Category Archives: Review

Regina Safri dan orangutan Kalimantan

Ditulis oleh Budi N.D. Dharmawan

Pameran foto Regina Safri "Orangutan Rhyme and Blues" di Bentara Budaya Yogyakarta, Januari 2013. Foto: Budi N.D. Dharmawan

Pameran foto Regina Safri “Orangutan Rhyme and Blues” di Bentara Budaya Yogyakarta, Januari 2013. Foto: Budi N.D. Dharmawan (Klik untuk perbesar gambar)

Pada akhir Januari 2013, di balai pameran Bentara Budaya Yogyakarta digelar pameran foto berjudul Orangutan Rhyme and Blues. Pameran yang dikurasi oleh Oscar Motuloh itu menampilkan 40 bingkai foto karya pewarta foto Regina Safri, atau Rere. Bersamaan dengan pameran yang sebelumnya telah diadakan di Jakarta (Galeri Foto Jurnalistik Antara, Oktober 2012) dan Surabaya (House of Sampoerna, November 2012) itu, Rere juga meluncurkan buku foto dengan judul yang sama, terbitan G.F.J.A., 2012. Karya ini merupakan projek terbarunya, yang dia kerjakan sejak akhir 2011 yang lalu.

Ditemui di tempat pameran, Rere bercerita tentang alasannya mengerjakan projek ini. Menjelang akhir 2011, media massa ramai pemberitaan mengenai pembantaian orangutan di Kalimantan (lihat arsip Kompas). Peristiwa mengenaskan itu menyentuh Rere, dan mendorong rasa ingin tahunya hingga berniat untuk melihat sendiri kondisi orangutan ke Kalimantan. Sebagai pewarta foto Kantor Berita Antara yang ditempatkan di Biro Yogyakarta, Rere perlu meminta izin kepada atasannya untuk melakukan liputan ke Kalimantan.

Setelah mendapatkan izin, tempat pertama yang dituju Rere adalah kantor Kementerian Kehutanan di Jakarta untuk meminta kontak organisasi konservasi orangutan yang ada di Kalimantan. “Ada banyak sekali organisasi yang bergerak di sana. Saya tanya mana yang paling besar, mereka bilang B.O.S. (Borneo Orangutan Survival Foundation),” kata Rere.

Berbekal daftar kontak tersebut, Rere pun pergi-pulang Jawa–Kalimantan sebanyak tujuh kali sejak Desember 2011 hingga Juli 2012. “Perjalanan pertama adalah yang termahal,” kenang Rere, “karena belum punya kontak, jadi mesti menelepon sana-sini, bayar hotel, sewa mobil untuk ke hutan.”

Pada perjalanan pertamanya, Rere menghabiskan tiga hari di Balikpapan, Kalimantan Timur. Dua hari habis untuk menelepon sana-sini, hingga akhirnya bertemu petugas Balai Konservasi Sumber Daya Alam (B.K.S.D.A.) Kaltim dan mendapatkan surat rekomendasi untuk melakukan liputan. Esoknya, hari terakhirnya di Balikpapan, Rere berangkat ke fasilitas B.O.S. di Samboja, Kutai Kartanegara, yang berjarak kira-kira dua jam perjalanan (±50 km) dengan mobil sewaan.

© Regina Safri

© Regina Safri

© Regina Safri

© Regina Safri

“Sampai Kutai, mereka (B.O.S.) tidak menanyakan surat rekomendasi itu. Mereka cuma memberi syarat tes kesehatan. Masalahnya, tes kesehatannya di Balikpapan, jadi aku mesti kembali ke Balikpapan untuk tes, lalu ke Kutai lagi,” tukas Rere. Setelah menjalani tes darah, tes ludah, dan tes sinar Rontgen, Rere dinyatakan sehat dan dapat masuk ke dalam fasilitas B.O.S. Tes kesehatan mutlak perlu, karena penyakit manusia dapat dengan mudah menular ke orangutan.

Tidak mau menghabiskan waktu, Rere segera mulai memfoto, karena mesti cepat-cepat kembali ke Balikpapan untuk terbang pulang ke Yogyakarta sore itu. Mengenang saat itu, Rere bercerita, “Ketika melihat tatapan mata orangutan, aku merasa seolah dia bicara kepadaku; seperti minta tolong. Oleh karena itu, aku semakin yakin untuk membuat sesuatu, tidak semata-mata liputan saja. Pameran dan buku ini adalah janjiku kepada orangutan.”

B.O.S. memiliki fasilitas sekolah dan klinik orangutan. Di sekolah, orangutan yang diselamatkan dikenalkan kembali keterampilan hidup di hutan: mengenali tumbuhan atau hewan yang bisa dimakan dan bagaimana cara memakannya, bagaimana memanjat pohon, dan sebagainya. “Mereka mesti diajari karena orangutan yang diselamatkan ini kebanyakan masih anak-anak, induknya sudah mati dibantai atau kena kebakaran hutan,” kata Rere.

“Padahal, anak orangutan sangat bergantung pada induknya hingga berusia tujuh tahun, untuk belajar macam-macam keterampilan itu,” lanjut Rere. “Di sekolah, tugas induk itu digantikan mbak-mbak pengasuh. Mereka dengan telaten marawat orangutan, memberi makan, mengajak jalan ke hutan, bahkan menemani tidur, ya persis induknya lah.”

© Regina Safri

© Regina Safri

Januari 2012, Rere melakukan kunjungan kedua. Kali ini, Rere menuju fasilitas B.O.S. di Nyaru Menteng, 28 km dari Palangka Raya, Kalimantan Tengah. Sempat kembali ke Yogyakarta, awal Februari 2012, Rere kembali ke Samboja untuk kunjungan ketiga. Dari situ, Rere sempat naik bus ke Palangka Raya, lalu kembali ke Samboja lagi, sebelum kemudian pulang ke Yogyakarta. Rere kemudian memutuskan untuk lebih banyak menghabiskan waktu di Nyaru Menteng, karena orangutan di sana lebih banyak (ada 600-an) daripada di Samboja (ada 200-an).

