleh dikatakan, paparan Arum mengenai kehidupan Diana jauh lebih bercerita ketimbang fotonya sendiri.

Ibaratnya, foto-foto Arum barulah memasuki intro dalam sebuah musik dangdut pantura. Di sana belum keluar nada-nada tarling yang khas serta cengkok vokal menggetarkan hati. Sehingga ia belum dapat disebut sebagai musik yang hidup dan utuh. Selain itu, pengalamannya menjadi pewarta foto sebuah media cetak turut berkontribusi dalam variasi angle dan komposisi yang ia pilih. Sehingga foto-foto yang ada terasa sangat berjarak dan monoton, seolah belum ada emosi yang masuk di dalamnya.

Namun hal ini menjadi wajar mengingat projek ini merupakan ongoing project, sehingga masih sangat banyak yang perlu dilakukan Arum untuk melengkapinya. Satu hal yang perlu ditekankan adalah visi Arum sendiri, sebenarnya apa yang ingin dia sampaikan melalui projek ini? Karena isu yang ia angkat merupakan isu yang sangat seksi dan relatif dapat berbicara banyak hal. Jika tidak merancang konsep dengan cermat, bisa-bisa ia terjebak pada eksekusi yang dangkal: bicara banyak hal, namun pada akhirnya tidak menceritakan apapun. Ada baiknya Arum memfokuskan diri pada hal-hal kecil untuk digali lebih dalam, sehingga nantinya hal kecil tersebut dapat menjelaskan konteks sosio-kultural yang lebih luas.

©Arum Tresnaningtyas Dayuputri

©Arum Tresnaningtyas Dayuputri

 

Tentu bukan hal mudah ketika kita harus mengubah “cara melihat” dari gaya news menjadi documentary, mengingat Arum telah terbiasa bekerja dengan gaya news. Dalam sebuah artikel berjudul “Photojournalism and Documentary Photography”, Antonin Kratochvil dan Michael Persson menulis:

“…There is photojournalism and there are photo documentaries: Identical mediums, but conveying very different messages. Documentary photographers reveal the infinite number of situations, actions and results over a period of time. In short, they reveal life. Life isn’t a moment. It isn’t a single situation, since one situation is followed by another and another….”

Dari kutipan di atas kita dapat menyimpulkan betapa “beratnya” menggarap sebuah projek foto dokumenter dibandingkan dengan foto-foto news. Membuat foto dokumenter adalah membuat foto tentang hidup, untuk dapat melakukannya tentu terlebih dahulu kita harus masuk dalam kehidupan itu sendiri. Dibutuhkan energi yang sangat besar jika benar-benar ingin membuat foto dokumenter yang utuh dan memiliki jiwa. Tentu bukan hal mudah, apalagi jika sejak awal kita terbiasa dengan sistem kerja yang sama sekali berbeda, namun bukankah di situ tantangannya? Semoga Arum telah menyiapkan sumur energi yang tidak mudah kering airnya, sehingga harapan untuk dapat memperkaya referensi mengenai dangdut dapat terwujud dengan hasil yang memuaskan. Selamat berkarya!


Presentation Summary: Still Photography by Syamsul Hadi

Ditulis oleh Saila Rezcan

“Fotografi bukan tempat show off, fotografi itu tentang ‘the man behind’, dia mau ngomong apa lewat fotonya.”

Demikian dikatakan Syamsul Hadi, seorang still photographer yang mempresentasikan karyanya pada acara Cephas Photo Forum tanggal 14 November 2011 lalu, bertempat di Kelas Pagi Yogyakarta. Ia percaya, seorang fotografer seharusnya “bersembunyi” untuk kemudian “berbicara” lewat foto-fotonya, bukan hal yang lain.

Berawal dari studi penulisan skenario film yang ia jalani di Fakultas Film dan Televisi Institut Kesenian Jakarta, ia pun lantas mengembangkan ketertarikannya terhadap film melalui still photo. Baginya, still photo merupakan sesuatu yang penting dalam sebuah produksi film, namun masih sering dianggap remeh. Fungsi utama dari still photo adalah untuk keperluan publikasi dan marketing, salah satunya foto-foto yang terdapat pada poster dan leaflet film. Pekerjaan ini pun bukan pekerjaan mudah bergaji mewah. Seorang still photographer justru dituntut untuk selalu cekatan dan tahan banting. Bayangkan saja, proses pembuatan satu buah film tentu memakan waktu yang panjang, dan selama itu pula seorang still photographer harus pandai mengatur strategi dan stamina sehingga ia mampu meng-cover segala kebutuhan dokumentasi pada film tersebut.

Dari pengalamannya selama sepuluh tahun menjalani profesi ini, ia menegaskan betul bahwa satu-satunya daya tarik bidang ini adalah (lagi-lagi) passion. Ya, ia tak menjamin bahwa profesi ini dapat memberi kepuasan materi yang sebanding dengan berat pekerjaan yang harus dipikul, terlebih pada masa-masa awal kariernya. Hanya kecintaanlah yang kemudian sanggup membuatnya setia menggeluti bidang fotografi ini, meskipun ia tak menutup kemungkinan untuk melakukan pekerjaan lain demi memenuhi kebutuhan materi yang tak dapat dinafikan.

Still photographer adalah seseorang yang mesti bisa “menghilangkan” keberadaannya di lokasi syuting, sehingga ia tidak mengganggu proses syuting tersebut namun tetap dapat menghasilkan foto-foto yang memenuhi kebutuhan film. Hal ini cukup sulit karena bahkan suara shutter yang ikut masuk ke alat perekam pun dapat menjadi pengganggu bagi proses syuting itu sendiri. Belum lagi keharusan untuk menguasai naskah film secara menyeluruh, sehingga foto-foto yang dihasilkan pun efektif dan tidak sekedar bagus.

Ada banyak hal teknis yang kemudian dibicarakan dalam forum ini, namun satu hal yang menjadi landasan atas segalanya (dan sebenarnya berlaku untuk  hal-hal lainnya): disiplin. Seorang still photographer tidak akan dapat bertahan tanpa disiplin yang kuat. Ia harus menguasai naskah, detail lokasi syuting, jadwal, kemampuan teknis, dan tentu saja menguasai dirinya sendiri. Jadi, bagaimana mungkin seseorang dapat menggelutinya jika tidak terlebih dulu jatuh cinta pada profesi ini?