Cephas Photo Forum Presentation: ENCOUNTERS by Rony Zakaria

presentation25-ronyzakaria

 

“The only constant in life is change. Through time one’s life changes, a city develops, a journey continues or ends. In the last six years I lived in and out of Jakarta, I collect snapshots as I became part of the big city, and also when I travel, unattached from the system temporarily. It is a continuing voyage of witnessing dreams and hopes, which sometimes one step darker, and the other time, lighter. As like looking through a glass window, all seems absurd and yet real as reality. And we differently kept collecting questions that seeks for answers, the ones that is right for each of us, so we can keep on living through these encounters.”

Cephas Photo Forum presents:
Encounters by Rony Zakaria – a visual monograph

Rony Zakaria graduated with a degree in Mathematics and Computer Science. He started his career as a photographer after finishing his studies at university. He studied photojournalism at Galeri Foto Jurnalistik Antara. In 2009 he studied as a fellow at Asian Center For Journalism in Manila Philippines.

Rony has received several awards for his works which includes NPPA Best of Photojournalism and Mochtar Lubis Award Grant.

He lives in Jakarta but continues to travel.

Encounters is his first monograph.

www.ronyzakaria.com

——

Friday, 05 April 2013,18.30
Rumah Kelas Pagi Yogyakarta
Jalan Brigjen Katamso, GM II/1226
Yogyakarta

This event is open for public and free. Encounters books are available to purchase at the event.

 

Familiar Faces oleh Dwi Putra: Melihat dan Mempertanyakan Kembali Keakraban

Ditulis oleh Kurniadi Widodo sebagai esai untuk pameran foto Familiar Faces oleh Dwi Putra di Lir Space, yang berlangsung dari tanggal 3 – 24 Maret 2013.

———

Sebuah senyuman lebar tersungging pada wajah yang menatap saya di sebuah foto portrait yang sedang saya amati. Dengan matanya yang membelalak, si pemilik wajah terlihat seperti begitu gembira melihat saya. Dan tanpa sadar, saya membalas senyuman itu. Tetapi setelah saya pikir-pikir, ekspresi itu mungkin sebenarnya hanyalah sebuah konfigurasi otot wajah yang terlihat seperti senyum. Saya tidak bisa terlalu yakin menilainya, karena walaupun ekspresi itu biasa terlihat pada rupa orang-orang yang saya temui sehari-hari, saya tidak sedang melihat foto yang menampilkan seorang manusia. Saya sedang melihat foto seekor tokek, dan saya sungguh tidak tahu apakah tokek bisa tersenyum.

© Dwi Putra

© Dwi Putra

Selain foto di atas, ada sekitar tiga puluhan foto binatang lain yang telah dibuat dan dikumpulkan fotografer muda Dwi Putra dalam pameran tunggalnya yang bertajuk Familiar Faces ini. Dengan jenis binatang yang bervariasi dan berwarna-warni, foto-foto ini begitu menyenangkan dan mudah untuk dilihat dan dinikmati. Tapi sebagaimana saya akhirnya berpikir ulang ketika melihat senyum si tokek, mengamati wajah-wajah lainnya di seri ini pun kemudian membuat saya bertanya-tanya, apakah Putra sekedar ingin menunjukkan pada kita tampang binatang-binatang ini? Saya menjadi tertarik untuk melihat lebih jauh dan membuka kemungkinan pembacaan lain di balik keindahan visual foto-foto ini.

Di Indonesia, salah satu negara yang memiliki keanekaragaman hayati paling tinggi di dunia (diperkirakan lebih dari 250.000 spesies fauna ada di sini), fotografi yang menampilkan maupun mengangkat isu-isu yang berkaitan dengan binatang malah secara ironis tidak terlalu banyak ragamnya. Satu pendekatan yang lazim digunakan di Indonesia dalam memotret binatang adalah fotografi wildlife, yang secara umum menunjukkan kehidupan berbagai spesies fauna di habitat aslinya yang tak terusik manusia. Fotografer Riza Marlon mungkin adalah contoh paling populer yang menggunakan pendekatan ini, yang dengan bukunya The Living Treasures of Indonesia (2010) menunjukkan hasil kerjanya selama 20 tahun keluar masuk hutan dan gunung untuk mendokumentasikan berbagai jenis fauna di Indonesia.