Pada Februari 2012, Rere untuk kembali meninggalkan Yogyakarta menuju Nyaru Menteng selama lima hari. Begitu pulang dari perjalanan keempatnya itu, Rere dihubungi petugas B.O.S. dan diberi tahu akan dilakukan pelepasliaran di Nyaru Menteng. Rere pun segera berangkat lagi pada Maret 2012. Di Bandara Tjilik Riwut, Palangka Raya, staf B.O.S. sudah menunggu Rere dan langsung membawanya naik pesawat kecil twin otter ke Puruk Cahu. Dari situ mereka kemudian naik perahu ke Hutan Lindung Bukit Batikap untuk menyaksikan pelepasliaran orangutan.

Pelepasliaran ini merupakan peristiwa penting, baik bagi Rere sebagai pewarta foto, bagi B.O.S. sebagai organisasi pelestarian orangutan, dan bagi orangutan sendiri. Peristiwa ini adalah pelepasliaran pertama orangutan sejak B.O.S. mulai berkarya pada 1991. Ini juga kali pertama orangutan dilepasliarkan, karena organisasi lain tidak memiliki sumber daya yang cukup untuk melepasliarkan, sehingga mereka hanya dapat menyelamatkan dan merawat orangutan. Untuk melepasliarkan orangutan, B.O.S. membeli hak guna hutan dari pemerintah Indonesia dengan harga yang sangat mahal menggunakan uang sumbangan dari luar negeri.

Baru sepekan di Yogya, pada April 2012 Rere berangkat lagi ke Kalimantan untuk kali keenam. Rere ditelepon oleh B.O.S. Samboja yang juga memintanya untuk mendokumentasikan proses pelepasliaran di Samboja. Seperti di Palangka Raya, di Bandara Sepinggan, Balikpapan, juga sudah ada staf B.O.S. yang menunggu Rere untuk membawanya dengan mobil ke Hutan Kehje Sewen. “Perjalanan itu memakan waktu tiga hari tiga malam, dan selama itu sepanjang jalan yang kami lewati sawit semua,” kenang Rere.

© Regina Safri

© Regina Safri

Di sinilah masalah bermula, yang membuat Rere tergoda untuk datang ke Kalimantan, melihat sendiri kondisi orangutan. Makhluk yang 97% DNA-nya mirip manusia ini kian terpinggirkan dari hutan tempat mereka tinggal karena hutan sudah dibabat untuk ditanami sawit, selain juga karena tambang. Ketika orangutan masuk perkebunan sawit, pekerja perkebunan membantai mereka, bahkan mendapat uang untuk itu—satu orangutan terbunuh dihargai sekitar Rp 1 juta.

Setelah mengendarai mobil selama tiga hari, mereka meneruskan dengan berjalan kaki, karena mobil tidak bisa masuk hutan. “Saya bukan anak Mapala (Mahasiswa Pencinta Alam), jadi ini tantangan berat bagi saya. Berjalan jauh, naik-turun tebing, melewati sungai. Di hutan, badan saya ditempeli pacet banyak sekali, itu seram bagi saya,” cerita Rere. Keluar hutan, mereka bisa naik mobil lagi, sampai memasuki hutan berikutnya, mereka kembali berjalan kaki. “Kami tinggal di dalam hutan kira-kira seminggu.”

Pulang ke Yogyakarta, Rere ingin beristirahat karena perjalanan terakhir itu sungguh melelahkan. Pelepasliaran orangutan memang sengaja dilakukan di tempat yang sulit dijangkau agar orang tidak mudah datang dan membunuh orangutan. Setelah enam kali bolak-balik ke Kalimantan, uang tabungan Rere mulai menipis. Rere juga menjual barang-barang di kamar kosnya, termasuk salah satu dari dua kameranya, untuk membiayai perjalanannya.

© Regina Safri

© Regina Safri

© Regina Safri

© Regina Safri

Pertengahan 2012, Rere ke Jakarta untuk bertemu dengan Oscar Motuloh. “Aku bilang sama Bang Oscar, uangku habis, cuma bisa ke Kalimantan satu kali lagi. Jadi, aku minta dia melihat foto-fotoku, apa yang kurang, supaya aku lengkapi di perjalanan terakhirku.” Berbekal daftar dari Oscar itu, pada Juli 2012, Rere berangkat ke Kalimantan untuk kali ketujuh. Rere menuju ke Nyaru Menteng dan tinggal di sana selama lebih-kurang dua pekan untuk melengkapi foto-fotonya.

Kembali ke Yogyakarta, Rere mulai melihat kembali dan menyusun foto-fotonya. Waktu itu, Rere tidak membayangkan, bahwa pameran dan buku foto ini akan diproduksi Antara. Selama puasa, setiap kali selesai tarawih hingga menjelang sahur, Rere mencoba membuat dummy sendiri. “Aku tidak menguasai aplikasi desain, jadi aku bikin dengan sederhana seperti menulis skripsi.”

Pada pekan terakhir puasa, Oscar menelepon Rere, menawari pameran di G.F.J.A., Jakarta. Rere mengiyakan dengan girang. Oscar mendorong Rere untuk segera berpameran, karena mesti mengejar momentum pelepasliaran pertama orangutan. “Bang Oscar bilang, kalau pameran tahun depan, isunya sudah basi.”

