Monthly Archives: October 2011

Presentation Summary: emoticon by Stanislaus Yoga

Ditulis oleh Saila Rezcan

Umumnya, saat melihat raut wajah seseorang, kita dapat mengetahui  perasaannya: senang, sedih atau marah. Dulu, jauh sebelum kedatangan era teknologi informasi yang demikian canggih seperti saat ini, interaksi antarmanusia lebih sering terjadi secara langsung melalui tatap muka sehingga ragam ekspresi perasaan seseorang dapat kita baca dari raut wajahnya.

Kini interaksi antarmanusia tak lagi harus dilakukan dengan bertatap muka, ada banyak perangkat yang memungkinkan seseorang berkomunikasi secara virtual. Salah satu media yang populer saat ini adalah BlackBerry dengan BlackBerry Messenger-nya (BBM). Media tersebut memiliki sebuah keunikan, yaitu bagaimana ia berusaha mencairkan kebekuannya sendiri melalui fitur emoticon yang merupakan representasi dari berbagai ungkapan emosi manusia.

Dalam presentasi Cephas Photo Forum tanggal 20 Oktober lalu, Stanislaus Yoga atau Yoga menghadirkan “emoticon”, sebuah projek yang menurutnya merupakan “usaha pe-manusia-an kembali manusia yang telah digambarkan dalam emoticon BBM” lewat media foto. Projek ini berawal dari kegelisahan Yoga akan minimnya interaksi secara tatap muka saat ini, yang kemudian berdampak pula pada cara pengungkapan emosi manusia. Dalam interaksi tatap muka, emosi seseorang dapat dibaca melalui ekspresi wajah, namun sekarang sedikit-banyak peran tersebut telah diambil alih oleh emoticon pada BBM.

Melalui projek ini, Yoga berupaya mengembalikan emoticon tersebut kepada asalnya: ekspresi wajah manusia. Seolah-olah hendak mengingatkan kembali bagaimana cara berekspresi melalui wajah sendiri.

Projek ini terdiri dari 31 foto ekspresi seseorang yang telah dikondisikan menjadi semirip mungkin dengan emoticon yang disediakan BBM. Bagi Yoga, pemilihan 31 emoticon di antara sekian banyak yang tersedia semata-mata berdasarkan tingkat kesulitan eksekusinya. Ke-31 emoticon yang terpilih tersebut dirasa lebih memungkinkan untuk dieksekusi dibandingkan yang lain.

Projek yang dianggap selesai dan telah dipamerkan di LIR Shop ini sesungguhnya dapat dikembangkan lebih jauh. Pemilihan emoticon yang terbatas pada emoticon BBM saja, misalnya, justru membuat projek ini terkesan sangat segmented. Seseorang yang tidak aktif menggunakan BBM barangkali akan kesulitan mengapresiasi  projek ini, karena tidak memiliki kedekatan terhadap konteks (demikian dikemukakan oleh Kurniadi Widodo dan Doni Maulistya pada diskusi sore itu). Walaupun demikian, hal tersebut tak akan menjadi masalah seandainya diikuti oleh eksekusi yang total, termasuk dalam hal display karya dan pengemasan acara. Apabila dua hal tersebut gagal menjadi penunjang, maka yang tampak justru kerja peng-konsep-an yang kurang matang. Selain itu, semestinya pemilihan emoticon yang akan dieksekusi tidak hanya didasarkan pada tingkat kesulitannya saja, melainkan harus memiliki alasan yang jelas serta mendukung konsep secara keseluruhan pula.

Yoga pun mengakui, projek ini masih sangat mungkin untuk dikembangkan melalui berbagai riset yang lebih mendalam. Namun demikian, keberanian Yoga untuk mewujudkan idenya ke dalam sebuah karya memang pantas kita hargai dan apresiasi.

 

Pameran foto emoticon masih dapat dilihat di LIR Shop hingga tanggal 31 Oktober mendatang.

Cephas Photo Forum Presentation: emoticon by Stanislaus Yoga

 

|emoticon| semacam pemanusiaan kembali manusia yang telah digambarkan

|emoticon| sebuah karya visual berupa foto yang terdiri dari beberapa foto ekspresi seseorang. Terdapat sekitar 31 ekspresi yang akan dibuat satu persatu. Model yang dipilih adalah seorang laki-laki yang botak dan berwajah bulat untuk mendekatkan kemiripan dengan emoticon yang ada dalam Black Berry Messenger. Warna hitam putih mendominasi pada setiap fotonya untuk menggambarkan kesan lebih dramatis. Pengambilan gambar dilakukan secara close up agar lebih terfokus pada emosi yang sedang diekspresikan.

|emoticon| dibuat dengan latar belakang minimnya hubungan antar manusia yang jarang bertemu atau bertatapan muka secara langsung, dan lebih memilih melakukan percakapan melalui Black Berry Messenger. Sehingga mungkin mereka lupa bagaimana ekspresi orang yang diajaknya bicara dan hanya mengingat emoticon yang ada dalam Black Berry Messenger. Dikatakan pemanusiaan kembali manusia yang telah digambarkan karena menurut yang saya ketahui emoticon yang berada di Black Berry Messenger adalah penggambaran emosi seseorang yang digambarkan secara kartun atau entah apa istilahnya dan saya ingin mengembalikan gambar tersebut menjadi manusia kembali melalui media foto.

———–

Stanislaus Yoga, lahir di Sleman 9 April 1986. Lulusan Univ. Atmajaya Yogyakarta. Tinggal di sebuah desa yang kira-kira jaraknya 22 km dari pusat kota Jogja. Kesehariannya sebagai freelance photographer, masih tertarik dengan semua jenis fotografi, tapi punya cita-cita memasuki dunia commercial photography. Saat ini aktif mengajar ekstra fotografi di SMA Van Lith. Emoticon adalah pameran perdananya. Mengenal dunia fotografi sudah sejak tahun 2003, tetapi baru memutuskan untuk menjadikan fotografi sebagai profesi di tahun 2008.

———–

Pembukaan Pameran:
Selasa 18 Oktober 2011 17.00 WIB

Presentasi & Diskusi Foto:
Kamis 20 Oktober 2011 16.00 WIB

Lir Shop Jl. Anggrek I/33, Baciro Yogyakarta

Acara gratis dan terbuka untuk umum.