Pendekatan lain yang juga sering digunakan dalam memotret fauna adalah melalui koridor fotojurnalistik, yang biasanya menyorot isu-isu tentang binatang dalam interelasinya yang kompleks dengan manusia. Foto-foto jurnalistik yang mengedepankan fauna ini kerapkali menyuarakan advokasi untuk binatang-binatang yang dirugikan oleh aktivitas manusia. Seperti misalnya dalam projectnya Orangutan Rhymes and Blues (2012), pewarta foto Regina Safri membahas mengenai konservasi orangutan di Kalimantan yang kelangsungan hidupnya terancam oleh penebangan hutan besar-besaran untuk industri kelapa sawit. Namun juga tak perlu jauh-jauh untuk melihat konflik kepentingan antara manusia dan binatang; pada sebuah foto yang mendapat penghargaan 2nd prize singles untuk kategori Nature di ajang bergengsi World Press Photo 2013, pewarta foto Ali Lutfi menunjukkan Mimin, seekor monyet yang dilatih untuk beratraksi di persimpangan ramai di kota Solo, sebuah keadaan yang tidak sulit kita jumpai di kota-kota lainnya di Indonesia.

Dalam pendekatan wildlife dan fotojurnalistik di atas, binatang direpresentasikan secara apa adanya dalam foto-foto yang menyampaikan narasi yang berkaitan langsung dengan binatang yang ditampilkan. Namun saya juga menemukan ada beberapa pendekatan berbeda yang cukup menarik dalam fotografi Indonesia yang tidak menempatkan binatang sebagai pemeran utama dalam sebuah cerita, tapi memposisikannya sebagai simbol-simbol dalam kehidupan manusia, dengan fungsi dan tujuan tertentu. Rama Surya dalam seri fotonya Yogyakarta: Street Mythology (1998 – 2000) menjadikan binatang-binatang yang ia temukan dan ambil gambarnya di kota Yogyakarta sebagai simbol ekspresi kebebasan, terkait dengan perubahan politik Indonesia yang saat itu memasuki masa reformasi. Seniman foto Edwin Roseno memakaikan topeng binatang-binatang pada orang-orang yang berpose mengenakan pakaian atau kostum yang memiliki karakteristik sepadan dengan topeng yang mereka pakai dalam seri Animal Mask Collection (2008), merujuk pada dongeng dan fabel yang memiliki tokoh-tokoh hewan antropomorfis yang dikisahkan bersifat dan berkarakteristik layaknya manusia. Visual-visual fantastis dihadirkan oleh Agan Harahap dalam serinya Safari (2009) dan Garden Fresh (2012), yang dengan teknik digital imaging menghadirkan binatang liar ke dalam lingkungan buatan manusia seperti supermarket dan ruang perkantoran, mengomentari batasan antara manusia dan binatang yang bergeser pada lingkungan masa kini dan hubungan yang kompleks antara seni dan alam. Dalam contoh-contoh ini, imaji-imaji binatang tidak digunakan untuk menceritakan sesuatu tentang binatang itu sendiri, melainkan untuk mewakili sesuatu yang lain yang ingin disampaikan si pembuat karya.

© Dwi Putra

© Dwi Putra

© Dwi Putra

© Dwi Putra

 

 

 

 

 

 

 

Dalam tradisi representasi simbolik seperti itulah menurut saya Putra menempatkan foto-foto portrait binatangnya dalam seri Familiar Faces ini. Di sini, Putra memotret binatang-binatang yang sejatinya cukup mudah ditemukan di kehidupan sehari-hari, baik itu yang liar yang hidup di antara kita di lingkungan perkotaan maupun yang sudah didomestikasi sebagai hewan peliharaan atau sebagai hewan ternak. Tapi Putra tidak sedang membicarakan tentang kehidupan ayam, kucing, katak, tikus, maupun binatang-binatang lainnya yang ia tampilkan di seri ini. Ia semata menggunakan foto-foto ini untuk memaparkan gagasannya tentang bagaimana kita memandang para binatang tersebut.