Selepas Idul Fitri, Rere ke Jakarta untuk bertemu lagi dengan Oscar. Rere minta pameran ini dibuat buku, tidak cuma katalog. Rere juga menunjukkan dummy yang sudah dia buat. “Bang Oscar setuju, tapi dia bilang dummy yang aku buat desainnya berantakan,” kata Rere sambil tertawa. Akhirnya, buku didesain ulang, dan Oscar membantu mengumpulkan sumbangan dari teman-temannya untuk membiayai pameran dan pembuatan buku ini.

© Regina Safri

© Regina Safri

Semangat Rere ini yang saya kagumi. Di tengah berbagai keluhan di dunia fotojurnalisme profesional, terkait krisis ekonomi yang membuat sejumlah media berita gulung tikar dan perkembangan dunia fotografi awam masa kini yang membuat semua orang bisa menjadi jurufoto, Rere masih menyimpan cita-cita yang besar. Fotografi dengan misi; tidak hanya untuk memuaskan editor atau mendapatkan uang.

Sekadar memberi contoh, tanpa bermaksud membandingkan, saya teringat kisah perjalanan yang dilakukan oleh ekolog Michael Fay dan jurufoto Michael “Nick” Nichols pada 1999–2000, mendokumentasikan keragaman hayati hutan hujan tropis Afrika Tengah (baca [1], [2], dan [3]). Ekspedisi Megatransect sejauh hampir 3000 km itu mereka tempuh dengan berjalan kaki selama lebih dari 450 hari. Menjelang akhir perjalanan, Fay dan Nichols bertemu Presiden Gabon. Melihat foto-foto yang dibuat Nichols, Sang Presiden terkejut, “Ini semua ada di negara saya?” Lepas itu, Sang Presiden menetapkan dibentuknya 13 taman nasional baru untuk melindungi hutan di negerinya.

Kembali kepada cerita Rere, kendati kisah yang dibawakan pameran ini sesungguhnya tragis (pembabatan hutan, pembantaian orangutan, penyelamatan orangutan sulit dan mahal), banyak pengunjung justru menyukai betapa lucunya bayi-bayi orangutan yang difoto Rere. Memang di dalam pameran hampir tidak ada foto kerusakan hutan dan hanya ada satu foto perkebunan sawit, sementara foto bayi orangutan bertebaran di galeri pameran. Dengan rendah hati, Rere menjelaskan bahwa dia pun merasa belum cukup intim dengan subjek ini, karena kurang lama mengerjakannya. “Tentu ada orang lain yang bisa bikin ini dengan lebih bagus, namun sekurang-kurangnya aku sudah berbuat. Ini janjiku kepada orangutan.”

Di dalam janjinya itu, Rere pun mengemban sebuah misi, yaitu untuk membantu meningkatkan kesadaran masyarakat mengenai keadaan kritis orangutan dan hutan di Kalimantan. Di dalam setiap pameran, Yogyakarta adalah yang ketiga, Rere selalu menggelar diskusi untuk menceritakan pengalamannya dan kondisi orangutan. Kini, Rere juga tengah menjajaki kemungkinan menyebarluaskan informasi soal kritisnya orangutan dan hutan Kalimantan ke sekolah-sekolah. “Anak-anak sekolah perlu tahu soal kerusakan hutan, dan perlu tahu bahwa kerusakan hutan, atau misalnya kepunahan orangutan, di Kalimantan bisa berdampak terhadap kehidupan kita di Jawa.”

Sebagaimana Rere akui sendiri, foto-fotonya barangkali memang bukan yang terbaik. Akan tetapi, sekurang-kurangnya dia sudah berbuat, daripada menunggu menjadi yang terbaik namun tidak pernah berbuat apa-apa. Untuk itu, saya kagum dan iri kepada Rere.

“Sebetulnya aku mau meneruskan projek ini. Aku masih ingin ke Tanjung Puting, juga memfoto orangutan Sumatera, yang berbeda dari orangutan Kalimantan. Akan tetapi, uangku sudah habis,” pungkas Rere.

Regina Safri. Foto: Budi N.D. Dharmawan

Regina Safri. Foto: Budi N.D. Dharmawan

Regina Septiarini Safri lahir di Jakarta, 23 September 1983. Orangtuanya berasal dari Padang, Sumatera Barat. Keluarganya pindah ke Cilacap, Jawa Tengah, ketika Rere berusia empat tahun, dan masih tinggal di sana hingga kini. Rere pindah ke Yogyakarta sejak belajar Ilmu Komunikasi di Universitas Pembangunan Nasional “Veteran” Yogyakarta. Niat awalnya mempelajari kehumasan berubah ketika dia mengenal dunia jurnalisme, khususnya fotojurnalisme.

Pada 2004, Rere magang di Kantor Berita Antara di Jakarta dan banyak belajar dari pewarta foto senior Antara, Saptono. Setelah menyelesaikan studinya dengan skripsi tentang semiotika foto Oscar Motuloh pada 2005, Rere sempat bekerja sebagai pewarta foto untuk Majalah Kabare di Yogyakarta. Setelah itu, Rere bekerja sebagai pewarta foto kontrak untuk Kantor Berita Antara Biro Yogyakarta hingga kini. Pada 2011, Rere menulis buku pertamanya, Membidik Peristiwa Menjadi Berita. Orangutan Rhyme and Blues adalah bukunya yang kedua.

Budi N.D. Dharmawan adalah jurufoto independen, tinggal di Yogyakarta. Pada 2010, bersama tujuh orang jurufoto muda lainnya, Budi mendirikan Cephas Photo Forum di Yogyakarta. ∎

Jejak gula di bekas Kerajaan Belanda: Melihat kembali kolonialisme dan membayangkan globalisasi melalui fotografi

Sebuah catatan oleh Budi N.D. Dharmawan

01

Awalnya, saya kira pameran The Sweet and Sour Story of Sugar hanya akan memajang foto-foto karya Tomasz Tomaszewski (Polandia), Ed Kashi (A.S.), James Whitlow Delano (A.S./Jepang), Alejandro Chaskielberg (Argentina), Carl De Keyzer (Belgia), dan Fransesco Zizola (Italia). Mereka berenam ditugasi lembaga fotografi Noorderlicht, yang berbasis di Gröningen, untuk memfoto industri gula di negara-negara bekas jajahan Belanda. Misinya, untuk menyelidiki peristiwa globalisasi melalui gula, komoditas pertama yang diperdagangkan lintas benua.

