Author Archives: Cephas Photo Forum

Presentation Summary: Goddess of Pantura by Arum Tresnaningtyas Dayuputri

Ditulis oleh Saila M. Rezcan

Apa yang terlintas di pikiran anda ketika mendengar kata “Dangdut Pantura”? Apakah sebuah musik yang kerap menemani perjalanan bus-bus antarkota di Pulau Jawa? Ataukah musik dengan nada-nada khas tarling (gitar-seruling) yang aduhai? Atau mungkin sesosok biduan perempuan dengan tubuh indah dan balutan pakaian seksi yang sedang menyanyi di atas panggung? Dalam sebuah ongoing project berjudul “Goddess Of ‘Pantura’”, Arum Tresnaningtyas Dayuputri mencoba mendokumentasikan seluk-beluk Dangdut Pantura. Hari Kamis, 31 Mei 2012 bertempat di Kelas Pagi Yogyakarta, Cephas Photo Forum menggelar diskusi terbuka mengenai projek tersebut.

Projek foto dokumenter ini berawal dari tugas akhir yang harus Arum kerjakan demi menyelesaikan kuliah fotografinya di Ateneo de Manila University. Namun ternyata setelah melakukan riset dan eksekusi awal, ia merasa  ia harus menggarapnya secara lebih serius, sebagai sebuah projek personal. Saat itu Arum berpikir, dangdut—musik yang disukainya—belum banyak menjadi perhatian orang Indonesia sendiri. Referensi yang ada kebanyakan justru ditulis oleh orang asing, karena itu ia merasa tergerak untuk menggarap projek ini dengan total dan sekalian menjadikannya sebuah buku.

Jika melihat foto-foto hasil eksekusi awal projek ini, akan sangat terlihat bahwa Arum masih kurang melakukan riset dan eksplorasi. Ia sendiri mengakui bahwa ia ke lapangan tanpa terlebih dahulu melakukan riset dan menulis rancangan projeknya. Ia memang ingin melakukan riset visual dan pendekatan terlebih dahulu. Tentu saja tidak banyak yang bisa kita harapkan dari eksekusi semacam ini, mengingat langkah awal dari sebuah penggarapan foto dokumenter adalah riset yang matang. Arum pun mengakui, dari eksekusi awal tersebut ia merasa foto-fotonya tidak terarah sehingga cukup menyulitkan dalam proses kurasi.

 

©Arum Tresnaningtyas Dayuputri

 

Adalah Diana Sastra—seorang penyanyi dangdut terkenal di kalangan pecinta Dangdut Pantura—beserta grup musiknya, yang dijadikan fokus cerita oleh Arum. Dari apa yang dipaparkan Arum, Diana memiliki cerita hidup yang sangat menarik untuk divisualkan. Mulai dari perjalanan karirnya di kancah dangdut hingga kehidupannya yang “sangat dangdut” karena beberapa kali kawin-cerai. Namun secara visual, foto-foto yang dihasilkan Arum justru belum bercerita banyak. Boleh dikatakan, paparan Arum mengenai kehidupan Diana jauh lebih bercerita ketimbang fotonya sendiri.

Ibaratnya, foto-foto Arum barulah memasuki intro dalam sebuah musik dangdut pantura. Di sana belum keluar nada-nada tarling yang khas serta cengkok vokal menggetarkan hati. Sehingga ia belum dapat disebut sebagai musik yang hidup dan utuh. Selain itu, pengalamannya menjadi pewarta foto sebuah media cetak turut berkontribusi dalam variasi angle dan komposisi yang ia pilih. Sehingga foto-foto yang ada terasa sangat berjarak dan monoton, seolah belum ada emosi yang masuk di dalamnya.

Namun hal ini menjadi wajar mengingat projek ini merupakan ongoing project, sehingga masih sangat banyak yang perlu dilakukan Arum untuk melengkapinya. Satu hal yang perlu ditekankan adalah visi Arum sendiri, sebenarnya apa yang ingin dia sampaikan melalui projek ini? Karena isu yang ia angkat merupakan isu yang sangat seksi dan relatif dapat berbicara banyak hal. Jika tidak merancang konsep dengan cermat, bisa-bisa ia terjebak pada eksekusi yang dangkal: bicara banyak hal, namun pada akhirnya tidak menceritakan apapun. Ada baiknya Arum memfokuskan diri pada hal-hal kecil untuk digali lebih dalam, sehingga nantinya hal kecil tersebut dapat menjelaskan konteks sosio-kultural yang lebih luas.