Beberapa petunjuk mengenai gagasan Putra bisa kita telisik dari caranya memotret dan menyajikan foto-foto ini dengan metode yang sangat teratur dan rigid; setiap binatang praktis hanya ditampilkan kepalanya, secara tegak lurus, di depan latar belakang putih. Tiap foto disajikan dalam format persegi, dengan tiap binatang menempati luasan yang kurang lebih sama dalam bidang frame. Ada beberapa hal yang bisa saya baca dari sini:

Pertama, presentasi seri ini menunjukkan upaya penyeragaman yang sangat kentara dari subyek yang difoto oleh Putra, betapapun beragam dan bervariasinya mereka pada kenyataannya. Penempatan tiap subyek dalam porsi yang relatif sama besar dalam tiap frame berakibat munculnya ilusi bahwa semua binatang dalam seri ini memiliki ukuran yang sebanding. Seekor cicak, misalnya, terkesan menjadi berukuran sama dengan seekor kambing. Penyeragaman ini diperkuat dengan penggunaan teknik pencahayaan yang juga disamakan dalam tiap pemotretan, dan dihilangkannya informasi mengenai lingkungan dimana foto ini diambil yang telah digantikan dengan latar belakang putih. Penyamaan ini menyiratkan bahwa tidak ada satu subyek yang lebih penting dari subyek lainnya dalam seri ini.

© Dwi Putra

© Dwi Putra

© Dwi Putra

© Dwi Putra

 

Lebih jauh lagi, ketiadaan elemen lain dalam foto memaksa kita untuk hanya berkonsentrasi pada wajah tiap binatang, dan sebagai akibatnya saya mendapati beberapa hal menarik. Walaupun hewan-hewan ini sudah cukup sering saya lihat dan ketahui secara umum wujud utuhnya, tapi mungkin baru kali ini saya mengamati wajah-wajah mereka dalam kedekatan dan intensitas setinggi ini, dan karenanya ada sebuah kebaruan dalam pengalaman menatap seperti ini. Karena bekunya imaji fotografi, setiap detail raut dapat teramati secara seksama dalam waktu yang tak terhingga. Kumpulan detail-detail raut ini yang lalu membentuk semacam ekspresi yang bisa kita kenali karena telah kita lihat dan alami sebelumnya dalam interaksi kita dengan sesama manusia. Ini yang kemudian menjadi problematis, karena kita memproyeksikan pengalaman dan pengetahuan kita tentang rentang ekspresi manusia, ke makhluk-makhluk yang bukan manusia.

Studi-studi terakhir mengenai perilaku binatang telah mengkonfirmasi bahwa sebagian binatang mampu merasakan emosi-emosi primer seperti takut dan marah. Beberapa binatang bahkan diperkirakan dapat merasakan emosi sekunder seperti cemburu dan simpati. Akan tetapi, persofinikasi terhadap binatang tetap dianggap sebuah tabu dalam studi ilmiah. Peneliti selalu diwanti-wanti untuk hanya mengamati secara obyektif perilaku-perilaku hewan, dan tidak sampai berusaha menerjemahkan perilaku tersebut dengan memberikan atribut-atribut manusiawi pada mereka, karena kekhawatiran akan kesimpulan yang tidak akurat. Dengan kata lain, walaupun telah terbukti bahwa hewan bisa merasakan beberapa emosi yang sama dengan manusia, tidak berarti emosi-emosi tersebut akan ditunjukkan dengan ekspresi yang sama dengan yang ditunjukkan manusia.

© Dwi Putra

© Dwi Putra

© Dwi Putra

© Dwi Putra

Dengan demikian, seri Familiar Faces bukanlah sebuah pernyataan penuh kepastian dari Putra tentang binatang-binatang yang ia tunjukkan (“Lihatlah katak yang sedang merengut ini, musang yang sedang malu-malu itu!”), melainkan justru sebuah pertanyaan reflektif tentang perilaku manusia dalam melihat hal-hal di luar diri mereka, dalam hal ini binatang. Benarkah hal-hal yang kita anggap akrab ini memang sudah kita kenal dan seperti yang kita kira? Cermin-cermin yang memproyeksikan kembali pikiran-pikiran kita terhadap mereka ini pun lalu menjadi bersifat ironis: perhatikan bagaimana foto ini dibuat seperti layaknya potret-potret studio yang sering manusia pergunakan. Bahkan penyeragaman subyek-subyek yang berbeda pun mengingatkan pada praktek fotografi yang digunakan untuk kelengkapan tanda pengenal/identitas sang subyek yang terfoto. Selalu ada pihak yang berusaha ‘mengkatalogkan’ pihak lain dalam praktek seperti ini.

