Ditulis oleh Saila Rezcan
Umumnya, saat melihat raut wajah seseorang, kita dapat mengetahui perasaannya: senang, sedih atau marah. Dulu, jauh sebelum kedatangan era teknologi informasi yang demikian canggih seperti saat ini, interaksi antarmanusia lebih sering terjadi secara langsung melalui tatap muka sehingga ragam ekspresi perasaan seseorang dapat kita baca dari raut wajahnya.
Kini interaksi antarmanusia tak lagi harus dilakukan dengan bertatap muka, ada banyak perangkat yang memungkinkan seseorang berkomunikasi secara virtual. Salah satu media yang populer saat ini adalah BlackBerry dengan BlackBerry Messenger-nya (BBM). Media tersebut memiliki sebuah keunikan, yaitu bagaimana ia berusaha mencairkan kebekuannya sendiri melalui fitur emoticon yang merupakan representasi dari berbagai ungkapan emosi manusia.
Dalam presentasi Cephas Photo Forum tanggal 20 Oktober lalu, Stanislaus Yoga atau Yoga menghadirkan “emoticon”, sebuah projek yang menurutnya merupakan “usaha pe-manusia-an kembali manusia yang telah digambarkan dalam emoticon BBM” lewat media foto. Projek ini berawal dari kegelisahan Yoga akan minimnya interaksi secara tatap muka saat ini, yang kemudian berdampak pula pada cara pengungkapan emosi manusia. Dalam interaksi tatap muka, emosi seseorang dapat dibaca melalui ekspresi wajah, namun sekarang sedikit-banyak peran tersebut telah diambil alih oleh emoticon pada BBM.
Melalui projek ini, Yoga berupaya mengembalikan emoticon tersebut kepada asalnya: ekspresi wajah manusia. Seolah-olah hendak mengingatkan kembali bagaimana cara berekspresi melalui wajah sendiri.
Projek ini terdiri dari 31 foto ekspresi seseorang yang telah dikondisikan menjadi semirip mungkin dengan emoticon yang disediakan BBM. Bagi Yoga, pemilihan 31 emoticon di antara sekian banyak yang tersedia semata-mata berdasarkan tingkat kesulitan eksekusinya. Ke-31 emoticon yang terpilih tersebut dirasa lebih memungkinkan untuk dieksekusi dibandingkan yang lain.
Projek yang dianggap selesai dan telah dipamerkan di LIR Shop ini sesungguhnya dapat dikembangkan lebih jauh. Pemilihan emoticon yang terbatas pada emoticon BBM saja, misalnya, justru membuat projek ini terkesan sangat segmented. Seseorang yang tidak aktif menggunakan BBM barangkali akan kesulitan mengapresiasi projek ini, karena tidak memiliki kedekatan terhadap konteks (demikian dikemukakan oleh Kurniadi Widodo dan Doni Maulistya pada diskusi sore itu). Walaupun demikian, hal tersebut tak akan menjadi masalah seandainya diikuti oleh eksekusi yang total, termasuk dalam hal display karya dan pengemasan acara. Apabila dua hal tersebut gagal menjadi penunjang, maka yang tampak justru kerja peng-konsep-an yang kurang matang. Selain itu, semestinya pemilihan emoticon yang akan dieksekusi tidak hanya didasarkan pada tingkat kesulitannya saja, melainkan harus memiliki alasan yang jelas serta mendukung konsep secara keseluruhan pula.
Yoga pun mengakui, projek ini masih sangat mungkin untuk dikembangkan melalui berbagai riset yang lebih mendalam. Namun demikian, keberanian Yoga untuk mewujudkan idenya ke dalam sebuah karya memang pantas kita hargai dan apresiasi.
Pameran foto emoticon masih dapat dilihat di LIR Shop hingga tanggal 31 Oktober mendatang.