©Arum Tresnaningtyas Dayuputri

©Arum Tresnaningtyas Dayuputri

 

Tentu bukan hal mudah ketika kita harus mengubah “cara melihat” dari gaya news menjadi documentary, mengingat Arum telah terbiasa bekerja dengan gaya news. Dalam sebuah artikel berjudul “Photojournalism and Documentary Photography”, Antonin Kratochvil dan Michael Persson menulis:

“…There is photojournalism and there are photo documentaries: Identical mediums, but conveying very different messages. Documentary photographers reveal the infinite number of situations, actions and results over a period of time. In short, they reveal life. Life isn’t a moment. It isn’t a single situation, since one situation is followed by another and another….”

Dari kutipan di atas kita dapat menyimpulkan betapa “beratnya” menggarap sebuah projek foto dokumenter dibandingkan dengan foto-foto news. Membuat foto dokumenter adalah membuat foto tentang hidup, untuk dapat melakukannya tentu terlebih dahulu kita harus masuk dalam kehidupan itu sendiri. Dibutuhkan energi yang sangat besar jika benar-benar ingin membuat foto dokumenter yang utuh dan memiliki jiwa. Tentu bukan hal mudah, apalagi jika sejak awal kita terbiasa dengan sistem kerja yang sama sekali berbeda, namun bukankah di situ tantangannya? Semoga Arum telah menyiapkan sumur energi yang tidak mudah kering airnya, sehingga harapan untuk dapat memperkaya referensi mengenai dangdut dapat terwujud dengan hasil yang memuaskan. Selamat berkarya!


Cephas Photo Forum Presentation: Goddess of Pantura by Arum Tresnaningtyas Dayuputri

Musik dangdut dikenal luas oleh kebanyakan masyarakat Indonesia. Kekuatan genre musik ini datang dari nada-nada yang mudah didengar dan lirik sederhana yang mampu menggambarkan hampir semua problema kehidupan masyarakat. Bisa dibilang, dangdut adalah musik sekaligus bagian kehidupan itu sendiri.
Diana Sastra, 34, ibu tiga anak, bahkan memberi arti lebih pada musik ini. Ia adalah seorang penyanyi dangdut yang terkenal di daerah pesisir utara Jawa. “Ini cara saya mencari nafkah. Terkadang saya merasa letih, tapi inilah cara saya hidup,” ujarnya.

Masyarakat di daerah pesisir utara dimana Diana tinggal mengembangkan musik dangdut gabungan baru yang dikenal dengan nama Dangdut Pantura. Musik ini dipengaruhi oleh musik tradisional tarling, yang diambil dari instrumen yang paling sering digunakan di musik tradisional ini, yakni gitar dan seruling. Selama lebih dari 6 dekade, tarling telah menjadi hiburan yang sangat populer bagi rakyat.

Diana dan grup dangdutnya yang bernama Dian Prima Entertainment mencoba untuk merebut hati masyarakat lewat penampilan mereka. Bagi Diana sendiri, ini adalah sebuah perjalanan panjang. Dia harus mengorbankan waktu berharga untuk bisa berkumpul bersama suami dan anak-anaknya. Tapi pertunjukan harus tetap berjalan.

—-

Arum Tresnaningtyas Dayuputri, lahir 12 April 1984, adalah seorang penulis lepas dan fotografer dokumenter. Saat ini ia tinggal di Bandung.

Arum memperoleh gelar Sarjana Komunikasi dari Universitas Sebelas Maret Solo. Ia memulai karirnya di bidang fotojurnalistik sebagai staf fotografer di Harian Kompas (2007 – 2010) dan saat ini meneruskan karirnya sebagai fotografer lepas.

Ia telah berpartisipasi dan menyelesaikan beberapa workshop, di antaranya Angkor Photography Workshop bersama Olivier Nelson (2010) dan Photo Meeting of Stream Photo Asia di Bangkok bersama Patrick Brown (2011).

Selain itu Arum juga membagi pengetahuan fotografinya dengan membuat kelas “Kami Punya Cerita” di Tobucil Bandung. Peserta kelas ini mulai dari ibu rumah tangga, guru, crafter, perajut, dsb. yang memiliki minat dalam fotografi.

www.arumaum.com

—-

Acara ini terbuka untuk UMUM dan GRATIS.

Presentation Summary: Estetika Banal by Erik Prasetya

Ditulis oleh Saila Rezcan

Pembicaraan mengenai estetika dan etika dalam fotografi mungkin sudah sering kita dengar. Tak dapat dipungkiri bahwa prinsip-prinsip estetika dalam fotografi pada awalnya memang berkiblat pada pendahulunya: seni lukis. Namun demikian, pada zaman sekarang ini, di mana segala sesuatunya telah melebur, kemudian berbagai pakem yang ada tak dapat lagi dilihat secara kaku, masihkah batas-batas estetika seni lukis tersebut “mengungkung” fotografi?