Ini bukan pertama kalinya Putra membuat karya fotografi yang menyentil permasalahan cara pandang dalam konteks interelasi binatang dan manusia. Lulusan Jurusan Komunikasi di Universitas Pembangunan Nasional Yogyakarta ini memang senang memotret binatang, apalagi ia memang menyukai mereka sejak kecil. Putra mengaku dirinya sebenarnya juga tertarik untuk memotret binatang dengan pendekatan fotografi wildlife dan sempat mencobanya, namun beberapa kendala membuatnya tidak bisa sepenuhnya berkomitmen di sana. Sebagai gantinya, ia mencoba untuk mengamati dan memotret binatang-binatang yang ada di sekitarnya dalam beberapa alternatif pendekatan.

Satu capaian yang menurut saya menarik adalah karya yang dibuat Putra untuk project Pameran Tugas Akhir sebagai siswa angkatan pertama di Kelas Pagi Yogyakarta. Dalam seri yang bertajuk Buaya Darat (Rumah Kelas Pagi Yogyakarta, 2011), terinspirasi oleh sebuah ungkapan sama dalam Bahasa Indonesia yang berarti lelaki yang suka bergonta-ganti pasangan atau playboy, ia menampilkan foto-foto buaya kecil peliharaannya bersama sebuah boneka Barbie telanjang dalam berbagai pose. Ada nada humor yang ternyata cukup kritis dalam karya yang berusaha menampilkan sebuah ungkapan secara literal ini. Ungkapan yang dibuat manusia untuk menyebut anggota spesiesnya yang berperilaku tertentu itu menggunakan seekor hewan yang pada kenyataannya justru sangat berlawanan dengan perilaku tersebut. Buaya dikenal sebagai spesies yang hanya kawin dengan satu pasangan sepanjang hidupnya. Dari sini kita bisa melihat bagaimana manusia terkadang (atau sering? selalu?) memandang binatang dengan caranya sendiri tanpa benar-benar mengetahui dan memahami bagaimana binatang yang ia pandang itu sesungguhnya.

Di sebuah karya lain, dikarenakan sudah adanya kesadaran akan cara pandang kita yang problematis terhadap binatang dari karya sebelumnya, Putra seakan tengah melakukan rekonsiliasi dengan berusaha memahami cara pandang binatang, walau ia melakukannya secara literal: ia mengalungkan sebuah kamera video mini pada musang peliharaannya dan membiarkannya merekam apapun sesuai gerak si musang. Tiga video hasilnya yang diberi judul Melihat Dari Sudut Pandang Binatang dipamerkan sebagai bagian dari workshop pameran Meminjam Mata dan Melihat Ruang oleh Yudha Kusuma Putera di Kedai Kebun Forum, Januari 2013 lalu.

© Dwi Putra

© Dwi Putra

© Dwi Putra

© Dwi Putra

 

Adanya keterkaitan dan kontinuitas dari karya-karya yang dibuat oleh Putra inilah yang sangat menarik bagi saya, yang membuat saya mengajaknya untuk memamerkan seri ini sebagai kelanjutan yang logis dari apa yang pernah ia pamerkan sebelumnya. Dengan tidak banyaknya praktisi fotografi di Indonesia yang konsisten dalam menggunakan perantara representasi binatang dalam menyampaikan gagasan-gagasannya, akan menarik untuk melihat apa lagi yang akan ia lakukan dengan sumber-sumber inspirasi unik yang ia miliki ini di masa mendatang.

Sebagai penutup, menarik juga untuk memahami bagaimana Putra mengaku tidak terlalu merencanakan adanya benang merah dalam karya-karyanya ini. Lagi-lagi, ini mungkin sebuah bukti bahwa setiap pengamat, dalam hal ini saya sebagai penulis, akan selalu memiliki bawaan pengetahuan dan pengalaman sebelumnya dalam mengamati segala hal, yang akan mempengaruhi cara pandangnya itu. Hanya dengan selalu menyadari inilah saya pikir kita baru bisa memulai untuk mencoba mendapat pemahaman yang sesungguhnya tentang siapa diri kita dan bagaimana relasi kita dengan semua hal yang ada di sekitar kita. Setidaknya, itulah yang bisa saya dapatkan dari mengamati karya-karya Dwi Putra. ∎

