Monthly Archives: September 2010
Presentation Summary: My Baby is Sleeping in the Miracle of Waves
Mulai saat ini, Cephas akan secara rutin menuliskan ringkasan tiap event presentasi yang kami adakan, disertai beberapa foto dari presentasi tersebut. Ringkasan ini dimungkinkan atas bantuan rekan Saila Muti Rezcan. Trims Saila! Semoga berguna bagi teman-teman yang berhalangan hadir karena waktu dan jarak. Selamat menikmati.
————–
Rabu, 1 September 2010 CEPHAS Photo Forum kembali menggelar sebuah presentasi foto dan diskusi. Bertempat di Angkringan Yayasan Umar Kayam Sawitsari, presentasi foto yang bertajuk “My Baby Is Sleeping in the Miracle of Waves” ini akan menyajikan dua presentasi foto masing-masing oleh Caroline Estrada Steiger dan suaminya, Erik Estrada.
Presentasi diawali oleh karya street photography ber-setting Austria milik Erik. Dalam presentasi ini Erik menampilkan sejumlah foto yang didominasi oleh warna-warna soft atau bahkan hitam putih. Objek yang ia tampilkan sangat apa adanya, apa saja yang ia temui di jalan: pohon, taman, gereja, tangga, bahkan papan pengumuman. Foto-foto Erik terasa sangat personal dengan ciri khas: memiliki banyak ruang kosong atau negative space. Kesan yang menonjol ialah sepi, lengang dan asing namun terasa bebas dan jujur. Penonton seolah diajak untuk membuyarkan bayangan muluk-muluk tentang Austria, dan sebaliknya, Erik menyajikan Austria yang “lain”, yang mungkin tak pernah kita bayangkan sebelumnya. Jika diibaratkan sebuah film, mungkin foto-foto Erik yang terasa sepi adalah film tanpa dialog yang tetap mampu menyampaikan maksudnya dengan baik pada penonton. Inilah Austria dari sudut pandang Erik, foto-foto dengan cerita yang ia bangun sendiri.
Acara dilanjutkan dengan presentasi kedua oleh Caro. Di awal presentasi Caro sedikit menjelaskan bahwa foto-foto yang akan ia presentasikan merupakan foto tentang kehidupan Suku Bajau Laut di Kalimantan Utara (Malaysia), serta merupakan bagian dari proyek bukunya yang masih dalam tahap pengerjaan. Berbeda dari presentasi pertama, dalam presentasi Caro banyak ditampilkan foto yang terkesan ramai dan penuh kehidupan. Foto-foto Caro menceritakan banyak momen penting dalam hidup orang Suku Bajau seperti saat-saat mencari ikan untuk kebutuhan pangan, saat membuat alat-alat untuk menyelam dan menangkap ikan serta saat para perempuan berdandan menggunakan semacam bedak yang berasal dari beras tumbuk. Ada juga foto yang bercerita tentang ritual pernikahan orang Suku Bajau.
Perbedaan yang menonjol dari foto Erik ialah, foto Caro tidak membuat ceritanya sendiri, cerita itu telah ada terlebih dahulu, lalu Caro membingkainya dalam foto. Jika foto Erik lebih banyak menampilkan objek non-manusia, maka foto Caro adalah sebaliknya. Dalam presentasinya Caro banyak memberikan informasi tambahan seperti bagaimana Suku Bajau laut ini hidup secara berpindah-pindah mengikuti perpindahan ikan-ikan di laut.
Sesi ke tiga merupakan sesi diskusi dan tanya jawab. Kembali pada foto-foto Erik, ia mengaku saat memotret sama sekali tidak memikirkan tentang konsep ruang kosong yang memberikan kesan sepi dan terasing. Ia hanya memotret begitu saja, kesan yang melekat pada foto mungkin akibat bawah sadarnya yang merasakan kesendirian saat berjalan di sebuah tempat yang asing tanpa teman.
Caro bercerita bahwa ia membutuhkan empat kali kunjungan dalam beberapa bulan untuk mengambil foto-foto itu, dan semua foto diambil menggunakan kamera analog, menghabiskan 300 roll film. Proyek buku yang sedang ia selesaikan ini merupakan media untuk berbagi pengalaman pribadinya selama berinteraksi dengan orang-orang Bajau Laut, ia tidak memiliki tujuan tertentu seperti penelitian atau semacamnya, ia murni hanya ingin berbagi apa yang ia lihat dan alami. “My Baby Is Sleeping in the Miracle of Waves” merupakan judul lagu tanpa syair yang sering dinyanyikan orang Bajau Laut.
Melihat dua presentasi oleh sepasang suami istri berbeda budaya yang baru saja menikah ini, kita diajak merasakan indahnya perbedaan. Foto Erik yang sepi dan milik Caro yang begitu hidup bukan menjadi masalah untuk dibandingkan mana yang lebih baik, namun justru saling melengkapi. Seperti halnya mereka berdua yang meski berlatar belakang budaya berbeda namun mampu bersatu dalam ikatan pernikahan. Selamat menempuh hidup baru!