Tema besar tersebut mengisi diskusi Cephas Photo Forum pada tanggal 27 November 2011 lalu, di Kelas Pagi Yogyakarta bersama dengan Erik Prasetya, fotografer senior yang telah menerbitkan buku fotonya: Jakarta Estetika Banal. Pada diskusi tersebut Erik memaparkan tentang “fungsi” fotografi yang bersifat menyingkap, sehingga sebuah foto menjadi tidak etis ketika ia mendahulukan estetika di atas penyingkapannya. Maka dari itu, sudah tidak zamannya lagi seorang fotografer mengejar nilai-nilai estetis semata dalam fotonya, apalagi saat ini sudah sangat banyak perangkat lunak yang mampu membantu menyelesaikan masalah-masalah estetis pada sebuah foto. Dengan kata lain, Erik mengajak para fotografer untuk “mendobrak” batasan nilai estetis dalam fotografi yang saat ini cenderung terpaku pada pakem-pakem dalam seni lukis. Walaupun tidak dapat lepas begitu saja dari akarnya, sudah saatnya fotografi berani membuat nilai estetikanya sendiri.

Satu contoh menarik adalah sebuah foto pemenang World Press Photo yang menampilkan seorang korban gempa bumi yang diangkut menggunakan sebuah tandu oleh beberapa personil militer. Mulai dari angle, komposisi hingga pencahayaan yang dipilih oleh fotografer tersebut demikian indah, seperti lukisan. Hal inilah yang kemudian dianggap Erik sebagai sebuah ketidaketisan, di mana sebuah peristiwa bencana sekalipun seolah tetap harus disampaikan dengan “indah”. Seolah-olah estetika justru didahulukan di atas penyingkapan. Pertanyaan selanjutnya adalah, apakah “indah” harus selalu yang seperti itu?

Contoh lain yang tak kalah menarik adalah sebuah foto karya Rony Zakaria yang sempat ditampilkan pada diskusi tersebut. Foto tersebut memiliki subjek dan komposisi yang menurut Erik tidak akan memenuhi syarat estetika pada lukisan, yang berarti juga, tidak akan ada pelukis yang akan membuat lukisan seperti itu, karena dinilai tidak indah dan tidak penting. Namun Erik secara pribadi sangat menyukai foto itu, foto yang menampilkan anak-anak bermain bola, ada beberapa bola yang melayang di udara, kemudian tampak kepala anak-anak tersebut yang juga bulat. Sepakat dengan hal tersebut, Kurniadi Widodo mengungkapakan sebuah kalimat yang kira-kira dapat menjawab kegelisahan tersebut: “You know it when you see it”. Sehingga pada akhirnya memang tidak ada jawaban yang umum, melainkan harus melihat kasus per kasus, foto per foto. Kita bisa merasakan dan menjelaskan mengapa sebuah foto kita anggap “bekerja” namun jawaban tersebut tidak dapat digunakan untuk foto yang lain. Hal ini menyiratkan bahwa estetika memang bukan sesuatu yang seharusnya di-pakem-kan, melainkan sesuatu yang demikian subjektif dan kontekstual.

Diskusi menjadi semakin menarik ketika Layung Buworo mempertanyakan bagaimana caranya fotografi dapat “menggeser” pakem estetika tersebut menjadi lebih bebas? Jika dalam kasus lukisan, perubahan dari realis ke abstrak banyak ditentukan oleh kritikus, lalu bagaimana dengan fotografi? Siapa dan apa yang akan mementukan perubahannya?

Mungkin memang sudah saatnya para fotografer membuat ukuran lain selain media atau lomba-lomba seperti World Press Photo, karena pada dasarnya mereka adalah orang-orang yang hendak “menjual” sesuatu, sehingga tak dapat lepas dari pasar. Paling tidak kita berusaha untuk memperkaya nilai-nilai estetika tersebut dengan sesuatu yang segar, tidak semata mengekor pada seni lukis. Beberapa hal yang dapat dilakukan adalah membuat buku projek personal, pameran serta diskusi-diskusi. Sudah saatnya fotografer tidak membatasi dirinya sendiri dengan ukuran-ukuran lama mengenai keindahan, karena bukankah (sekali lagi) keindahan itu subjektif? Dan secara naluriah, manusia memang selalu mencari dan menyukai keindahan, tentunya dengan ukurannya masing-masing.