Regina Safri dan orangutan Kalimantan

Ditulis oleh Budi N.D. Dharmawan

Pameran foto Regina Safri "Orangutan Rhyme and Blues" di Bentara Budaya Yogyakarta, Januari 2013. Foto: Budi N.D. Dharmawan

Pameran foto Regina Safri “Orangutan Rhyme and Blues” di Bentara Budaya Yogyakarta, Januari 2013. Foto: Budi N.D. Dharmawan (Klik untuk perbesar gambar)

Pada akhir Januari 2013, di balai pameran Bentara Budaya Yogyakarta digelar pameran foto berjudul Orangutan Rhyme and Blues. Pameran yang dikurasi oleh Oscar Motuloh itu menampilkan 40 bingkai foto karya pewarta foto Regina Safri, atau Rere. Bersamaan dengan pameran yang sebelumnya telah diadakan di Jakarta (Galeri Foto Jurnalistik Antara, Oktober 2012) dan Surabaya (House of Sampoerna, November 2012) itu, Rere juga meluncurkan buku foto dengan judul yang sama, terbitan G.F.J.A., 2012. Karya ini merupakan projek terbarunya, yang dia kerjakan sejak akhir 2011 yang lalu.

Ditemui di tempat pameran, Rere bercerita tentang alasannya mengerjakan projek ini. Menjelang akhir 2011, media massa ramai pemberitaan mengenai pembantaian orangutan di Kalimantan (lihat arsip Kompas). Peristiwa mengenaskan itu menyentuh Rere, dan mendorong rasa ingin tahunya hingga berniat untuk melihat sendiri kondisi orangutan ke Kalimantan. Sebagai pewarta foto Kantor Berita Antara yang ditempatkan di Biro Yogyakarta, Rere perlu meminta izin kepada atasannya untuk melakukan liputan ke Kalimantan.

Setelah mendapatkan izin, tempat pertama yang dituju Rere adalah kantor Kementerian Kehutanan di Jakarta untuk meminta kontak organisasi konservasi orangutan yang ada di Kalimantan. “Ada banyak sekali organisasi yang bergerak di sana. Saya tanya mana yang paling besar, mereka bilang B.O.S. (Borneo Orangutan Survival Foundation),” kata Rere.

Berbekal daftar kontak tersebut, Rere pun pergi-pulang Jawa–Kalimantan sebanyak tujuh kali sejak Desember 2011 hingga Juli 2012. “Perjalanan pertama adalah yang termahal,” kenang Rere, “karena belum punya kontak, jadi mesti menelepon sana-sini, bayar hotel, sewa mobil untuk ke hutan.”

Pada perjalanan pertamanya, Rere menghabiskan tiga hari di Balikpapan, Kalimantan Timur. Dua hari habis untuk menelepon sana-sini, hingga akhirnya bertemu petugas Balai Konservasi Sumber Daya Alam (B.K.S.D.A.) Kaltim dan mendapatkan surat rekomendasi untuk melakukan liputan. Esoknya, hari terakhirnya di Balikpapan, Rere berangkat ke fasilitas B.O.S. di Samboja, Kutai Kartanegara, yang berjarak kira-kira dua jam perjalanan (±50 km) dengan mobil sewaan.

© Regina Safri

© Regina Safri

© Regina Safri

© Regina Safri

“Sampai Kutai, mereka (B.O.S.) tidak menanyakan surat rekomendasi itu. Mereka cuma memberi syarat tes kesehatan. Masalahnya, tes kesehatannya di Balikpapan, jadi aku mesti kembali ke Balikpapan untuk tes, lalu ke Kutai lagi,” tukas Rere. Setelah menjalani tes darah, tes ludah, dan tes sinar Rontgen, Rere dinyatakan sehat dan dapat masuk ke dalam fasilitas B.O.S. Tes kesehatan mutlak perlu, karena penyakit manusia dapat dengan mudah menular ke orangutan.

Tidak mau menghabiskan waktu, Rere segera mulai memfoto, karena mesti cepat-cepat kembali ke Balikpapan untuk terbang pulang ke Yogyakarta sore itu. Mengenang saat itu, Rere bercerita, “Ketika melihat tatapan mata orangutan, aku merasa seolah dia bicara kepadaku; seperti minta tolong. Oleh karena itu, aku semakin yakin untuk membuat sesuatu, tidak semata-mata liputan saja. Pameran dan buku ini adalah janjiku kepada orangutan.”