Pada 2011, keenam jurufoto itu berangkat ke Indonesia, Suriname, Brasil, dan Belanda. Masing-masing jurufoto mengunjungi dua negara: Tomaszewski ke Indonesia dan Belanda; Kashi dan Zizola ke Brasil dan Belanda; Delano dan Chaskielberg ke Suriname dan Belanda; serta De Keyzer ke Indonesia dan Belgia. Pada akhir penugasan, setiap jurufoto diminta mengumpulkan sejumlah foto hasil bidikannya dari masing-masing negara kepada Noorderlicht.

Yang baru kemudian saya ketahui, selain memamerkan foto-foto tersebut, Noorderlicht juga menyediakan foto-foto lama tentang industri gula pada masa kolonisasi Belanda, bertarikh akhir abad ke-19 hingga awal abad ke-20. Di dalam pameran yang diadakan di Langgeng Art Foundation, Yogyakarta, foto-foto kolonial yang dipinjam dari sejumlah museum tersebut dipajang di galeri bawah, sementara foto-foto baru dipajang di galeri atas.

Foto-foto baru karya Tomaszewski, Kashi, De Keyzer, Delano, Chaskielberg, dan Zizola dipamerkan di galeri atas. Foto: Budi N.D. Dharmawan

Foto-foto baru karya Tomaszewski, Kashi, De Keyzer, Delano, Chaskielberg, dan Zizola dipamerkan di galeri atas. Foto: Budi N.D. Dharmawan

Foto-foto arsip yang dipinjam oleh Noorderlicht dari sejumlah lembaga dan museum dipamerkan di galeri bawah. Foto: Budi N.D. Dharmawan

Foto-foto arsip yang dipinjam oleh Noorderlicht dari sejumlah lembaga dan museum dipamerkan di galeri bawah. Foto: Budi N.D. Dharmawan

Yang juga baru saya ketahui ketika pameran berlangsung, Noorderlicht bertindak sebagai pengumpul materi saja, sementara presentasi karya diserahkan kepada kurator lokal, yang di Yogyakarta dipasrahkan kepada Akiq A.W. dan MES 56, sebuah kelompok seniman berbasis medium fotografi. Kurator lokal diberi kebebasan untuk mengubah, mengurangi, atau menambahkan materi yang disediakan, serta meletakkannya pada konteks lokal sesuai pemahaman mereka. Dengan demikian, presentasi karya pada setiap pameran bisa berbeda. Pameran serupa di Jakarta, yang ditangani oleh kelompok seniman Ruang Rupa, misalnya, sangat berbeda dari pameran di Yogyakarta.

02

Dari ratusan foto yang disediakan, Akiq A.W. memilih 177 foto baru dan 143 foto arsip untuk dipamerkan. Foto-foto arsip (paling lama 1878 dan paling baru 1940) diurutkan berdasarkan negara tempat foto diambil, sementara foto-foto baru disusun berdasarkan topik yang terbaca oleh kurator—tidak berdasarkan negara ataupun jurufoto penciptanya. Di dalam pengantar kuratorialnya, Akiq memaparkan keputusannya membagi pameran ini menjadi empat subtema: (1) warisan industri gula era kolonial, (2) industri gula dan hubungan kuasa, (3) teknologi pengolahan gula, dan (4) produk-produk turunan gula.

Di dalam mengurasi pameran ini, Akiq mencoba melakukan pembacaan kritis tentang hubungan Subjek dan Objek, khususnya terkait dengan kolonialisme. Menurut Akiq, negara-negara bekas jajahan Belanda yang difoto masih “dijajah” lagi karena Noorderlicht tidak menyertakan satu pun jurufoto lokal untuk memfoto negaranya sendiri. Negara-negara ini masih harus dicitrakan menurut mata asing yang melihatnya, dan bukan mata anak negerinya sendiri.

Pun menyoal kolonialisme di dalam konteks penjajahan Belanda seabad yang lalu, foto-foto arsip yang dipamerkan memberi kita kesempatan untuk melihat kembali soal-soal seputar penjajahan: Soal hubungan sosial kompeni dengan pribumi, soal gestur tubuh yang menyiratkan hubungan kuasa, soal pembangunan dan penguasaan teknologi, juga soal Politik Etis, yang diwujudkan dengan pendidikan bagi pribumi, di samping irigasi dan transmigrasi, dan sebagainya.

Di dalam menata letak foto-foto baru, Akiq juga menekankan pembacaannya soal Barat dan Timur: Betapa di Barat industri gula demikian maju secara teknis dan pembahasan gula dilakukan di dalam rapat parlemen, sementara di Timur kita masih memakai mesin yang sama dengan seabad yang lalu dan kita menyembelih sapi dan kerbau sebelum mulai masa giling tebu. Hubungan Barat dan Timur ini pun terbaca di dalam foto-foto arsip, di mana bangsa Barat (Eropa atau penjajah) tergambarkan berposisi lebih tinggi atau lebih terhormat terhadap bangsa Timur (terjajah).

