Monthly Archives: November 2011

Cephas Photo Forum Presentation: Estetika Banal by Erik Prasetya

Minggu, 27 November 2011 – 16.30 WIB
Rumah Kelas Pagi Yogyakarta
Prawirodirjan GM II / 1226
Jl. Brigjen Katamso, Yogyakarta

Erik Prasetya (lahir di Padang, 1958) adalah seorang juru foto yang sudah lama berkecimpung di dunia fotografi Indonesia, dengan karya-karya yang sudah dipublikasikan di banyak media cetak, baik nasional maupun internasional, juga berbagai pameran-pameran foto.

Karirnya bisa diruntut sejak ia masih menjadi mahasiswa Jurusan Tambang ITB, 1977, dan aktif di kegiatan panjat tebing sembari mengembangkan hobi fotografinya, yang membuatnya menjadi kontributor khusus petualangan di majalah Mutiara. Latar belakang ini membawanya bertemu banyak orang termasuk juru foto senior Ed Zoelverdi, hingga di tahun 1990-an Erik mulai menekuni esai foto untuk rubrik “Kamera” di majalah berita Tempo. Pada tahun 1997 ia juga sempet bekerja sebagai fixer untuk fotografer legendaris Sebastião Salgado yang pada saat itu tengah mengerjakan project fotonya di Indonesia. Saat ini Erik adalah pekerja lepas, pengajar di Institut Kesenian Jakarta, sambil tetap aktif berkarya termasuk untuk kepentingan ekspresi pribadi.

Di awal tahun ini Erik telah menerbitkan buku foto Jakarta: Estetika Banal yang berisi pandangan pribadinya terhadap kota Jakarta yang dituangkan lewat foto-foto yang ia buat di sana selama hampir 20 tahun terakhir.

Pada forum kali ini Erik akan menyampaikan dan mendiskusikan idenya mengenai estetika dalam fotografi yang mendasari pendekatan foto-fotonya dalam buku ini.

Resensi buku Jakarta: Estetika Banal bisa dibaca di sini.

——

Acara terbuka untuk umum dan gratis.

Presentation Summary: Still Photography by Syamsul Hadi

Ditulis oleh Saila Rezcan

“Fotografi bukan tempat show off, fotografi itu tentang ‘the man behind’, dia mau ngomong apa lewat fotonya.”

Demikian dikatakan Syamsul Hadi, seorang still photographer yang mempresentasikan karyanya pada acara Cephas Photo Forum tanggal 14 November 2011 lalu, bertempat di Kelas Pagi Yogyakarta. Ia percaya, seorang fotografer seharusnya “bersembunyi” untuk kemudian “berbicara” lewat foto-fotonya, bukan hal yang lain.

Berawal dari studi penulisan skenario film yang ia jalani di Fakultas Film dan Televisi Institut Kesenian Jakarta, ia pun lantas mengembangkan ketertarikannya terhadap film melalui still photo. Baginya, still photo merupakan sesuatu yang penting dalam sebuah produksi film, namun masih sering dianggap remeh. Fungsi utama dari still photo adalah untuk keperluan publikasi dan marketing, salah satunya foto-foto yang terdapat pada poster dan leaflet film. Pekerjaan ini pun bukan pekerjaan mudah bergaji mewah. Seorang still photographer justru dituntut untuk selalu cekatan dan tahan banting. Bayangkan saja, proses pembuatan satu buah film tentu memakan waktu yang panjang, dan selama itu pula seorang still photographer harus pandai mengatur strategi dan stamina sehingga ia mampu meng-cover segala kebutuhan dokumentasi pada film tersebut.

Dari pengalamannya selama sepuluh tahun menjalani profesi ini, ia menegaskan betul bahwa satu-satunya daya tarik bidang ini adalah (lagi-lagi) passion. Ya, ia tak menjamin bahwa profesi ini dapat memberi kepuasan materi yang sebanding dengan berat pekerjaan yang harus dipikul, terlebih pada masa-masa awal kariernya. Hanya kecintaanlah yang kemudian sanggup membuatnya setia menggeluti bidang fotografi ini, meskipun ia tak menutup kemungkinan untuk melakukan pekerjaan lain demi memenuhi kebutuhan materi yang tak dapat dinafikan.