B.O.S. memiliki fasilitas sekolah dan klinik orangutan. Di sekolah, orangutan yang diselamatkan dikenalkan kembali keterampilan hidup di hutan: mengenali tumbuhan atau hewan yang bisa dimakan dan bagaimana cara memakannya, bagaimana memanjat pohon, dan sebagainya. “Mereka mesti diajari karena orangutan yang diselamatkan ini kebanyakan masih anak-anak, induknya sudah mati dibantai atau kena kebakaran hutan,” kata Rere.

“Padahal, anak orangutan sangat bergantung pada induknya hingga berusia tujuh tahun, untuk belajar macam-macam keterampilan itu,” lanjut Rere. “Di sekolah, tugas induk itu digantikan mbak-mbak pengasuh. Mereka dengan telaten marawat orangutan, memberi makan, mengajak jalan ke hutan, bahkan menemani tidur, ya persis induknya lah.”

© Regina Safri

© Regina Safri

Januari 2012, Rere melakukan kunjungan kedua. Kali ini, Rere menuju fasilitas B.O.S. di Nyaru Menteng, 28 km dari Palangka Raya, Kalimantan Tengah. Sempat kembali ke Yogyakarta, awal Februari 2012, Rere kembali ke Samboja untuk kunjungan ketiga. Dari situ, Rere sempat naik bus ke Palangka Raya, lalu kembali ke Samboja lagi, sebelum kemudian pulang ke Yogyakarta. Rere kemudian memutuskan untuk lebih banyak menghabiskan waktu di Nyaru Menteng, karena orangutan di sana lebih banyak (ada 600-an) daripada di Samboja (ada 200-an).

Pada Februari 2012, Rere untuk kembali meninggalkan Yogyakarta menuju Nyaru Menteng selama lima hari. Begitu pulang dari perjalanan keempatnya itu, Rere dihubungi petugas B.O.S. dan diberi tahu akan dilakukan pelepasliaran di Nyaru Menteng. Rere pun segera berangkat lagi pada Maret 2012. Di Bandara Tjilik Riwut, Palangka Raya, staf B.O.S. sudah menunggu Rere dan langsung membawanya naik pesawat kecil twin otter ke Puruk Cahu. Dari situ mereka kemudian naik perahu ke Hutan Lindung Bukit Batikap untuk menyaksikan pelepasliaran orangutan.

Pelepasliaran ini merupakan peristiwa penting, baik bagi Rere sebagai pewarta foto, bagi B.O.S. sebagai organisasi pelestarian orangutan, dan bagi orangutan sendiri. Peristiwa ini adalah pelepasliaran pertama orangutan sejak B.O.S. mulai berkarya pada 1991. Ini juga kali pertama orangutan dilepasliarkan, karena organisasi lain tidak memiliki sumber daya yang cukup untuk melepasliarkan, sehingga mereka hanya dapat menyelamatkan dan merawat orangutan. Untuk melepasliarkan orangutan, B.O.S. membeli hak guna hutan dari pemerintah Indonesia dengan harga yang sangat mahal menggunakan uang sumbangan dari luar negeri.

Baru sepekan di Yogya, pada April 2012 Rere berangkat lagi ke Kalimantan untuk kali keenam. Rere ditelepon oleh B.O.S. Samboja yang juga memintanya untuk mendokumentasikan proses pelepasliaran di Samboja. Seperti di Palangka Raya, di Bandara Sepinggan, Balikpapan, juga sudah ada staf B.O.S. yang menunggu Rere untuk membawanya dengan mobil ke Hutan Kehje Sewen. “Perjalanan itu memakan waktu tiga hari tiga malam, dan selama itu sepanjang jalan yang kami lewati sawit semua,” kenang Rere.

© Regina Safri

© Regina Safri

Di sinilah masalah bermula, yang membuat Rere tergoda untuk datang ke Kalimantan, melihat sendiri kondisi orangutan. Makhluk yang 97% DNA-nya mirip manusia ini kian terpinggirkan dari hutan tempat mereka tinggal karena hutan sudah dibabat untuk ditanami sawit, selain juga karena tambang. Ketika orangutan masuk perkebunan sawit, pekerja perkebunan membantai mereka, bahkan mendapat uang untuk itu—satu orangutan terbunuh dihargai sekitar Rp 1 juta.

