Monthly Archives: October 2010

Cephas Photo Forum Presentation: Bioskop Permata by Didi Mugitriman & Ardi Wilda Irawan

Terhitung sejak 1 Agustus 2010 Bioskop Permata resmi menutup usahanya. Kerugian yang diderita tiap bulan disertai permasalahan distribusi film yang tidak berpihak pada bioskop ini membuat bioskop yang berdiri sejak 1946 ini memutuskan menghentikan usahanya. Tutupnya Bioskop Permata memperpanjang kisah pahit bioskop tua di Yogyakarta, sebelumnya bioskop Mataram telah tutup pada 9 September 2007. Fenomena ini jelas berseberangan dengan jumlah bioskop Jogja yang sempat mencapai 19 gedung bioskop (Kompas, 1 November 2008).

Setelah tutupnya Bioskop Permata Agustus ini, Bioskop Indra terancam mengalami hal serupa. Wacana pengalihfungsian Bioskop Indra menjadi kantung parkir kembali mencuat untuk mengatasi kemacetan di daerah Malioboro. Bahkan pemerintah propinsi DIY telah mengajukan usulan anggaran sebesar Rp 18 miliar pada perubahan APBD 2010 Yogyakarta untuk pembebasan lahan bekas Bioskop Indra dan sekitarnya (Kompas, 22 September 2010). Tutupnya Permata dan kemungkinan besar Indra membuat hiburan bioskop tak lagi bisa dijangkau masyarakat menengah ke bawah, menonton film di bioskop kini hanya menjadi milik kalangan tertentu.

*******

Ardi Wilda dan Didi Mugitriman mencoba mendokumentasikan masa-masa terakhir bioskop Tua di Yogyakarta.

Tulisan panjang mengenai ini bisa terlebih dahulu dibaca di:
http://jakartabeat.net/film/398-bioskop-tua-yogyakarta-tinggal-nama-bagian-1.html

=========================================

Ardi Wilda adalah mahasiswa tingkat akhir Jurusan Komunikasi UGM. Dia adalah kontributor pada majalah Rolling Stones Indonesia versi online dan Jakartabeat.net.

Didi Mugitriman adalah fotografer lepas yang aktif mendokumentasi pertunjukan dan acara budaya di Yogyakarta. Terakhir magang selama tiga bulan di Galeri Foto Jurnalistik Antara.

Presentation Summary: Trans Islam

Oleh: Saila Muti Rezcan

Saat ini transseksual masih merupakan hal yang tabu untuk dibicarakan secara gamblang. Disorientasi seksual masih merupakan “dosa” bagi sebagian besar masyarakat Indonesia. Mereka masih mendapatkan diskriminasi yang nyata pada sendi-sendi kehidupan bermasyarakat, misalnya saja hak untuk mendapatkan pekerjaan yang layak. Seolah-olah kesempatan untuk bekerja layaknya orang  normal langsung tertutup tepat saat mereka menyatakan bahwa mereka adalah transseksual. Stigma masyarakat yang mengatakan mereka imoral, membuat mereka terisolasi dari dunia dan dipaksa membangun dunianya sendiri. Mereka lantas membentuk sebuah kelompok, sebuah komunitas, yang menjalani hidup dengan caranya sendiri.

Rabu, 13 Oktober 2010 bertempat di Angkringan Yayasan Umar Kayam Sawitsari, CEPHAS Photo Forum mengajak teman-teman semua untuk menghadiri presentasi foto serta diskusi rutin bertajuk “Trans Islam” oleh Karolus Naga. Kali ini Naga menghadirkan cerita tentang Pondok Pesantren khusus transseksual bernama “Pesantren Senen-Kamis” yang berada di Notoyudan, Yogyakarta. Ia ingin bercerita bahwa bagaimanapun juga, transseksual tetaplah manusia, sama seperti kita.

 

© Budi N.D. Dharmawan

 

Maryani (48), paham betul bahwa pilihannya untuk menjadi transseksual bertentangan dengan ajaran Agama Islam. Namun saat ini ia menjalani keduanya: transseksual dan Islam. Ia mendirikan Pondok Pesantren “Senen-Kamis” karena ia menyadari, terlepas dari dosa-tidaknya pilihan tersebut, seorang transseksual pun tetap membutuhkan sesuatu untuk penyelamatan: agama. Untuk itu ia mencoba melakukan apa yang bisa ia lakukan untuk dirinya sendiri dan teman-temannya sesama transseksual, ia mencoba menyediakan media bagi mereka untuk belajar agama.