Still photographer adalah seseorang yang mesti bisa “menghilangkan” keberadaannya di lokasi syuting, sehingga ia tidak mengganggu proses syuting tersebut namun tetap dapat menghasilkan foto-foto yang memenuhi kebutuhan film. Hal ini cukup sulit karena bahkan suara shutter yang ikut masuk ke alat perekam pun dapat menjadi pengganggu bagi proses syuting itu sendiri. Belum lagi keharusan untuk menguasai naskah film secara menyeluruh, sehingga foto-foto yang dihasilkan pun efektif dan tidak sekedar bagus.

Ada banyak hal teknis yang kemudian dibicarakan dalam forum ini, namun satu hal yang menjadi landasan atas segalanya (dan sebenarnya berlaku untuk  hal-hal lainnya): disiplin. Seorang still photographer tidak akan dapat bertahan tanpa disiplin yang kuat. Ia harus menguasai naskah, detail lokasi syuting, jadwal, kemampuan teknis, dan tentu saja menguasai dirinya sendiri. Jadi, bagaimana mungkin seseorang dapat menggelutinya jika tidak terlebih dulu jatuh cinta pada profesi ini?

Cephas Photo Forum Presentation: Still Photography Dalam Produksi Film by Syamsul Hadi

Senin 14 November 2011 pukul 19.00 WIB

Rumah Kelas Pagi Yogyakarta
Prawirodirjan GM II / 1226 – Jl. Brigjend Katamso
Yogyakarta, Indonesia

Selama ini banyak orang yang tidak pernah tahu dari mana asal foto-foto adegan dan behind the scene yang mereka lihat di dalam sebuah poster film atau pun website dari sebuah judul film.

Banyak masyarakat yang hanya tahu bahwa di dalam sebuah produksi film, hanya crew film penting saja yang namanya muncul di dalam credit title film.

Tetapi, ada satu profesi penting di dalam sebuah produksi film, yang mempunyai tanggung jawab besar untuk mendokumentasikan adegan film dan behind the scene pembuatan film tersebut. Profesi tersebut bernama STILL PHOTOGRAPHER dan salah satu fotografer Indonesia yang konsisten untuk mendalami dan bekerja di dalam dunia industri film Indonesia dan Internasional adalah Syamsul Hadi.

Beberapa daftar film yang pernah dikerjakannya:

- Brownies (sinemart)
- Berbagi Suami (kalyana shira films)
- Perempuan Punya Cerita (kalyana shira films)
- Untuk Rena (miles films)
- Serigala Terakhir (ifi films)
- Satu Jam Saja (karnos films)
- Merah Putih (a margate house & syzygy productions)
- Darah Garuda (a margate house & syzygy productions)
- Hati Merdeka (a margate house & syzygy productions)
- Pencarian Terakhir (vandea productions)
- HeartBreak.com (one star productions)
- Aku Atau Dia (one star productions)
- Sang Pencerah (multivision films)

- Long Road To Heaven (teleproductions international (australia) & kalyana shira films)
- At World’s End (M*M productions (denmark) & kalyana shira films)
- The Philosophers (an olive branch media (hollywood/beverly hills) & syzygy productions)
- Java Heat (a margate house (hollywood/los angeles)& syzygy productions)

——–

Syamsul Hadi lahir di Jakarta, 1 April 1981.

Lulus dari Fakultas Film dan Televisi Institut Kesenian Jakarta dengan mayor studi penulisan skenario film.

Setelah lulus dari IKJ, ia mendalami fotografi lalu bekerja sebagai still photographer di belasan produksi film dan juga membagi waktunya untuk merintis karier sebagai penulis skenario film layar lebar.