Setelah mengendarai mobil selama tiga hari, mereka meneruskan dengan berjalan kaki, karena mobil tidak bisa masuk hutan. “Saya bukan anak Mapala (Mahasiswa Pencinta Alam), jadi ini tantangan berat bagi saya. Berjalan jauh, naik-turun tebing, melewati sungai. Di hutan, badan saya ditempeli pacet banyak sekali, itu seram bagi saya,” cerita Rere. Keluar hutan, mereka bisa naik mobil lagi, sampai memasuki hutan berikutnya, mereka kembali berjalan kaki. “Kami tinggal di dalam hutan kira-kira seminggu.”

Pulang ke Yogyakarta, Rere ingin beristirahat karena perjalanan terakhir itu sungguh melelahkan. Pelepasliaran orangutan memang sengaja dilakukan di tempat yang sulit dijangkau agar orang tidak mudah datang dan membunuh orangutan. Setelah enam kali bolak-balik ke Kalimantan, uang tabungan Rere mulai menipis. Rere juga menjual barang-barang di kamar kosnya, termasuk salah satu dari dua kameranya, untuk membiayai perjalanannya.

© Regina Safri

© Regina Safri

© Regina Safri

© Regina Safri

Pertengahan 2012, Rere ke Jakarta untuk bertemu dengan Oscar Motuloh. “Aku bilang sama Bang Oscar, uangku habis, cuma bisa ke Kalimantan satu kali lagi. Jadi, aku minta dia melihat foto-fotoku, apa yang kurang, supaya aku lengkapi di perjalanan terakhirku.” Berbekal daftar dari Oscar itu, pada Juli 2012, Rere berangkat ke Kalimantan untuk kali ketujuh. Rere menuju ke Nyaru Menteng dan tinggal di sana selama lebih-kurang dua pekan untuk melengkapi foto-fotonya.

Kembali ke Yogyakarta, Rere mulai melihat kembali dan menyusun foto-fotonya. Waktu itu, Rere tidak membayangkan, bahwa pameran dan buku foto ini akan diproduksi Antara. Selama puasa, setiap kali selesai tarawih hingga menjelang sahur, Rere mencoba membuat dummy sendiri. “Aku tidak menguasai aplikasi desain, jadi aku bikin dengan sederhana seperti menulis skripsi.”

Pada pekan terakhir puasa, Oscar menelepon Rere, menawari pameran di G.F.J.A., Jakarta. Rere mengiyakan dengan girang. Oscar mendorong Rere untuk segera berpameran, karena mesti mengejar momentum pelepasliaran pertama orangutan. “Bang Oscar bilang, kalau pameran tahun depan, isunya sudah basi.”

Selepas Idul Fitri, Rere ke Jakarta untuk bertemu lagi dengan Oscar. Rere minta pameran ini dibuat buku, tidak cuma katalog. Rere juga menunjukkan dummy yang sudah dia buat. “Bang Oscar setuju, tapi dia bilang dummy yang aku buat desainnya berantakan,” kata Rere sambil tertawa. Akhirnya, buku didesain ulang, dan Oscar membantu mengumpulkan sumbangan dari teman-temannya untuk membiayai pameran dan pembuatan buku ini.

© Regina Safri

© Regina Safri

Semangat Rere ini yang saya kagumi. Di tengah berbagai keluhan di dunia fotojurnalisme profesional, terkait krisis ekonomi yang membuat sejumlah media berita gulung tikar dan perkembangan dunia fotografi awam masa kini yang membuat semua orang bisa menjadi jurufoto, Rere masih menyimpan cita-cita yang besar. Fotografi dengan misi; tidak hanya untuk memuaskan editor atau mendapatkan uang.

