Budi Dharmawan menuliskan presentasinya tentang ketoprak tobong, 16 Juni 2010 lalu. Foto dan teks oleh Budi N.D. Dharmawan.
Saya pertama mengetahui ketoprak tobong kira-kira pada awal 2007, ketika melewati daerah Demak Ijo, Yogyakarta. Waktu itu saya cuma lewat dan berniat kembali suatu saat untuk memfoto. Sayangnya ketika beberapa waktu kemudian saya kembali ke sana untuk melaksanakan niat itu, ketoprak tobong sudah pindah dan saya tidak tahu ke mana mereka pindah. Saya pun mengurungkan niat saya.
Pertemuan saya dengan ketoprak tobong baru terjadi awal Mei 2010, ketika seorang teman mengajak saya mengunjungi mereka di daerah Pandak, Bantul. Ternyata malam itu pengelola ketoprak tobong mengumumkan bahwa ketoprak tobong terancam bubar karena ketidakmampuan ekonomi. Sejak malam itu saya bolak-balik ke sana untuk mendokumentasikan hari-hari terakhir mereka.

Ketoprak tobong menempati lapangan Njodog, Pandak, Bantul, Yogyakarta. Foto: Budi N.D. Dharmawan
Ketoprak tobong Kelana Bakti Budaya berasal dari Kediri, Jawa Timur. Kelompok ini konon merupakan satu-satunya ketoprak tobong yang masih tersisa di daerah Yogyakarta–Jawa Tengah. Di Kediri sendiri sejauh yang saya dengar masih ada dua kelompok ketoprak tobong.
Lapangan Njodog, tempat mereka berpentas sekarang, merupakan tempat ketujuh yang mereka singgahi selama mereka berkeliling Yogyakarta sejak Oktober 2006. Mereka pernah menyinggahi daerah Cebongan, Sleman, daerah Gunung Sempu, Bantul, dan beberapa tempat lain, sejak mereka pindah dari Demak Ijo, lokasi yang mereka singgahi ketika pertama tiba di Yogyakarta.

Panggung pentas juga merupakan tempat bermain anak anggota ketoprak dan tempat rapat penentuan peran sebelum pentas. Foto: Budi N.D. Dharmawan
Kembali ke pengalaman saya mengikuti hari-hari terakhir ketoprak tobong. Saya tidak semata-mata datang dan memfoto mereka. Sering kali saya bahkan ke sana tidak memfoto, hanya duduk dan mengobrol saja dengan mereka. Saya mendengarkan kisah-kisah mereka.
Banyak dari antara teman-teman ketoprak tobong yang mengatakan ingin terus bermain ketoprak. Mbak Min dan Mbak Rini ingin belajar merias dan menari gambyong untuk mendukung penampilan mereka di atas panggung. Banjir, Wiwin, dan Klowor (juga Joko dan Supri) sering membuat sendiri properti pentas. Beberapa menyatakan ingin belajar bahasa Jawa halus, masih di dalam rangka mendukung pentas yang lebih baik. Sayang kondisi ekonomi menghalangi mereka untuk dapat terus berpentas.

Kiri: Wiwin dan Bandung berlatih adegan berkelahi, disaksikan Supri dan Riko. Kanan: Salah satu adegan pentas. Foto: Budi N.D. Dharmawan
31 Mei 2010, Kelana Bakti Budaya mengadakan pentas pamit mati di Alun-alun Selatan Keraton Yogyakarta. Mereka memainkan lakon Ranggalawe Gugur untuk melambangkan “kekalahan” mereka melawan perkembangan zaman dan mengejar kemajuan teknologi. Kesenian tradisional telah “ditaklukkan” oleh kesenian modern dan televisi.

Pentas ketoprak tobong di panggung mereka di Lapangan Njodog (kiri) dan di Alun-alun Selatan Keraton Yogyakarta (kanan). Foto: Budi N.D. Dharmawan
Juni 2010 merupakan bulan terakhir Kelana Bakti Budaya menempati petak tanah di lapangan Njodog, Pandak, Bantul. Akan tetapi, mereka tidak pentas lagi. Selama sebulan terakhir, mereka hanya menunggu hari untuk membongkar panggung dan rumah mereka, untuk pindah ke lokasi yang baru. Pada perbincangan terakhir kami, mereka mengatakan bahwa mereka pasti pindah, karena izin untuk menempati lokasi sudah habis (dan kini mereka masih mencari dana untuk pindahan, yang menghabiskan kira-kira 15 juta rupiah). Akan tetapi, apakah mereka akan pentas lagi di lokasi baru nanti, memang masih menjadi tanda tanya….
Foto dan teks oleh Budi N.D. Dharmawan