Fringes; an on-going project by Kurniadi Widodo ditulis oleh Lucia Dianawuri
Perubahan adalah konsekuensi logis sebuah kota. Kota yang tidak berubah adalah kota yang stagnan dan tidak peka terhadap jaman. Ia hanya akan menjadi dimensi-dimensi ruang yang kosong dan kering tanpa dinamika. Di dalam sebuah kota terdapat entitas-entitas yang saling bersinergi. Mereka terus bergerak dan tak berhenti beradaptasi terhadap putaran jaman. Kota juga ibarat sebuah mangkuk besar. Di situ ada pusat pusaran dimana segala aktifitas bergerak lebih cepat serta pundi-pundi uang terisi lebih gemuk. Di mangkuk besar itu juga ada sisi pinggiran (fringes), dimana ia bergerak sedikit lebih lambat dan seringkali mendapat cipratan gerak dari pusat pusaran.
Dalam presentasi Cephas Photo Forum tanggal 22 September yang lalu, Kurniadi Widodo atau Wid, mencoba mendokumentasikan ide tentang kota yang berubah itu, utamanya tentang daerah-daerah pinggiran. Lewat lensa bidiknya, Wid yang kebetulan tinggal di Jogja, berharap dapat menyelesaikan permasalahan visual soal kota itu dengan berbagai visual daerah-daerah pinggiran Jogja. Melalui gambar-gambar itu, Wid ingin merepresentasikan perubahan tak henti berbagai kota di Indonesia.
Bagi Wid, gambaran soal ruang tanpa ada aktivitas manusia yang berarti adalah salah satu cara untuk menyelesaikan masalah visual itu. Ia ingin mengeksploitasi dimensi ruang beserta detilnya, tanpa mengedepankan momen.
Lewat visual yang menggambarkan tanah kosong, sebuah bangunan dengan semak lebat disekitarnya atau sebuah kompleks perumahan yang sepi dengan crane sebagai latar belakangnya, Wid seakan ingin mengatakan bahwa ruang-ruang kosong tanpa manusia itu adalah semacam reaksi dari pergerakan sebuah kota yang melibatkan berbagai elemen. Tanpa harus digambarkan secara kasat mata, visual-visual yang dikoleksi oleh Wid telah mengatakan bahwa manusia adalah salah satu elemen penting dari perubahan sebuah kota.
Projek foto yang belum tuntas dan masih terus berlangsung ini, secara sederhana adalah respon dari pengalaman keseharian Wid sebagai orang Jogja, yang tinggal di daerah pinggiran. Melalui projek personal ini, Wid juga sebentar ingin melepas kebiasaannya memotret hitam-putih dengan pendekatan street photography, serta sejenak melupakan membidik momen, untuk memotret ruang-ruang pinggiran (fringes) di sebuah kota (yang kebetulan Jogja-red).
-Luc-
Kurniadi Widodo
“mengenal fotografi sejak 2005 untuk keperluan tugas kuliah dan kemudian mulai serius menekuni fotografi setahun kemudian. Kurniadi Widodo memiliki ketertarikan pada masalah urban; bagaimana perubahan kota mempengaruhi penduduknya dan segala aspek kehidupan masyarakatnya”
Kurniadi Widodo adalah Co-Founder Cephas Photo Forum. Karya karyanya dapat dilihat di http://kurniadiwidodo.blogspot.com











