Monthly Archives: June 2010

CEPHAS Photo Forum Presentation: Wisang, Andi, dan Galih

Rabu 30 Juni 2010 pukul 18.30 WIB
Angkringan Yayasan Umar Kayam (lihat peta
)
Perum Sawitsari I/3 Yogyakarta

____________________________________

Untuk pertemuan berikutnya Cephas Photo Forum akan menghadirkan tiga fotografer dari komunitas skateboarding di Jogja: Wisang, Andi, dan Galih, untuk mempresentasikan dan berdiskusi tentang foto-foto mereka.

Wisanggeni Arifwicaksono (Wisang) yang baru saja menyelesaikan Tugas Akhirnya adalah seorang fotografer freelance untuk SurfTime magazine, Happen Skate Magazine, serta aktif di komunitas Bloodbath Skatepark di Jogja.

Gunandi Budiharjo (Andi) adalah fotografer dan penulis freelance di Happen Skateboard magazine, Magicwave Magazine, Bakspaper magazine. Ia juga pernah membantu harian Suara Merdeka dalam liputan komunitas mengenai skateboard.

Sebagai skater sekaligus fotografer, Wisang, Andi, dan Galih akan bercerita mengenai sejarah singkat dan perkembangan skateboarding di tanah air, perkenalan action shoot photography untuk skateboarding, aplikasi foto-foto di industri skate dan media, serta cerita mengenai Skate Day di Jogja yang telah berlangsung 21 Juni lalu.

CEPHAS Photo Forum Presentation Showcase: Roy Rubianto

Sabtu 26 Juni 2010
18.30 – 21.30 WIB
Angkringan YUK (Yayasan Umar Kayam)
Perumahan Sawitsari Blok I/3 Yogyakarta (lihat peta
)

© Roy Rubianto

Cephas Photo Forum presentation showcase Roy Rubianto

Cephas Photo Forum kembali menggelar presentasi dan diskusi foto. Kali ini, Cephas menghadirkan seorang rekan fotografer lepas dari agensi Jiwa Foto, Jakarta, Indonesia: Roy Rubianto.

Roy Rubianto adalah fotografer yang berbasis di Jakarta, Indonesia. 1997 dia bekerja di Antara, 1998 di Agence France Presse, dan 1999 menjadi kontributor Majalah Tempo. Pada 2001, Roy bergabung dengan agensi Jiwa Foto dan sejak itu dia meliput Asia untuk publikasi seperti Time Asia, Newsweek, Fareastern Economic Review (sudah gulung tikar), The Guardian, Sunday Time, agensi Bloomberg, agensi Zuma, Stern, Sydney Morning Herald, dan The Age.

Beberapa pamerannya di Jakarta:
“Stage and Portraiture” di Centre Culturel France (CCF) 1999, Our City Photo Exhibition “Jakarta Keras” di Galeri Foto Jurnalistik Antara 2000, dan ”L’oasis” (Garden) di CCF 2002.

Pada 2002, Roy mengadakan pameran foto tunggal “Intip” di CCF Jakarta dan mengikuti Photojournalistic Workshop and Symposium, Visa Pour L’image di Perpignan, Prancis.

http://www.lightstalkers.org/royrubianto

Budi Dharmawan memfoto ketoprak tobong

Budi Dharmawan menuliskan presentasinya tentang ketoprak tobong, 16 Juni 2010 lalu. Foto dan teks oleh Budi N.D. Dharmawan.

Saya pertama mengetahui ketoprak tobong kira-kira pada awal 2007, ketika melewati daerah Demak Ijo, Yogyakarta. Waktu itu saya cuma lewat dan berniat kembali suatu saat untuk memfoto. Sayangnya ketika beberapa waktu kemudian saya kembali ke sana untuk melaksanakan niat itu, ketoprak tobong sudah pindah dan saya tidak tahu ke mana mereka pindah. Saya pun mengurungkan niat saya.