Yang juga menarik dari foto-foto baru karya enam jurufoto kenamaan itu adalah bahwa seolah-olah masing-masing jurufoto saling melengkapi di dalam membangun narasi soal gula ini. Chaskielberg, misalnya, memanfaatkan cahaya bulan untuk mencapai visualisasi warna-warni yang dramatis dari puing dan sisa bangunan pabrik gula yang tidak beroperasi lagi di Suriname. Delano, dengan foto hitam-putihnya, menggunakan teknik cetak yang membuat fotonya tidak kalah dramatis dengan foto Chaskielberg. Hanya saja pendekatan Delano lebih antropologis, dengan mengikuti orang-orang yang dahulu bekerja di pabrik gula di Suriname dan Belanda.

Potret-potret karya Francesco Zizola. Foto: Budi N.D. Dharmawan

Potret-potret karya Francesco Zizola. Foto: Budi N.D. Dharmawan

Zizola membuat sejumlah potret pekerja pabrik gula, yang kemudian memberi wajah kepada kisah tentang gula ini secara keseluruhan. De Keyzer dan Kashi menggambarkan penggunaan gula masa kini: roti, kue, dan gula-gula. Kashi dan Zizola memfoto industri gula di Brasil dan Belanda yang telah mengalami modernisasi: Pekerja kebun berseragam, pemupukan dilakukan menggunakan alat tanpa peraga, mesin giling dikendalikan dengan komputer, serta pabrik yang terang dan bersih. Di Indonesia, Tomaszewski mendokumentasikan upacara selamatan yang menandakan dimulainya masa giling tebu dan mengabadikan mesin-mesin tua yang masih digunakan untuk menggiling tebu.

03

Kisah gula di Indonesia sesungguhnya sudah dimulai sejak jauh sebelum Belanda datang ke wilayah Nusantara. Tebu masuk ke Nusantara dibawa oleh pendatang dari Cina pada abad ke-15. Pendatang dari Cina ini pula yang lantas mulai membuat pabrik gula di Jawa. Bahkan pada masa penjajahan Belanda, banyak pabrik gula sesungguhnya dimiliki orang Cina, dan bukan Eropa. Selama abad ke-18, industri gula di Jawa mengalami penurunan. Pada 1710, ada 130 pabrik gula beroperasi di Jawa. Jumlahnya menurun menjadi 55 saja pada 1776.

Upacara selamatan sebelum memulai masa giling tebu di sejumlah pabrik gula di Jawa, karya Tomasz Tomaszewski. Foto: Budi N.D. Dharmawan

Upacara selamatan sebelum memulai masa giling tebu di sejumlah pabrik gula di Jawa, karya Tomasz Tomaszewski. Foto: Budi N.D. Dharmawan

Industri gula baru menjadi salah satu mata projek kolonial pada masa Tanam Paksa (Cultuurstelsel). Sistem ini diberlakukan pada 1830 untuk menutup kerugian Kerajaan Belanda akibat besarnya biaya yang dihabiskan untuk perang, salah satunya Perang Jawa yang dikobarkan Pangeran Dipanagara pada 1825–1830. Gubernur Jenderal Van den Bosch kala itu mengharuskan petani menyisakan 20% tanahnya untuk ditanami komoditas yang laku di pasar: kopi, nila, dan tebu. Namun demikian, akibat terus menurunnya jumlah pabrik gula di Hindia Belanda (tercatat tinggal empat yang beroperasi pada 1870), waktu itu tebu dikirim ke Belanda untuk diolah.

Kebijakan Tanam Paksa, yang dijalankan selama 40 tahun ini terbukti menyelamatkan keuangan Belanda. Pada 1860, tercatat 72% pendapatan Belanda diperoleh dari Jawa saja. Lepas masa Tanam Paksa pada 1870, diterbitkanlah Undang-undang Agraria dan Undang-undang Gula. Kebijakan ini mendukung liberalisasi ekonomi dan mendorong pembangunan pabrik-pabrik gula swasta di Jawa. Pada 1914, jumlah pabrik gula operasional di Jawa meningkat hingga menjadi 190. Yang menarik, seolah mengikuti pola yang sama, di kota-kota tempat berdirinya pabrik gula ini, berkembang pula studio-studio fotografi komersial.

Fotografi sendiri sudah masuk ke Hindia Belanda pada 1841, hanya dua tahun saja sejak penemuannya diumumkan di Prancis oleh Louis-Jacques-Mandé Daguerre pada 1839. Sejak 1840-an hingga seabad kemudian, tercatat lebih dari 500 jurufoto (studio) beroperasi di Hindia Belanda. Dari antara 500-an itu, ada empat jurufoto pribumi: A. Mohammad di Batavia (kini Jakarta), Sarto di Semarang, Najoan di Ambon, dan Kassian Cephas di Yogyakarta.

Ada satu foto Cephas yang disertakan di dalam pameran foto arsip, menggambarkan seorang lelaki Belanda berdiri tegap di tepi sungai, dengan dua orang Jawa bertelanjang dada jongkok di hadapannya, dan pada latar belakang tampak sebuah jembatan yang melintasi sungai tersebut. Foto ini secara khusus cukup mengejutkan, karena (a) foto ini tidak berasal dari koleksi lembaga K.I.T.L.V. di Leiden, Belanda, yang menyimpan sebagian besar karya Cephas, (b) foto ini tidak seperti foto-foto lain Cephas yang biasanya bersifat dokumentasi, selain karya-karya komersialnya, dan (c) foto ini kental dengan cara pandang kolonial, sehingga agak mengherankan bahwa foto semacam ini dibuat oleh seorang pribumi.

Pada perkembangannya, industri gula di Hindia Belanda mengalami pasang-surut. Pada awal 1880-an, produksi gula dunia melebihi tingkat konsumsinya, sehingga perlu dibatasi. Sementara itu, daya saing gula dari Jawa cukup rendah karena kualitasnya di bawah standar. Untuk meningkatkan mutu gula, didirikan sejumlah lembaga penelitian gula, yaitu (1) Proefstation Het Midden Java di Semarang pada 1885, (2) Proefstation Suikkeret in West-Java di Tegal pada 1886, dan (3) Proefstation Oost-Java di Pasuruan pada 1887.

