Monthly Archives: December 2011

Presentation Summary: Estetika Banal by Erik Prasetya

Ditulis oleh Saila Rezcan

Pembicaraan mengenai estetika dan etika dalam fotografi mungkin sudah sering kita dengar. Tak dapat dipungkiri bahwa prinsip-prinsip estetika dalam fotografi pada awalnya memang berkiblat pada pendahulunya: seni lukis. Namun demikian, pada zaman sekarang ini, di mana segala sesuatunya telah melebur, kemudian berbagai pakem yang ada tak dapat lagi dilihat secara kaku, masihkah batas-batas estetika seni lukis tersebut “mengungkung” fotografi?

Tema besar tersebut mengisi diskusi Cephas Photo Forum pada tanggal 27 November 2011 lalu, di Kelas Pagi Yogyakarta bersama dengan Erik Prasetya, fotografer senior yang telah menerbitkan buku fotonya: Jakarta Estetika Banal. Pada diskusi tersebut Erik memaparkan tentang “fungsi” fotografi yang bersifat menyingkap, sehingga sebuah foto menjadi tidak etis ketika ia mendahulukan estetika di atas penyingkapannya. Maka dari itu, sudah tidak zamannya lagi seorang fotografer mengejar nilai-nilai estetis semata dalam fotonya, apalagi saat ini sudah sangat banyak perangkat lunak yang mampu membantu menyelesaikan masalah-masalah estetis pada sebuah foto. Dengan kata lain, Erik mengajak para fotografer untuk “mendobrak” batasan nilai estetis dalam fotografi yang saat ini cenderung terpaku pada pakem-pakem dalam seni lukis. Walaupun tidak dapat lepas begitu saja dari akarnya, sudah saatnya fotografi berani membuat nilai estetikanya sendiri.

Satu contoh menarik adalah sebuah foto pemenang World Press Photo yang menampilkan seorang korban gempa bumi yang diangkut menggunakan sebuah tandu oleh beberapa personil militer. Mulai dari angle, komposisi hingga pencahayaan yang dipilih oleh fotografer tersebut demikian indah, seperti lukisan. Hal inilah yang kemudian dianggap Erik sebagai sebuah ketidaketisan, di mana sebuah peristiwa bencana sekalipun seolah tetap harus disampaikan dengan “indah”. Seolah-olah estetika justru didahulukan di atas penyingkapan. Pertanyaan selanjutnya adalah, apakah “indah” harus selalu yang seperti itu?

Contoh lain yang tak kalah menarik adalah sebuah foto karya Rony Zakaria yang sempat ditampilkan pada diskusi tersebut. Foto tersebut memiliki subjek dan komposisi yang menurut Erik tidak akan memenuhi syarat estetika pada lukisan, yang berarti juga, tidak akan ada pelukis yang akan membuat lukisan seperti itu, karena dinilai tidak indah dan tidak penting. Namun Erik secara pribadi sangat menyukai foto itu, foto yang menampilkan anak-anak bermain bola, ada beberapa bola yang melayang di udara, kemudian tampak kepala anak-anak tersebut yang juga bulat. Sepakat dengan hal tersebut, Kurniadi Widodo mengungkapakan sebuah kalimat yang kira-kira dapat menjawab kegelisahan tersebut: “You know it when you see it”. Sehingga pada akhirnya memang tidak ada jawaban yang umum, melainkan harus melihat kasus per kasus, foto per foto. Kita bisa merasakan dan menjelaskan mengapa sebuah foto kita anggap “bekerja” namun jawaban tersebut tidak dapat digunakan untuk foto yang lain. Hal ini menyiratkan bahwa estetika memang bukan sesuatu yang seharusnya di-pakem-kan, melainkan sesuatu yang demikian subjektif dan kontekstual.

Diskusi menjadi semakin menarik ketika Layung Buworo mempertanyakan bagaimana caranya fotografi dapat “menggeser” pakem estetika tersebut menjadi lebih bebas? Jika dalam kasus lukisan, perubahan dari realis ke abstrak banyak ditentukan oleh kritikus, lalu bagaimana dengan fotografi? Siapa dan apa yang akan mementukan perubahannya?

Mungkin memang sudah saatnya para fotografer membuat ukuran lain selain media atau lomba-lomba seperti World Press Photo, karena pada dasarnya mereka adalah orang-orang yang hendak “menjual” sesuatu, sehingga tak dapat lepas dari pasar. Paling tidak kita berusaha untuk memperkaya nilai-nilai estetika tersebut dengan sesuatu yang segar, tidak semata mengekor pada seni lukis. Beberapa hal yang dapat dilakukan adalah membuat buku projek personal, pameran serta diskusi-diskusi. Sudah saatnya fotografer tidak membatasi dirinya sendiri dengan ukuran-ukuran lama mengenai keindahan, karena bukankah (sekali lagi) keindahan itu subjektif? Dan secara naluriah, manusia memang selalu mencari dan menyukai keindahan, tentunya dengan ukurannya masing-masing.