Category Archives: Presentation

Cephas Photo Forum Presentation: ENCOUNTERS by Rony Zakaria

presentation25-ronyzakaria

 

“The only constant in life is change. Through time one’s life changes, a city develops, a journey continues or ends. In the last six years I lived in and out of Jakarta, I collect snapshots as I became part of the big city, and also when I travel, unattached from the system temporarily. It is a continuing voyage of witnessing dreams and hopes, which sometimes one step darker, and the other time, lighter. As like looking through a glass window, all seems absurd and yet real as reality. And we differently kept collecting questions that seeks for answers, the ones that is right for each of us, so we can keep on living through these encounters.”

Cephas Photo Forum presents:
Encounters by Rony Zakaria – a visual monograph

Rony Zakaria graduated with a degree in Mathematics and Computer Science. He started his career as a photographer after finishing his studies at university. He studied photojournalism at Galeri Foto Jurnalistik Antara. In 2009 he studied as a fellow at Asian Center For Journalism in Manila Philippines.

Rony has received several awards for his works which includes NPPA Best of Photojournalism and Mochtar Lubis Award Grant.

He lives in Jakarta but continues to travel.

Encounters is his first monograph.

www.ronyzakaria.com

——

Friday, 05 April 2013,18.30
Rumah Kelas Pagi Yogyakarta
Jalan Brigjen Katamso, GM II/1226
Yogyakarta

This event is open for public and free. Encounters books are available to purchase at the event.

 

Cephas Photo Forum Presentation: Doni Maulistya + Michael Eko

god please gimme the wind blow

CEPHAS PHOTO FORUM kembali menggelar presentasi dan diskusi fotografi. Kali ini, kami menampilkan dua presenter, Doni Maulistya dan Michael Eko, dua dari delapan pendiri Cephas Photo Forum sendiri.

***

DONI MAULISTYA lahir di Yogyakarta pada 1987, pernah menjadi mahasiswa Jurusan Fotografi di ISI, namun memutuskan berhenti pada 2008. Aul mengikuti Angkor Photo Workshop pada 2009 di Kamboja dan Foundry Photojournalism Workshop pada 2010 di Turki. Aul kemudian lebih memilih menjadi seorang seniman.

Pada pertengahan 2012, Aul mengikuti sebuah program residensi seniman di Objectifs Centre for Photography and Filmmaking di Singapura. Setelah sebulan berproses, Aul menutup residensinya dengan sebuah pameran. Karya-karya residensinya kini sedang dipamerkan kembali di Yogyakarta. Di dalam presentasi ini, Aul akan berbagi pengalaman selama residensi di Singapura.

***

MICHAEL EKO kali pertama mendarat di Pulau Kalimantan pada 2007. Saat itu, penduduk lokal berkata, bahwa ketika seorang pendatang meminum air Sungai Kapuas, ia akan kembali lagi. Awalnya, ia kurang percaya, namun kehidupan berkata lain. Pada tahun-tahun berikutnya, ia banyak melakukan perjalan ke pulau ini: memotret dan jatuh cinta dengan alam serta kebudayaan masyarakatnya yang kaya. Hingga saat ini ia masih memotret Pulau Kalimantan sebagai projek personal jangka panjangnya.

Borneo adalah pulau terbesar ketiga di dunia, setelah Greenland dan Papua. Kalimantan dikarunia kekayaan yang melimpah, dari keanekaragaman hayati hingga sumber daya alam yang tersimpan di perut bumi. Ironisnya, saat ini Kalimantan berhadapan dengan banyak ancaman dan tantangan. Pada presentasi ini, Mike akan memperlihatkan gambar-gambar hasil perjumpaannya dengan kehidupan di pulau ini selama beberapa tahun. Projek fotografi ini masih berlangsung dan masih terbuka dengan kemungkinan-kemungkinan yang akan terjadi.

***

Selasa, 29 Januari 2013, 18.00
Rumah Kelas Pagi Yogyakarta
Jalan Brigjen Katamso, GM II/1226
Yogyakarta

Presentasi ini terbuka untuk umum dan tidak dipungut biaya.

Cephas Photo Forum Presentation: Goddess of Pantura by Arum Tresnaningtyas Dayuputri

Musik dangdut dikenal luas oleh kebanyakan masyarakat Indonesia. Kekuatan genre musik ini datang dari nada-nada yang mudah didengar dan lirik sederhana yang mampu menggambarkan hampir semua problema kehidupan masyarakat. Bisa dibilang, dangdut adalah musik sekaligus bagian kehidupan itu sendiri.
Diana Sastra, 34, ibu tiga anak, bahkan memberi arti lebih pada musik ini. Ia adalah seorang penyanyi dangdut yang terkenal di daerah pesisir utara Jawa. “Ini cara saya mencari nafkah. Terkadang saya merasa letih, tapi inilah cara saya hidup,” ujarnya.

Masyarakat di daerah pesisir utara dimana Diana tinggal mengembangkan musik dangdut gabungan baru yang dikenal dengan nama Dangdut Pantura. Musik ini dipengaruhi oleh musik tradisional tarling, yang diambil dari instrumen yang paling sering digunakan di musik tradisional ini, yakni gitar dan seruling. Selama lebih dari 6 dekade, tarling telah menjadi hiburan yang sangat populer bagi rakyat.

Diana dan grup dangdutnya yang bernama Dian Prima Entertainment mencoba untuk merebut hati masyarakat lewat penampilan mereka. Bagi Diana sendiri, ini adalah sebuah perjalanan panjang. Dia harus mengorbankan waktu berharga untuk bisa berkumpul bersama suami dan anak-anaknya. Tapi pertunjukan harus tetap berjalan.

—-

Arum Tresnaningtyas Dayuputri, lahir 12 April 1984, adalah seorang penulis lepas dan fotografer dokumenter. Saat ini ia tinggal di Bandung.

Arum memperoleh gelar Sarjana Komunikasi dari Universitas Sebelas Maret Solo. Ia memulai karirnya di bidang fotojurnalistik sebagai staf fotografer di Harian Kompas (2007 – 2010) dan saat ini meneruskan karirnya sebagai fotografer lepas.

Ia telah berpartisipasi dan menyelesaikan beberapa workshop, di antaranya Angkor Photography Workshop bersama Olivier Nelson (2010) dan Photo Meeting of Stream Photo Asia di Bangkok bersama Patrick Brown (2011).

Selain itu Arum juga membagi pengetahuan fotografinya dengan membuat kelas “Kami Punya Cerita” di Tobucil Bandung. Peserta kelas ini mulai dari ibu rumah tangga, guru, crafter, perajut, dsb. yang memiliki minat dalam fotografi.

www.arumaum.com

—-

Acara ini terbuka untuk UMUM dan GRATIS.