Lembaga penelitian gula di Pasuruan kini dikenal denan nama Pusat Penelitian Perkebunan Gula Indonsia. Pada 1921, setelah melalui berbagai ujicoba kawin silang varietas tebu, penelitian di Pasuruan menemukan varietas unggul yang diberi nama P.O.J. 2878. Tebu jenis ini tahan hama dan produktivitasnya tinggi, sehingga ditanam besar-besaran tidak hanya di Jawa, namun juga di Karibia, Louisiana, dan Kolumbia.

Pabrik Gula Madukismo di Bantul, Yogyakarta bisa terus menggiling tebu tanpa henti selama enam bulan pada 1980-an. Kini, masa giling hanya berlangsung selama sekitar 100 hari. Tahun ini, Indonesia diperkirakan akan mengimpor 300 ribu ton gula, karena produksi gula nasional hanya mencapai sekitar 600 ribu ton dari perkiraan kebutuhan nasional 900 ribu ton. Padahal, seabad yang lalu, Jawa adalah produsen gula terbesar di dunia.

04

Adalah karena gula, orang Jawa dibawa ke Suriname pada masa penjajahan Belanda. Di dalam temu wicara sehari setelah pembukaan pameran di Yogyakarta, pakar perkebunan Dr. Agus Pakpahan menyampaikan, bahwa orang Belanda kala itu memandang perlu mendatangkan orang Jawa untuk mengurus perkebunan tebu di Suriname. Orang Jawa lebih memahami tebu; tahu masalah dan jalan keluar seputar tanaman tebu, serta tahu kapan mesti menanam dan kapan mesti memanen.

Sisa-sisa industri gula di Suriname karya James Whitlow Delano. Foto: Budi N.D. Dharmawan

Sisa-sisa industri gula di Suriname karya James Whitlow Delano. Foto: Budi N.D. Dharmawan

Di dalam pameran foto arsip mengenai Suriname dapat kita lihat sejumlah wajah Jawa. Bahkan, ada foto yang mendokumentasikan pendaratan kapal yang membawa mereka ke Suriname. Di dalam pameran foto baru, jejak orang Jawa di Suriname adalah salah satu hal yang ditelusuri oleh jurufoto Amerika Serikat James Whitlow Delano, di samping jejak orang Jawa dan Suriname di Belanda.

Bisa jadi adalah karena gula pula, fotografi berkembang di Hindia Belanda, khususnya Jawa. Studio foto di Jawa berkembang mengikuti pola perkembangan industri gula—di mana ada pabrik gula, di kota itu bermunculan studio foto. Barangkali agak keterlaluan karena kesimpulan ini diambil tanpa menelaah lebih jauh, tetapi pola ini bukan kebetulan. Fotografi pada masa itu cukup mahal, sehingga biaya pembuatan sebuah foto hanya dapat ditebus oleh mereka yang beruang, yakni pegawai administrasi pabrik gula.

Di sisi lain, perkembangan industri gula, khususnya pada masa tumbuhnya pabrik gula swasta, memunculkan golongan ekonomi baru yang kemudian memiliki kebutuhan baru, ketika bersinggungan zaman dengan masa awal perkembangan fotografi: kebutuhan menampilkan diri. Pada masa sebelumnya golongan ningrat dan juragan menampilkan dirinya melalui potret yang dilukis sebagai simbol status; pada masa ini golongan menengah menampilkan dirinya di dalam sebuah foto. Selain potret diri, foto yang umum dijumpai saat itu adalah potret bersama (keluarga beserta pembantu dan anjing peliharaan, atau kelompok lain), foto bangunan (rumah dan pabrik), dan foto pembangunan (jembatan, rel kereta api, kabel listrik).

Souvenier aan den Resident van Sumatra Oostkust, S. Locker de Bruijne van H.C. van Akkere, Bengkalis, 1877

Souvenier aan den Resident van Sumatra Oostkust, S. Locker de Bruijne van H.C. van Akkere, Bengkalis, 1877

Cara menampilkan foto pada masa itu juga lazimnya berwujud album, yang kerap diberi judul Souvenir. Album-album ini biasanya dibuat oleh orang Belanda yang bekerja di tanah jajahan untuk dikirimkan kembali kepada keluarganya di Belanda—sebab itu judulnya Souvenir; oleh-oleh. Di dalam menjawab kebutuhan konsumen, studio foto biasanya juga sudah menyiapkan sejumlah foto stok yang menggambarkan pemandangan alam tanah jajahan. Foto stok ini bisa dibeli secara lepas untuk dimasukkan ke dalam album, bersama dengan foto potret si pemesan album. Oleh karenanya, cukup wajar jika sebuah gambar muncul di dalam beberapa album.

Dari koleksi-koleksi pribadi inilah sejarah dibangun, selain juga dari koleksi museum yang sejak awal dibuat untuk tujuan penelitian dan dokumentasi, seperti foto-foto Kassian Cephas untuk K.I.T.L.V. Salah satu tujuan projek The Sweet and Sour Story of Sugar yang diinisiasi oleh Noorderlicht ini adalah melihat kembali catatan sejarah dan membandingkannya dengan catatan baru, melalui medium fotografi. Melalui pameran di Langgeng Art Foundation ini, kita pun dapat melihat, banyak hal yang berubah setelah pergantian zaman selama seabad, namun ada juga yang tidak berubah.