Sekadar memberi contoh, tanpa bermaksud membandingkan, saya teringat kisah perjalanan yang dilakukan oleh ekolog Michael Fay dan jurufoto Michael “Nick” Nichols pada 1999–2000, mendokumentasikan keragaman hayati hutan hujan tropis Afrika Tengah (baca [1], [2], dan [3]). Ekspedisi Megatransect sejauh hampir 3000 km itu mereka tempuh dengan berjalan kaki selama lebih dari 450 hari. Menjelang akhir perjalanan, Fay dan Nichols bertemu Presiden Gabon. Melihat foto-foto yang dibuat Nichols, Sang Presiden terkejut, “Ini semua ada di negara saya?” Lepas itu, Sang Presiden menetapkan dibentuknya 13 taman nasional baru untuk melindungi hutan di negerinya.

Kembali kepada cerita Rere, kendati kisah yang dibawakan pameran ini sesungguhnya tragis (pembabatan hutan, pembantaian orangutan, penyelamatan orangutan sulit dan mahal), banyak pengunjung justru menyukai betapa lucunya bayi-bayi orangutan yang difoto Rere. Memang di dalam pameran hampir tidak ada foto kerusakan hutan dan hanya ada satu foto perkebunan sawit, sementara foto bayi orangutan bertebaran di galeri pameran. Dengan rendah hati, Rere menjelaskan bahwa dia pun merasa belum cukup intim dengan subjek ini, karena kurang lama mengerjakannya. “Tentu ada orang lain yang bisa bikin ini dengan lebih bagus, namun sekurang-kurangnya aku sudah berbuat. Ini janjiku kepada orangutan.”

Di dalam janjinya itu, Rere pun mengemban sebuah misi, yaitu untuk membantu meningkatkan kesadaran masyarakat mengenai keadaan kritis orangutan dan hutan di Kalimantan. Di dalam setiap pameran, Yogyakarta adalah yang ketiga, Rere selalu menggelar diskusi untuk menceritakan pengalamannya dan kondisi orangutan. Kini, Rere juga tengah menjajaki kemungkinan menyebarluaskan informasi soal kritisnya orangutan dan hutan Kalimantan ke sekolah-sekolah. “Anak-anak sekolah perlu tahu soal kerusakan hutan, dan perlu tahu bahwa kerusakan hutan, atau misalnya kepunahan orangutan, di Kalimantan bisa berdampak terhadap kehidupan kita di Jawa.”

Sebagaimana Rere akui sendiri, foto-fotonya barangkali memang bukan yang terbaik. Akan tetapi, sekurang-kurangnya dia sudah berbuat, daripada menunggu menjadi yang terbaik namun tidak pernah berbuat apa-apa. Untuk itu, saya kagum dan iri kepada Rere.

“Sebetulnya aku mau meneruskan projek ini. Aku masih ingin ke Tanjung Puting, juga memfoto orangutan Sumatera, yang berbeda dari orangutan Kalimantan. Akan tetapi, uangku sudah habis,” pungkas Rere.

Regina Safri. Foto: Budi N.D. Dharmawan

Regina Safri. Foto: Budi N.D. Dharmawan

Regina Septiarini Safri lahir di Jakarta, 23 September 1983. Orangtuanya berasal dari Padang, Sumatera Barat. Keluarganya pindah ke Cilacap, Jawa Tengah, ketika Rere berusia empat tahun, dan masih tinggal di sana hingga kini. Rere pindah ke Yogyakarta sejak belajar Ilmu Komunikasi di Universitas Pembangunan Nasional “Veteran” Yogyakarta. Niat awalnya mempelajari kehumasan berubah ketika dia mengenal dunia jurnalisme, khususnya fotojurnalisme.

Pada 2004, Rere magang di Kantor Berita Antara di Jakarta dan banyak belajar dari pewarta foto senior Antara, Saptono. Setelah menyelesaikan studinya dengan skripsi tentang semiotika foto Oscar Motuloh pada 2005, Rere sempat bekerja sebagai pewarta foto untuk Majalah Kabare di Yogyakarta. Setelah itu, Rere bekerja sebagai pewarta foto kontrak untuk Kantor Berita Antara Biro Yogyakarta hingga kini. Pada 2011, Rere menulis buku pertamanya, Membidik Peristiwa Menjadi Berita. Orangutan Rhyme and Blues adalah bukunya yang kedua.

Budi N.D. Dharmawan adalah jurufoto independen, tinggal di Yogyakarta. Pada 2010, bersama tujuh orang jurufoto muda lainnya, Budi mendirikan Cephas Photo Forum di Yogyakarta. ∎