Oleh Saila Muti Rezcan
“Anyone is an artist hence anyone is a photographer.”
Indrawan dan Wiwid tidak menyebut diri mereka sebagai fotografer. Mereka menganggap apa yang mereka lakukan hanyalah sebuah timbal balik dari apa yang mereka terima. Kepada sekelompok anak yang mereka temui di wilayah-wilayah kumuh Asia, mereka mengajarkan sebuah media lain untuk belajar melihat sesuatu, melihat hidup.
Pasangan suami istri yang belum lama menikah ini memutuskan untuk memulai sebuah perjalanan ke kota-kota di Asia, terutama ke wilayah-wilayah kumuh yang ada di sana. Di tempat-tempat tersebut mereka bergaul dan berinteraksi dengan “orang-orang pinggiran”, mereka hidup bersama-sama dan saling belajar tentang sesuatu.
Participatory Photography merupakan salah satu “pemberian” mereka pada penduduk yang ada di sana, untuk paling tidak memberi dukungan moral atas perjuangan mereka menghadapi hidup setiap harinya, hidup yang tentu saja keras. Mereka memperkenalkan fotografi pada sekelompok anak, kemudian membebaskan mereka untuk mengambil gambar sesuai keinginannya, tanpa mendikte. Mungkin ini seperti cara melihat desa dari mata orang desa, dan terkadang cara ini justru terasa lebih jujur dan apa adanya.
Awalnya, Indrawan dan Wiwid pun tidak membayangkan hasil foto-fotonya akan semenarik ini, namun kenyataannya demikian. Ada banyak foto yang unpredictable, salah satunya foto lukisan dua jenis model rambut yang ditawarkan pada sebuah salon, yaitu model Emo dan Apple Cut. Bagi saya yang berada di luar lingkaran, foto ini menarik. Namun jadi lebih dari sekedar menarik ketika tidak hanya sebuah papan berlukis model rambut saja yang ditampilkan pada frame, tapi entah kebetulan atau tidak, di sana pun terlihat tukang cukur yang sedang memangkas rambut pelanggannya. Komposisinya jadi bagus. Selain itu, foto-foto yang lain pun memiliki keunikan sendiri karena jarak pandangnya adalah jarak pandang anak-anak, sehingga terkadang mereka menemukan sudut pandang yang tak terjangkau oleh orang dewasa. Melalui foto-fotonya, mereka memberikan pandangan lain atas wilayah kumuh, bagaimana orang-orang termarjinalkan ini berjuang menghadapi hidup, bagaimana mereka tetap memiliki sesuatu yang berharga bernama mimpi. Mungkin kalimat “It’s not okay, but we allright” bisa menjadi istilah yang pas untuk situasi seperti ini.
Semoga energi positif yang Indrawan dan Wiwid coba untuk bagikan kepada mereka mampu menjadi pendorong untuk terus berjuang menghadapi hidup dan berusaha menjadi lebih baik lagi setiap harinya.