Foto-foto yang dihadirkan Naga memang tak banyak menunjukkan bagaimana mereka berkegiatan di Pondok Pesantren tersebut. Ia menghadirkan foto kehidupan mereka secara utuh: apa yang mereka lakukan sehari-hari, bagaimana mereka bekerja keras mencari uang, serta hubungan mereka dengan sesame manusia, baik yang transseksual maupun tidak.

Ada satu foto yang sangat menarik perhatian saya, yaitu foto di sebuah salon kecantikan milik salah satu anggota Pondok Pesantren yang menunjukkan bahwa seorang pelanggan salon tidak merasa risih sedikitpun saat harus dipotong rambutnya oleh kapster salon yang transseksual. Di belakangnya, malah terdapat beberapa anak muda tetangga yang asik membaca majalah di salon itu, tanpa ada ekspresi risih maupun takut. Mereka dapat menerima transseksual sebagai sesuatu yang biasa.

Melihat foto-foto Naga, kita seolah diajak untuk sudi melihat fenomena transseksual menggunakan kacamata penakar yang normal. Tidak buru-buru minus. Mereka hidup, beribadah, bekerja, berkegiatan sosial dan bahkan berkeluarga. Terkadang apa yang dilakukan oleh mereka justru jauh lebih manusiawi dibanding kelakuan manusia-manusia yang menyebut dirinya normal. Bayangkan saja, saat ini Maryani memiliki dua orang anak angkat, satu laki-laki dan satu perempuan. Yang perempuan ia adopsi sejak berusia satu jam setelah kelahiran, saat itu Ibu kandungnya ingin membuangnya. Lantas, mana yang lebih baik? Siapa yang imoral?

Mengutip sebuah hadits dari Abu Hurairah r.a, Rasulullah SAW bersabda, “Telah diampuni seorang wanita pezina yang lewat di depan anjing yang menjulurkan lidahnya pada sebuah sumur. Dia berkata, “Anjing ini hampir mati kehausan”. Lalu dilepasnya sepatunya lalu diikatnya dengan kerudungnya lalu diberinya minum. Maka diampuni wanita itu karena memberi minum.” (HR Bukhari)

Bukan berarti menjadi seorang pezina itu baik menurut Islam, namun yang perlu kita resapi bersama adalah, baik-buruknya sesuatu di mata Tuhan itu belum tentu sama dengan baik-buruknya sesuatu di mata manusia. Jadi, bukankah lebih baik kita semua masing-masing berkaca sebelum menilai sesuatu? Wallahu a’lam.

Cephas Photo Forum Presentation: Trans Islam by Karolus Naga

“Though people will find this place silly and nonsense, but learning the wisdom of Allah is every Moslem’s right, including transvestites!” said Maryani, 48 years old transvestites who’s also the founder of the Koran School for the transvestites and transsexual named ‘Pesantren Senen – Kamis’ in Notoyudan, Jogjakarta – Indonesia.

Today the ‘Senen Kamis’ Koran School has more than a hundred members from transsexual community, and some of them come from nearby city like Semarang, Jakarta and Surabaya and their goal is to learn the Koran and its wisdom. Though the boarding house’s operates twice a week, as its name ‘Monday – Thursday’, but every afternoon this place became a gather-ground for its members. Learn the Koran, cant in Arabic rhyme or just resting their legs after walking around of being street musician.

Lots of these transvestites earn money by becoming street musician, collecting pennies after pennies for the whole day from the people along the way. Some with the make-up skills would become make-up artists on several night clubs and some even own their own small beauty salon. While most of them working as prostitute in the late of nights, with the HIV pepping on the corner of the street and the fear of being harassed by the society and several religion organizations.

=========================================

Karolus Naga is a freelance photographer from Ende, Flores who now resides in Yogyakarta. In 2009 he participated in Angkor Photography Workshop.

Three pictures from this “Trans Islam” series had been exhibited at Grand Indonesia Hotel, as part of Binus International Photo Competition 2010, “Life in Contrast”. The story is about daily life of a Koranic School for transvestites in Yogyakarta, Indonesia.

http://karolusnaga.carbonmade.com/