Bagi saya sendiri, pengalaman melihat pameran ini sungguh luar biasa. Selain karena kesempatan langka melihat foto-foto arsip museum dan foto-foto baru karya jurufoto klas dunia, juga karena ada banyak hal yang bisa dipelajari dari pameran ini. Moga-moga, demikian juga untuk rekan-rekan sekalian. ∎

Budi N.D. Dharmawan adalah seorang jurufoto independen yang ikut mendirikan Cephas Photo Forum pada 2010. Pada awal November 2012, Budi diundang mengikuti lokakarya Fotografi Kolonial, sebagai bagian dari rangkaian acara pameran The Sweet and Sour Story of Sugar di Yogyakarta (lihat catatan Budi selama lokakarya di sini dan di sini). Selama pameran berlangsung sejak November 2012 hingga Januari 2013, diadakan empat kali kunjungan terpandu dengan Budi sebagai salah satu pemandu, bersama Antariksa dari Kunci Cultural Studies Center dan Akiq A.W. dari MES 56. Tulisan ini adalah catatan pribadi Budi mengenai pameran tersebut. Terimakasih kepada Antariksa untuk tambahan informasi kesejarahan dan kepada Akiq A.W. untuk tambahan informasi kuratorial.

____________________________________________
Pameran foto The Sweet and Sour Story of Sugar
Tomasz Tomaszewski, James Whitlow Delano, Carl de Keyzer, Francesco Zizola, Alejandro Chaskielberg, dan Ed Kashi untuk Noorderlicht
Langgeng Art Foundation (Galeri 1 dan 2), Jl. Suryodiningratan 37, Yogyakarta
9 November 2012 – 22 Januari 2013
Kurator: Akiq A.W. dan MES 56

Review: Jakarta: Estetika Banal oleh Erik Prasetya

Artikel ini diterjemahkan dari tulisan asli di blog pribadi saya.

Akhirnya buku yang telah lama saya tunggu-tunggu ini saya dapatkan juga. Begitu saya membaca tweet Rony Zakaria yang baru saja membeli buku ini, pada hari berikutnya saya langsung menuju ke toko buku favorit saya untuk mengecek apakah buku tersebut sudah tersedia. Dan benar saja, ada tiga buah di sana. Dengan cepat saya ambil satu dan segera menuju kasir karena toh memang saya tidak punya uang lebih untuk membeli buku lain. Ketika akhirnya saya membuka-buka halaman buku ini, saya benar-benar terpukau. Seringkali, ketika harapan kita terlalu tinggi, pada akhirnya kita akan kecewa karena hal yang kita harapkan itu ternyata tidak sebaik yang kita kira. Tapi untungnya tidak demikian kasusnya dengan buku ini.

Estetika Banal pertama kali dipublikasikan dan diluncurkan pada bulan Desember lalu, membarengi sebuah pameran foto-foto dari buku ini di rangkaian acara Jakarta International Photo Summit 2010 (INTAKEs juga sempat memposting rangkuman diskusi dengan Erik Prasetya di acara “Through the Horizon of Seeing”). Namun ternyata pada saat itu buku riilnya sendiri belum terwujud, yang ada pada acara peluncuran tersebut hanya sebuah buku dummy. Barulah pada bulan Januari kemarin buku ini mulai masuk percetakan dan akhirnya dirilis.

Sebelum saya memulai resensi ini, ijinkan saya untuk menjelaskan kenapa saya sangat mengantisipasi kehadiran buku ini. Walaupun Erik Prasetya adalah fotografer kawakan yang dikenal luas, hingga saat ini Estetika Banal adalah satu-satunya buku foto darinya. Terakhir kali karya-karyanya bisa dilihat dalam bentuk buku adalah di tahun 2005 pada buku Yang Tercinta, yang merupakan hasil kolaborasi 8 orang fotografer. Setelah itu, saya baru melihat foto Erik lagi di katalog pameran Jakarta International Photo Summit 2007. Foto-fotonya di katalog inilah yang membuat saya semakin tertarik. Saya masih ingat ketika itu saya berpikir, “Inikah pionir street photography di Indonesia yang selama ini kita cari-cari?”

Ketika ketertarikan akan street photography di negeri ini mulai meningkat, kebanyakan praktisi-praktisi mudanya (termasuk saya) tahu dan belajar tentangnya melalui internet, terinspirasi oleh fotografer-fotografer legendaris dari luar negeri. Tentunya kita juga pernah bertanya-tanya apakah ada fotografer-fotografer lokal semacam ini, mereka yang mendokumentasikan kehidupan sehari-hari di kota-kota di Indonesia. Sayangnya keterbatasan informasi membuat kita sulit menemukan mereka. Terkadang kita menemukan beberapa foto lama yang menarik yang bisa kita lihat sebagai street photography, tetapi tidak ada informasi apapun tentang foto tersebut; apakah ia bagian dari project yang lebih besar dan lain sebagainya. Kurangnya informasi ini membuat kita akhirnya kembali menengok sumber-sumber luar negeri. Namun kemudian yang saya rasakan, mempelajari foto-foto hebat dari luar negeri itu ada kelemahannya juga: Hal-hal yang kita temui sehari-hari di sini sama sekali tidak sama dengan adegan-adegan yang ada di foto-foto favorit kita dari luar negeri. Segalanya berbeda. Terkadang sehabis pulang memotret, saya melihat foto-foto yang saya buat dan berpikir, “Apakah ini adegan yang cukup menarik? Apakah ini solusi paling efektif dari problem visual yang saya hadapi tadi? Bagaimana saya bisa tahu? Bagaimana ya seorang street photographer berpengalaman dari Indonesia akan memecahkan masalah visual seperti ini?” Sulit untuk menjawabnya ketika kita tidak memiliki preseden. Namun sekarang dengan terbitnya Estetika Banal, saya merasa bahwa kita akhirnya memiliki satu dasar pijakan yang kuat untuk berdiskusi, membandingkan, dan yang terpenting mengembangkan street photography dengan ‘rasa’ Indonesia.