Pertemuan saya dengan ketoprak tobong baru terjadi awal Mei 2010, ketika seorang teman mengajak saya mengunjungi mereka di daerah Pandak, Bantul. Ternyata malam itu pengelola ketoprak tobong mengumumkan bahwa ketoprak tobong terancam bubar karena ketidakmampuan ekonomi. Sejak malam itu saya bolak-balik ke sana untuk mendokumentasikan hari-hari terakhir mereka.

© Budi N.D. Dharmawan

Ketoprak tobong menempati lapangan Njodog, Pandak, Bantul, Yogyakarta. Foto: Budi N.D. Dharmawan

Ketoprak tobong Kelana Bakti Budaya berasal dari Kediri, Jawa Timur. Kelompok ini konon merupakan satu-satunya ketoprak tobong yang masih tersisa di daerah Yogyakarta–Jawa Tengah. Di Kediri sendiri sejauh yang saya dengar masih ada dua kelompok ketoprak tobong.

Lapangan Njodog, tempat mereka berpentas sekarang, merupakan tempat ketujuh yang mereka singgahi selama mereka berkeliling Yogyakarta sejak Oktober 2006. Mereka pernah menyinggahi daerah Cebongan, Sleman, daerah Gunung Sempu, Bantul, dan beberapa tempat lain, sejak mereka pindah dari Demak Ijo, lokasi yang mereka singgahi ketika pertama tiba di Yogyakarta.

© Budi N.D. Dharmawan

Panggung pentas juga merupakan tempat bermain anak anggota ketoprak dan tempat rapat penentuan peran sebelum pentas. Foto: Budi N.D. Dharmawan

Kembali ke pengalaman saya mengikuti hari-hari terakhir ketoprak tobong. Saya tidak semata-mata datang dan memfoto mereka. Sering kali saya bahkan ke sana tidak memfoto, hanya duduk dan mengobrol saja dengan mereka. Saya mendengarkan kisah-kisah mereka.

Banyak dari antara teman-teman ketoprak tobong yang mengatakan ingin terus bermain ketoprak. Mbak Min dan Mbak Rini ingin belajar merias dan menari gambyong untuk mendukung penampilan mereka di atas panggung. Banjir, Wiwin, dan Klowor (juga Joko dan Supri) sering membuat sendiri properti pentas. Beberapa menyatakan ingin belajar bahasa Jawa halus, masih di dalam rangka mendukung pentas yang lebih baik. Sayang kondisi ekonomi menghalangi mereka untuk dapat terus berpentas.

© Budi N.D. Dharmawan

Kiri: Wiwin dan Bandung berlatih adegan berkelahi, disaksikan Supri dan Riko. Kanan: Salah satu adegan pentas. Foto: Budi N.D. Dharmawan

31 Mei 2010, Kelana Bakti Budaya mengadakan pentas pamit mati di Alun-alun Selatan Keraton Yogyakarta. Mereka memainkan lakon Ranggalawe Gugur untuk melambangkan “kekalahan” mereka melawan perkembangan zaman dan mengejar kemajuan teknologi. Kesenian tradisional telah “ditaklukkan” oleh kesenian modern dan televisi.

© Budi N.D. Dharmawan

Pentas ketoprak tobong di panggung mereka di Lapangan Njodog (kiri) dan di Alun-alun Selatan Keraton Yogyakarta (kanan). Foto: Budi N.D. Dharmawan

Juni 2010 merupakan bulan terakhir Kelana Bakti Budaya menempati petak tanah di lapangan Njodog, Pandak, Bantul. Akan tetapi, mereka tidak pentas lagi. Selama sebulan terakhir, mereka hanya menunggu hari untuk membongkar panggung dan rumah mereka, untuk pindah ke lokasi yang baru. Pada perbincangan terakhir kami, mereka mengatakan bahwa mereka pasti pindah, karena izin untuk menempati lokasi sudah habis (dan kini mereka masih mencari dana untuk pindahan, yang menghabiskan kira-kira 15 juta rupiah). Akan tetapi, apakah mereka akan pentas lagi di lokasi baru nanti, memang masih menjadi tanda tanya….

Foto dan teks oleh Budi N.D. Dharmawan