Sekarang mari kita mulai membedah buku ini. Estetika Banal adalah narasi pribadi Erik akan Jakarta, kota yang telah ditinggalinya selama lebih dari 20 tahun—foto terlama di buku ini dibuat tahun 1990 sementara yang terbaru baru saja dibuat Oktober 2010 kemarin. Di tulisan pembuka untuk buku ini, pemerhati fotografi Firman Ichsan menulis bahwa melalui karya-karyanya, Erik “mengkritik pendekatan estetik klasik, bahkan menyatakan adanya estetika kelas menengah pada kebanyakan jurufoto yang cenderung voyeur atau romantik, kalau tidak eksotik—hal yang harus diatasi para jurufoto saat merekam satu situasi untuk mendapatkan keadaan yang sebenarnya.” Sejujurnya, untuk ukuran tahun 2011 topik ini terdengar agak ketinggalan jaman, karena pada saat ini justru sudah banyak sekali fotografer yang mengangkat topik-topik dari domain pribadi di karya-karya mereka ketimbang berusaha menunjukkan/menjelaskan sesuatu yang eksotik. Mungkinkah topik ini tetap diangkat karena di bidang dokumenter dan fotojurnalistik Indonesia isu ini dianggap masih cukup lazim ditemui? Namun demikian, harus dimengerti juga bahwa Erik telah memulai menggarap project buku ini selama satu dekade lebih, sehingga buku ini tetap bisa dilihat sebagai sebuah opini yang relevan di jamannya, yang sayangnya keluar agak terlambat.

Poin lain yang menarik adalah, menurut saya bagaimanapun kita masih akan tetap bisa dituduh melakukan voyeurisme selama kita masih memotret orang lain. Namun Erik berargumen, bahwa ia tidak memotret Yang Lain, karena subyek-subyek yang ia potret berasal dari latar belakang/kelas sosial yang sama dengannya. Apakah hal ini memecahkan masalah, itu terserah anda untuk menilainya. Yang jelas, cara ia memotret Jakarta terlihat alami dan tidak dipaksakan. Saya sendiri sempat tinggal di Jakarta meski tidak cukup lama (1996-2000), dan menurut saya Erik berhasil menangkap atmosfer kota ini di foto-fotonya. Dia memang tidak menyentuh aspek-aspek ekstrim tertinggi dan terendah dari kota ini, tapi hal-hal yang dia pilih untuk diangkat, cukup bisa menyampaikan cerita dan pendapatnya.

Buku ini terdiri dari delapan bab, dimana setiap bab tidak berjudul, namun ditandai oleh sepotong puisi yang memulai sebuah bab baru. Perkawinan antara foto dan kata-kata buat saya adalah sesuatu yang sangat sulit dilakukan, karena seringkali salah satunya akan membebani yang lain. Tapi hal itu tidak terjadi di sini. Potongan-potongan puisi yang dipilih, walaupun pendek, dengan cantik menciptakan sebuah nuansa yang spesifik untuk foto-foto yang mengikutinya. Mereka menggelitik keingintahuan, tanpa benar-benar menggambarkan foto-fotonya sehingga pengalaman yang kita dapat dalam menikmati buku ini tidak rusak. Puisi-puisi ini bisa dinikmati dalam keseluruhannya di akhir buku.

Foto-foto dalam buku ini sendiri pun memang sudah sangat kuat. Dan yang paling menarik perhatian saya, tidak hanya foto-foto ini kuat berdiri sendiri, mereka juga tetap kohesif ketika dilihat secara keseluruhan. Jelas sekali banyak pertimbangan yang telah dilalui dalam proses penyuntingannya. Walaupun sebenarnya tidak ada ‘cerita’ di sini, tapi pengurutan foto-fotonya memberi sugesti adanya narasi di sini, yang dimulai dari semata-mata deskripsi akan kota Jakarta di bab-bab awal, hingga pelan-pelan menjadi pernyataan yang subyektif dari sang penulis akan kota itu dan perkembangannya yang bisa dilihat dari wajah-wajah penduduknya di bab-bab akhir. Tiap foto memiliki caption, dan walau sebagian besar dari caption foto tersebut hanya menunjukkan lokasi dan tahun di mana fotonya dibuat, ada juga caption yang memberi tambahan informasi menarik yang tidak hanya secara obyektif menjelaskan situasi yang ada di foto namun juga hal-hal menarik lain di sekeliling pembuatan foto tersebut, memberikan makna tambahan yang lebih luas padanya.

Dalam skala yang lebih kecil, banyak juga pasangan foto di dua halaman yang berhadapan yang menarik, sebagian karena adanya kesamaan elemen visual ataupun hubungan jukstaposisi di antara mereka, sebagian lagi karena timbulnya cerita mini akibat foto-foto komplementer yang berdampingan. Sebagian sampel dari foto-fotonya saya tampilkan di sini. Ini buku yang bisa tetap dinikmati walau dilihat berulang-ulang.

Berdasarkan semua hal yang saya sebutkan di atas, buat saya ini adalah buku yang harus dimiliki oleh peminat street photography di tanah air, atau penggemar buku foto apapun. Saya bukan orang yang berpengetahuan luas di bidang buku foto, namun saya merasa buku ini nantinya akan bisa dilihat sebagai suatu tonggak sejarah dalam perkembangan fotografi di negeri ini. Setidaknya, sebagai fotografer yang juga tengah berusaha untuk mendokumentasikan sebuah kota yang sudah saya anggap kampung halaman, saya merasa belajar banyak dari buku ini.

 

Jakarta: Estetika Banal
Kepustakaan Populer Gramedia, bekerjasama dengan Dewan Kesenian Jakarta
Hardcover 192 halaman; 30cm x 24cm
Rp 175.000